"Makanan sudah datang." Ucap Seungcheol seraya membawa mampan makanan.
Jennie menyambut makanan itu dengan riang, "Akhirnya, aku udah laper."
Seungcheol tersenyum menaruh nampan di atas meja dan memberikan pesanan Jennie di depannya.
"Mau di foto dulu?" Tanya Seungcheol
"Wajib" Tegas Jennie
Seungcheol membantu menyusun piring mereka agar tataannya lebih bagus.
"Ga gelap?" Tanyanya kemudian
"Enggak kok, udah bagus."
Selesai memotret, kini keduanya mulai menikmati makanan mereka.
Di sela sela makan itu, Jennie tiba-tiba terdiam. Ia teringat akan kenangan masa lalu mereka. Lebih tepatnya hari pertama mereka berjumpa. Pada saat itu, Jennie sama sekali tidak mempedulikan Seungcheol. Lebih tepatnya, ia menyerah untuk menyukai seseorang.
Bukan karena dia adalah korban selingkuh atau apapun itu. Dia hanya terlalu sulit untuk menyukai orang lain. Tentu saja Jennie pernah mencoba untuk membuka hatinya. Tapi semuanya percuma, tidak ada hasilnya.
Hanya Seungcheol lah yang berhasil membuatnya jatuh sejatuh-jatuhnya. Sifatnya yang bertanggungjawab, pandai mengendalikan emosi, dewasa, perhatian, pengertian, menjadi sosok rumah yang nyaman, dan seseorang yang akan tetap di sisimu apapun yang terjadi.
Perlu Jennie akui pacarnya ini memang mudah emosi. Tapi alih-alih marah atau menggunakan kekerasan, ia akan membawa emosinya itu dengan bercanda.
Dan itulah yang buat Jennie jatuh hati padanya. Cowok kaya gini ga mungkin Jennie sia-siain dong. Apalagi lelaki ini serius. Alias tidak main main effort nya.
"Yang, aku bersyukur banget jadi pacar kamu." Kata Jennie menatap Seungcheol.
Seungcheol menghentikan makannya, menaruh sendoknya dan menatap Jennie,"Kenapa tiba-tiba, hm?"
Jennie menggeleng,"Gapapa, aku cuman mau kamu tau. Aku bener bener bersyukur banget bisa kenal dan pacaran sama kamu. Aku senang aku jatuh cinta pada lelaki yang benar."
Seungcheol berdiri, memindahkan piringnya yang awalnya ada di seberang Jennie menjadi di sebelahnya.
"Lagi dapet ya?" Tanyanya lembut seraya mengelus rambut Jennie pelan. Takut merusak rambut yang sudah gadisnya itu rapikan selama berjam jam.
Jennie lagi lagi menggeleng namun kali ini matanya mulai berkaca kaca.
Seungcheol memeriksa kalender pada ponselnya dan menyadari, rupanya gadisnya sudah mau datang bulan.
"Aku memang ga tau apa yang bikin kamu pikir kaya gitu. Tapi aku senang kalau aku bisa memberikan dampak yang positif ke kamu." Seungcheol mencubit pipi Jennie pelan.
"Kamu itu terlalu merendah tau! Cowo kayak kamu itu langka, bener bener langka. Bahkan lebih langka dari badak bercula satu."
Seungcheol terkekeh,"Oke oke, nah sekarang ayo makan dulu. Kamu tadi bilangnya laper kan? "
Jennie mengangguk,"Habis ini ke YSL ya, make up aku habis."
"Anything for you princess."
Jadi, sudahkah kalian jatuh cinta pada lelaki ini?
Selesai dengan segala urusan, sekarang Jennie dan Seungcheol cuman lagi keliling mall saja.
"Mau mandu." Kata Jennie dengan kedua tangan yang memeluk lengan Seungcheol dan pipi yang ia tempelkan pada bahu kekarnya.
Seungcheol menoleh dan dengan segera membuang muka. Kedua pipi bagian dalamnya ia gigit keras, ini terlalu gemas.
"Dimsum aja mau?" Tanya Seungcheol setelah lebih tenang.
"Boleh"
"Masih bisa makan? Tadi kan baru jajan."
"Pesen aja dikit, nanti kita bagi dua."
"Ujung ujungnya juga aku yang habisin."
"Enggak kok, nanti aku ga bagi ke kamu ya!" Ancamnya.
"Ya udah kamu yang bayar sendiri."
"Kamu ngomong seolah olah kita ga pernah split bill ya!"
Seungcheol hanya terkekeh,"Iya iya, ayo mau makan yang mana?"
"Yang di sana aja, enak."
"Oke ayo."
"Yang"
"Hm?"
"Kenyang"
"Dasar"
KAMU SEDANG MEMBACA
Jennie Boyfriend
FanfictionCerita ke uwuan Jennie bersama para pacar. Setiap chap beda alur ya. Iya oneshoot.
