Pipp
Pipp
Jennie menoleh ke arah pintu apartemen kala mendengar suara seseorang yang tengah menekan password.
Jennie mempersiapkan posisinya seolah olah akan menyerang orang tersebut.
Ceklek
"Aigoo" ujar Lelaki itu saat Jennie langsung meloncat untuk memeluknya.
Untung saja, dirinya bisa menjaga keseimbangan.
Jennie tersenyum lebar lalu menutup pintu setelah turun dari pelukan pira itu.
Pria itu bernama Daniel. Lelaki yang imut, gentle dan menjadi sangat dingin saat marah.
"Kamu ga ada kelas?" tanya Daniel
Jennie menggeleng,"Ada cuman dosennya mau operasi jadi di batalin"
"Oo gitu"
"Udah makan?" tanya Jennie
Daniel menggeleng,"Belum"
Jennie tersenyum lebar,"Kebetulan aku masak, ayo makan"
"Bentar ya aku mandi dulu" ujar Daniel lalu menepuk kepala Jennie sebelum pergi ke atas.
Selama menunggu kedatangan Daniel, Jennie memanaskan masakannya di dalam oven.
Ting
Makanan terakhir selesai di panaskan, dan tak lama dari itu Daniel turun dari atas dengan rambut basahnya.
"Wah banyak banget kamu masak" ujar Daniel saat melihat banyak makanan di meja makan.
Jennie menoleh lalu tersenyum,"Mama kamu tadi ga sempat masak kan? Jadi aku sekalian masakin"
Daniel bukan tinggal sendirian di sini, dia tinggal di sini bersama kedua orang tuanya.
Daniel tersenyum lalu duduk di depan Jennie,"Makasih ya"
Jennie mengangguk lalu memberikan Daniel sepiring nasi.
"Rambut kamu kenapa basah banget? Ga di lap dulu?" tanya Jennie
"Sengaja, biar kamu yang lap" ujar Daniel
Jennie terkekeh,"Ya udah nanti ya, selesai makan"
Sekarang mereka udah di ruang tamu. Daniel duduk di lantai dan Jennie yang duduk di sofa, pas di belakang Daniel.
"Handuknya mana?" tanya Jennie
Daniel memberikan handuknya lalu membiarkan Jennie mengelap rambutnya.
"Nah, udah" ujar Jennie kemudian
Daniel kemudian bangkit dari duduknya lalu tiduran di paha Jennie sebagai bantalan.
Jennie mengeluarkan ponselnya lalu mulai memakinkannya, begitu pula dengan Daniel yang sudah bermain game.
"Yang" panggil Daniel
"Hm?"
"Coba liat ke sini" pinta Daniel
Jennie memindahkan pandangannya dari ponsel ke Daniel,"Kenapa?"
Daniel tersenyum,"Cantik"
Jennie terkekeh lalu meraup wajah Daniel kasar,"Makasih ganteng"
Daniel tersenyum lalu mencubit hudung Jennie gemas.
"Bosen deh aku" ujar Daniel lagi
"Sama" ujar Jennie
"Enaknya ngapaiin ya?" guman Jennie
Jennie melihat ke arah sekitar sembari berpikir tentang apa yang harus mereka berdua lakukan. Sedangkan Daniel memperhatikan Jennie.
Tak lama dari itu, pintu apratemen kembali terbuka. Kali ini menampilkan kedatangan ibu Daniel.
Dengan segera Jennie mendorong kepala Daniel dan berlari kecil untuk memeluk ibunya.
"Bundaaa, apa kabar? Ih Jennie kangen" ujarnya
Bunda Daniel terkekeh lalu membalas pelukan Jennie,"Bunda juga kangen sama Jennie"
"Bunda habis dari mana?" tanya Jennie lagi
"Biasa, arisan"
Jennie mengangguk paham,"Bunda udah makan dong?"
Bunda Daniel menggeleng,"Belum, ga sempat. Ini bunda mau masak"
"Ih ga usah, Jennie ada masak tadi. Ayo bunda makan" ajak Jennie
Daniel hanya tersenyum melihat interaksi dari kedua orang yang dia sayangi. Adem aja rasanya.
"Loh, ada Daniel toh. Bunda ga liat"
Yah, walaupun resikonya dia jadi tidak terlihat.
"Udah dari tadi bun" ujar Daniel
Bunda terkekeh,"Maaf deh, bunda ga liat"
"Ya udah bunda makan dulu ya, laper" ujarnya lalu berjalan ke meja makan.
Jennie hendak menyusul kala Daniel dengan sengajanya berdehem keras.
"Ekhem"
Jennie menoleh lalu terkekeh, dia menghampiri Daniel lalu mengecup pipinya cepat,"Bentar ya, aku mau ngobrol sama bunda dulu"
"Bunda mulu" cibirnya
"Ih, kan aku udah lama ga ketemu"
Daniel memutar bola matanya malas,"Ya udah iya"
Jennie tersenyum lalu memeluk Daniel singkat,"Bentar ya sayang"
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
See you at bonus 12 💕💕
KAMU SEDANG MEMBACA
Jennie Boyfriend
FanfictionCerita ke uwuan Jennie bersama para pacar. Setiap chap beda alur ya. Iya oneshoot.
