14

12.7K 719 38
                                        

Mata Irene terus saja terfokus pada ponselnya. Pikirannya teralihkan pada pesan masuk yang ia terima dari mantan ibu mertuanya. Ia ragu, apakah ia harus bertemu dengan wanita itu atau ia abaikan saja. Namun, entah kenapa ia penasaran dengan apa yang ingin wanita itu bicarakan dengannya.

Bukan tanpa alasan, wanita itu benar-benar meminta seakan ia sedang terdesak. Ia sangat ingin bertemu dengan Irene sebelum Irene kembali ke Jakarta.

"Mas Akbar balik duluan aja ke Jakarta, aku ada urusan mendadak." Ucap Irene saat baru saja duduk di kursi tepat disebelah Akbar yang tengah menikmati kopinya dengan santai.

Rencananya mereka akan kembali ke Jakarta sekitar pukul 10.00 pagi, dan saat ini masih menunjukkan pukul 05.30 pagi Bandung sedikit diselimuti kabut tipis karena sisa-sisa hujan semalam.

"Yaudah, urusannya kelarin dulu. Aku tunggu. Toh ini kan hari Minggu, kita bisa balik ke Jakarta agak siangan." Tukas Akbar. Ia tak masalah jika mereka kembali sedikit terlambat ke Jakarta. Alih-alih segera bergegas, Irene malah terdiam lantas menghela napas. Ia merasa sedikit tak enak karena membuat Akbar kerepotan akibat harus menunggunya.

"Makasih mas" ucapnya pelan. Lalu ia pun masuk ke dalam mobil milik Fajar-suami Rani-

"Kamu ga mau di antar Ra?"melihat Irene yang masuk ke mobil dengan tergesa, Akbar pun bangkit untuk memastikan wanita itu benar-benar tak masalah untuk pergi seorang diri.

"It's Okay mas, Assalamualaikum" kepalanya menyembul di balik jendela mobil, lalu dengan sigap ia melempar tatapan meyakinkan ke arah Akbar dan kemudian memacu laju mobil.

Akbar tak tahu siapa yang hendak Irene temui, meski ia sangat ingin tahu namun ia sadar bahwa ia tak punya hak untuk tahu ataupun ikut campur lebih dalam.

Setelah menyetir beberapa saat, Irene akhirnya tiba di sebuah café minimalis dengan desain bangunan klasik dan vintage. Lalu perlahan keluar dari mobil, dari luar café ia dapat melihat seseorang yang akan ia temui duduk manis disana.

Di Menit berikutnya, pandangan mata mereka pun bertemu. Lalu seulas senyum tipis terukir di wajah penuh kerutan milik wanita yang dulu pernah Irene kagumi dan lantas menjadi seseorang yang paling tidak ingin ia temui lagi dalam hidupnya. Wajahnya masih tetap cantik meski usianya sudah tidak lagi muda dan segar. Tanpa berniat membalas senyuman itu, Irene hanya mengabaikannya seolah-olah ia tak menyadari seseorang di seberang sana tengah tersenyum ramah padanya.

"Maaf ibu minta kamu ketemu pagi-pagi, silahkan duduk" ucapnya lembut. Tatapannya enggan lepas sejak saat ia melihat Irene berdiri diam di depan café.

"Saya kira kamu gak akan datang..." wanita tua itu mulai berbasa-basi yang membuat Irene malas untuk menanggapinya.

"Maaf bu, saya harap ibu gak salah paham dengan kedatangan saya. Saya bersedia menemui ibu karena saya rasa ini akan jadi pertemuan terakhir kita." Ucap Irene dengan cepat memotong kalimat basa-basi wanita itu yang sepertinya belum sempat ia tamatkan.

"Hampir saja ibu salah paham, terimakasih karena sudah bersedia meluangkan waktu untuk bertemu wanita tua ini." ucapnya lalu meneguk kopi nya yang masih mengepulkan asap.

"Ibu ingin bicarakan apa dengan saya?" dilontarkannya pertanyaan spontan tanpa berniat memberi kesempatan kepada wanita itu untuk berbasa-basi lebih lama karena dirinya tak ingin berada di tempat yang sama dengan wanita itu untuk waktu yang lama.

"Diminum dulu, ibu sengaja pesankan teh hangat karena kamu gak terlalu suka minum kopi" ia berbasa-basi lagi. Bukan itu yang Irene inginkan pada pertemuan mereka. Ia tak ingin di ajak basa-basi seperti yang dulu sering mereka lakukan, ia hanya ingin pembicaran mereka berlalu sesingkat mungkin tanpa berbasa basi.

Irene menyesap teh hangat di depannya, setidaknya ia masih punya sopan santun untuk menghargai seseorang yang lebih tua meski logikanya berkecamuk dan berteriak bahwa wanita tua itu tak pantas dihargai.

"Ibu dengar kamu udah ketemu Juna yah? Juna sekarang menetap di Jakarta, ada cabang baru di kawasan SCBD" Seperti biasa ia memulai kalimatnya dengan nama Juna, anak laki-laki yang selalu ia banggakan tiap helaan napas nya itu.

"Iya, tidak sengaja berpapasan di Rumah Sakit." Ia menjawab seadanya, jauh dari Irene yang ramah seperti yang wanita itu dulu kenali.

"Sama Jia juga?" tatapannya menyelidik, ia ingin memastikan apakah putranya itu sedang bersama wanita bernama Jia itu saat bertemu dengan mantan istrinya.

Irene mengangguk pelan, "Sama Reva juga" lanjutnya lagi, seolah ingin menegaskan bahwa akan selalu ada Reva di antara Juna dan Jia.

"Reva itu anak Jia sama laki-laki lain, ibu gak ngerti sama Juna. Gimana mungkin dia gak keberatan sama sekali diperlakukan seolah-olah seperti ayah kandung Reva, kamu tahu kan Reva itu gak ada hubungan darah sama sekali sama Juna?" tatapan matanya terlihat serius. Seakan ia menaruh rasa kesal pada Jia dan putranya Reva.

"Bukannya wajar yah? Mas Juna sama mbak Jia kan pernah lama bersama. Mungkin saja mas Juna merasa punya tanggung jawab atas anak itu" ucap Irene santai, lantas menyesap teh nya dengan nikmati.

"Kamu gak salah paham kan nak?"diraihnya pergelangan tangan Irene dan ia genggam erat dengan kedua tangannya yang penuh keriput namun masih terasa sehangat dulu.

"Untuk?" kedua mata Irene menyipit, konteks apa yang mantan ibu mertuanya itu sebut dengan kata salah paham.

"Hanya karena Reva menganggap Juna papa nya, bukan berarti Juna dan Jia akan kembali bersama lagi. Kamu tahu kan maksud ibu?" genggamannya erat, Irene tahu maksudnya. Jelas sekali bahwa ia sedang berusaha menampik segala bentuk halangan yang bisa menghalangi Irene dan putranya untuk kembali bersama.

"Ibu gak berubah yah? Masih sama seperti dulu" Irene menyungingkan senyum miris, lantas menghela nafas pelan.

"Maksud kamu?" kedua alis wanita itu menukik, tak paham maksud ucapan mantan anak menantunya itu.

"Ibu selalu seenaknya menyimpulkan apa yang mas Juna rasakan dan pikirkan. Walau gak seperti yang terlihat, yang tahu mau hatinya kan cuma mas Juna, karena dia pemiliknya." Irene hanya berkata apa adanya, tak ada yang tahu apa yang sebenarnya diinginkan Juna. Entah itu kembali pada Jia ataupun kembali dengannya meski sebenarnya ia tak punya niat sedikitpun untuk menerima Juna dalam hidupnya lagi.

"Bukan itu maksud ibu Ren, asal kamu tahu aja, Juna itu menyesal sudah melepas kamu. Tiap malam dia selalu dihantui rasa penyesalan yang besar, dia menyesal sudah mengabaikan kamu. Dia pernah bilang, kalau dia akan memperlakukanmu dengan baik jika dia punya satu kesempatan lagi, jadi Ren.."

"Kesempatan itu udah gak ada lagi bu"Irene melepaskan genggaman wanita itu, lalu menatap nanar padanya.

"Gak ada lagi bu..." ulangnya sekali lagi, ia menggeleng pelan.

"Satu kali aja apa benar-benar sudah tidak ada?" tatapannya memelas, perasaannya memang masih untuk Juna, namun untuk memberi kesempatan sekali lagi untuk lelaki yang pernah mengabaikannya demi wanita lain benar-benar tak ingin ia pertimbangkan, tak ada tawar menawar masalah masa depan. Juna sudah tidak ada lagi di dalam rencana masa depan yang kini Irene tata dengan perlahan.

"Sebenarnya ibu ngajak saya bertemu ada maksud apa yah? Kalau cuma mau membahas tentang mas Juna, saya rasa pembicaraan ini tidak perlu dilanjutkan." Tukas Irene tegas. Ia tak ingin pembicaraan tentang Juna dengan mantan ibu mertuanya itu membuat hati dan keputusannya goyah.

Sampai kapanpun tak akan ada hal bernama kesempatan kedua untuk seorang Juna Orlando.

"Ren,..ibu tahu Juna sudah keterlaluan sama kamu. Ibu juga salah, jadi ibu minta tolong sama kamu, tolong pertimbangkan Juna sekali lagi. Setelah berpisah dari kamu, dia gak mau menikah sama siapa pun lagi, jadi.."

"Bu! Itu bukan urusan saya. Jangan lagi meminta hal yang mustahil saya lakukan. Saya permisi ya bu, masih banyak pekerjaan yang harus saya lakukan." Irene lantas bangkit, berlalu tanpa menoleh sama sekali ke arah wanita yang hanya bisa terdiam itu.

Irene terus berusaha untuk terlihat tidak lemah di depan siapapun. Ia tak ingin kelemahannya tercium, terutama oleh mantan ibu mertuanya. Tuhan lah yang paling tahu bahwa Irene benar-benar tak menginginkan Juna lagi dalam hidupnya, ia tak ingin memberi kepercayaan lantas di sia-siakan sekali lagi oleh orang yang sama.

***

Terima kasih sudah mampir

Stuck On You  (END)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang