Jennie menatap datar pada sosok yang menjadi klien sekaligus mantan teman sekelasnya ini dengan tajam. Beda dengan tatapan Jennie yang terkesan serius, pemuda di seberangnya ini malah sangat santai, terbukti dari caranya duduk dengan sebatang rokok di sela sela jarinya dan secangkir kopi yang sedang di minumnya.
Jennie mengendus,"Permisi pak, jika kau mengira pertemuan ini hanya main main saja, lebih baik kau pergi. Saya memiliki banyak klien lain selain anda"
Jaewon terkekeh,"Udah gue bilang berapa kali Jen, santai aja sama gue. Lagian kita seumuran kan. Lo ga usah seformal itu."
"Jaewon, saya di sini untuk membantu anda. Saya ada di pihak anda, jadi jika kau tidak mau mengatakan apapun seperti ini, maka tidak ada yang bisa saya lakukan" jawab Jennie sedikit menggerutu.
Jaewon tersenyum,"Aduh ibu pengacara ini, serius banget sih? Gue ga bersalah itu intinya."
Jennie berdecak malas,"Apa yang anda lakukan pada hari itu, pukul satu siang?"
Jaewon berpikir sejenak,"Ngeliat foto foto dulu, waktu zaman SMA dan gue baru sadar ada cewek secantik lo di kelas. Ah sayang banget gue baru tau, kalau ga kita pasti udah pacaran."
Jennie memejamkan matanya menahan emosi,"Saya serius Jaewon."
"Gue juga, ayo nikah."
Jennie menghela nafas,"Jaewon, jangan pancing emosi ya."
Jaewon terkekeh, dia memajukan tubuhnya dan menaruh kedua siku di atas meja,"Pancing perasaan lo aja gimana?"
Jennie berdecak,"Ada yang bisa membuktikan alibi lo?" tanya Jennie kembali ke topik.
Jaewon mengedikkan bahu,"Gue sendirian."
"Anda dimana pukul dua?"
"Gue lagi otw ke rumah korban"
"Untuk apa anda ke sana?"
Jaewon mengulum bibir,"Mau ngobrol doang, udah lama ga ketemu."
"Sesampainya disana, apa anda melihat sosok yang mencurigakan?" tanya Jennie mencatat beberapa dugaannya.
Jaewon menggeleng,"Waktu gue sampai, ga ada orang yang nyaut panggilan gue. Jadi ya, gue masuk aja, eh tau taunya dia udah ketusuk dan darah dimana mana"
Jennie memicingkan matanya,"Dari mana anda tau, dia di tusuk?" karna dari data yang Jennie terima, alat penyerangannya di temukan jauh dari rumah korban.
Jaewon tersenyum tipis,"Gue di tahan sebagai saksi, jadi gue denger semua"
Jennie mengangguk paham,"Oke, ada lagi yang mau lo ceritain?"
Jaewon mengangguk,"Gue mau cerita, tentang gimana kisah kita nanti ke anak anak kita."
Jennis mengendus kesal,"Pintu keluar di sebelah sana."
Jaewon terkekeh,"Iya ibu pengacara. Gue ramal, kita bakal ketemu lagi nanti, di tempat kejadian. Karna lo tau, gue ga terima di tuduh sebagai pelaku di sini. Gue bakal selidikin kasus ini,sendiri."
Setelahnya, Jaewon bangkit dari duduknya dan meninggalkan ruangan.
"Apa kalian menemukan sesuatu yang baru?" tanya Jennie kepada tugas forensik yang ada di sana.
Petugas itu menggeleng,"Sejauh ini, kami tidak menemukan apapun."
Jennie mengangguk,menatap ke sekitar untuk mengamati lokasi kejadian. Jennie meringis dalam hati melihat bekas bercak darah masih di biarkan di sana tanpa di bersihkan.
Namun, Jennie menemukan sesuatu yang sedikit memantulkan cahaya dari sana. Dengan perlahan, Jennie berjalan mendekat, dan seringainya muncul detik itu juga.
KAMU SEDANG MEMBACA
Jennie Boyfriend
FanfictionCerita ke uwuan Jennie bersama para pacar. Setiap chap beda alur ya. Iya oneshoot.
