[BONUS 35] Wonwoo

523 65 8
                                        

"Wonu"

"Hmm? Kenapa cantik?"

Jennie, si cewek yang dipanggil cantik itu tidak menjawab. Ia hanya berbaring di atas tempat tidur dan menatap lurus ke langit langit kamar. Ponselnya ia biarkan tergeletak di sampingnya dengan kondisi habis baterai. Ia terlalu malas untuk bangkit dan mengisi daya ponselnya.

"Wonu"

"Iya sayang?"

"Wonu"

"Disini cantik."

"Wo-"

"Sekali lagi aku cium."

"Sini cium." Jawab Jennie dengan bibir yang ia majukan.

Wonwoo beranjak dari posisinya, meninggalkan sejenak game masak masak yang sedang ia mainkan di PC seharga mobil itu dan menghampiri gadisnya.

Wonwoo menatap Jennie yang masih setia memajukan bibirnya. Tersenyum sebelum berjongkok di samping kasur dan mencium pipinya.

"Kok pipi?!" Protes Jennie tidak senang

Wonwoo terkekeh, meraih belakang leher gadis itu sebelum menghujani wajah cantiknya dengan ciuman.

"Jangan kiss mark!" Tegas Jennie kala pria itu mulai mencium lehernya.

Wonwoo terkekeh, mengecup ringan lehernya dan diakhiri dengan mengacak surai gadis itu.

"Kan kamu yang minta."

Jennie berdecih,"Pelayanannya buruk banget, di minta apa di kasih apa."

"Tapi suka kan?"

"Opsional"

Wonwoo terkekeh lagi sebelum kembali duduk di depan PC setelah mengusap surai gadis itu.

"Pengen deh jadi game, kamu prioritasin."

Wonwoo menaikkan satu alisnya,"Kata siapa? Prioritas aku itu kamu."

"Masa?"

"Kalau aku hapus game kamu gimana?"

"Kalau aku buang make up kamu gimana?"

"Kok gitu? Make up itu mahal."

"Game juga mahal, bahkan lebih mahal."

Jennie menatap Wonwoo dengan mata tajamnya,"Katanya prioritas kamu aku, gimana sih."

"Prioritas itu artinya aku menomor satukan kamu sayang, mau aku lagi main game pun kalau itu tentang kamu ga bakal aku abaiin. Mau aku ikut lomba dan aku bakal juara satu pun, kalau soal kamu bakal aku lewatin. Lomba bisa ikut lagi, kalau kamu itu ga ada duanya. Kalau kelewatan ga bisa cari lagi."

Jennie mengigit pipi bagian dalamnya untuk menahan senyum. Meskipun jika ia tersenyum lelaki itu tidak akan sadar karna sedang menatap layar monitor.

"Yang ambilin charger dong." Pinta Jennie kemudian.

"Dimana?"

"Ga tau aku lupa. Kayaknya di sofa depan."

"Bentar." Wonwoo lagi lagi meninggalkan gamenya begitu saja untuk mencari charger.

Melihat itu Jennie bangkit dari ranjang dan dengan segera menduduki kursi gaming milik kekasihnya.

"Main apa sih serius amat." Gumamnya

"Apasih masak masak doang."

....

"Seru juga."

Wonwoo kembali ke dalam kamar hanya untuk mendapati kekasihnya yang menguasai komputer gaming miliknya. Dia terdiam di belakang kursi membiarkan kasihnya untuk bermain dengan tenang.

"Ih apaan sih, ga sabar banget jadi customer." Kesal Jennie karna emoticon yang ada di atas kepala karakter itu berubah menjadi merah.

"kamu juga gitu, sayang." Jawab Wonwoo mengelus kepala Jennie pelan.

Jennie hanya melirik sejenak,"Abis lama."

Wonwoo terkekeh, dia menaruh charger HP di atas meja dan menarik kursi. Ia menarik Jennie hingga berdiri mengeser gadis itu agar sedikit menjauh agar ia bisa duduk di kursi kebesarannya.

"Sini" Kata Wonwoo menepuk pahanya.

Tanpa menjawab apapun, Jennie menuruti perkataan pria itu dan duduk di pangkuannya.

"Aku mau main lagi." Kata Jennie

"Ya udah sana main." Wonwoo menaruh dagunya di atas bahu Jennie.

"Seru kan?"

"Not bad"

Jennie yang fokus pada permainan didepannya berpura-pura tidak peduli ketika ia merasa ada tangan yang menyelinap ke belakang bajunya.

Wonwoo di belakang sana menghangatkan tangannya yang terasa dingin pada pinggang ramping gadis itu. Kedua matanya memang melihat komputer tapi dalam hatinya dia juga ingin memainkan game yang lain.

"Sayang"

"Hem?"

"Masih mau main?"

"Kamu mau main game yang lain?" Tanya Jennie balik

"Iya, boleh?" Melasnya

Jennie melepaskan tangannya dari perlatan komputer Wonwoo,"Boleh, main aja tapi aku mau disini."

"Anything for you."

Jennie tersenyum puas mendengar balasan Wonwoo. Kedua lengan kekar pria itupun melewati tubuh sampingnya. Pinggangnya yang tadi terasa dingin sekarang sudah biasa saja.

Jennie memperhatikan setiap kali kusor itu bergerak. Penasaran dengan game apa yang ingin pria itu mainkan.

"Kamu mau main game horor?"

"Iya, seru tau."

"Apanya yang seru?" Balas Jennie dengan nada kesal seraya melihat ke belakang

"Seru kok, palingan kaget dikit."

"Ih ga mau liat, awas aku mau pindah." Ujar Jennie memberontak.

"Jane, kamu mendingan jangan gerak gerak."

Jennie menatap tajam ke Wonwoo yang mengatakan kata yang begitu ambigu,"Maksud?!"

"Aku susah liat gamenya kalau kamu lasak sayang, pandangan aku kan ada kamu."

Jennie berdecih, kembali pada posisi awalnya dengan kepala yang ia arahkan untuk melihat hal lain. Kepalanya bergerak kesana kemari, seolah-olah ini adalah kali pertama ia ke sini dan ingin melihat lihat.

Wonwoo yang menyadari itu terkekeh, menghentikan game yang sedang ia mainkan sejenak dan memundurkan kursi yang ia duduki.

"Sebentar ya sayang." Katanya lalu dengan mudah mengangkat tubuh Jennie hingga gadis itu berdiri.

"Sini duduk lagi, hadap ke aku aja." Katanya

"Ga deh, aku mau tidur aja."

"Sini aja sayang, tidur disini." Katanya menepuk bahunya yang lebar.

Jennie tersipu sampai kedua pipinya memerah, bahu kekasihnya itu emang minta banget buat disandarin. Tanpa menjawab apapun lagi, ia menuruti perkataan pria itu. Duduk di pangkuannya dan menyandarkan kepalanya pada bahu pria itu.

Aromanya, irama detak jantungnya, dan suaranya yang bergema adalah hal yang paling Jennie suka.

Wonwoo melirik ke arah Jennie kala ia merasakan nafas yang teratur, sesekali menahan geli karna nafas gadis itu mengenai lehernya.

Mengusap kepala Jennie dengan pelan pria itu berguman,"Selamat malam calon istri."


Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Oct 31, 2024 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Jennie Boyfriend Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang