"Dia? Siapa yang mas maksud?"
"Juna, mantan suami kamu. Aku tahu kalian bersama selama 2 bulan terakhir ini, sepertinya reuni kalian berhasil yah" Akbar tersenyum kecut.
***
"Pffft..." Irene Terkekeh. Membenamkan wajah cantiknya di kedua tangannya. Akbar yang melihat tingkah Irene menjadi terheran-heran. Sebenarnya apa yang lucu dari kalimatnya barusan sehingga membuat wanita itu menertawakannya.
"Mas..." Panggil Irene dengan lembut pada Akbar. Masih ada tawa yang berusaha ia tahan untuk tidak meledak sekali lagi. Menurutnya, ekspresi wajah Akbar yang terlihat tegang saat ini sangat menggemaskan sekaligus menggelikan baginya Karena laki-laki itu bukanlah tipikal seseorang yang ekspresif.
"Kamu ketawa? aku gak lagi bercanda lo Ra!" wajah laki-laki itu terlihat gusar. Benar-benar menyenangkan untuk Irene setelah sekian lama tidak menjahili Akbar.
"Jadi.... aku sama mas Juna itu udah..."
"Jangan di terusin deh Ra, sepertinya aku tahu apa yang mau kamu katakan" Akbar mengalihkan pandangannya ke arah lain. Bert untuknya melihat wajah wanita itu, ia belum sanggup untuk mendengar sebuah kalimat yang mungkin akan menyayat hatinya.
Melihat hal itu, Irene merasa konyol sekaligus merasa bersalah. Sepertinya ia sudah membuat Akbar menunggu jawabannya terlalu lama sehingga membuat laki-laki itu gusar dan kehilangan kepercayaan dirinya selama masa menunggu itu berlangsung.
"Sejak kapan mas bersikap tidak dewasa seperti sekarang? padahal mas belum mendengar penjelasan lengkapnya. Ak belum bicara apa-apa loh mas, yakin gak mau denger? nanti menyesal kemudian loh." Irene mencebik, mencoba mendinginkan suasana dan meredam kesalahpahaman yang sedang Akbar simpulkan seorang diri itu.
Akbar menoleh ke arah Irene, menatap wanita itu lamat-lamat seolah Irene bisa menghilang kapan pun jika ia mengalihkan pandangannya sedikit saja dari wanita itu. Lantas senyuman cantik, khas milik Irene terlukis indah diwajahnya, membuat hati Akbar menjadi sedikit lebih tenangn dari sebelumnya.
"Jadi aku sudah boleh bicara nih?" Irene mencoba meyakinkan Akbar bahwa apa yang hendak ia ucapkan bukanlah hal yang tak seharusnya Akbar dengar.
"Coba saja, bagaimanapun aku harus tetap dapat jawaban kan?" Akbar tersenyum ketir, ia mencoba menekan perasaan gelisahnya dengan menggigit bibir bawahnya, bersiap-siap untuk jawaban yang sebentar lagi mengudara dari bibir Irene.
"Sebelumnya maafin aku yah mas, aku membuat mas menunggu terlalu lama untuk sekedar menunggu jawaban yang penuh ketidak pasitian dariku." wanita itu tersenyum.
"Memang benar kalau mas Juna ada bersamaku selama 1 bulan belakangan ini, tapi tidak lebih dari itu. Aku bukan memberinya kesempatan untuk menemaniku agar aku bisa memulai kembali bersamanya. Aku hanya ingin memastikan sebenarnya kemana arah hatiku saat ini, karena itu aku setuju dengan tawaran mas Juna untuk menemaniku disana." Irene memulai penjelasannya dengan kalimat yang diperjelas setiap katanya.
"Jadi dimana hatimu sekarang?" tatapan Akbar enggan terlepas dari wanita itu. Wanita yang baru saja mampir sebentar namun memberi banyak rasa di hidupnya yang selama ini hambar.
"Selama sama mas Juna, banyak hal dan kesalahpahaman yang kami perbaiki. Aku juga jadi tahu kalau kalau selama ini aku hanya melihat mas Juna dari kacamataku sendiri dan pergi setelah menarik kesimpulan tanpa memberikan mas Juna kesempatan untuk menyelesaikan masalah kami. Jadi setelah kami menyelesaikan apa yang tersisa diantara kami, anehnya hatiku masih gelisah. Mas tahu gak alasannya apa ?" ditatapnya Akbar dengan tatapan yang sukar untuk dipahami.
"Apa?"
"Mas Akbar!" ia menunjuk Akbar tanpa ragu.
laki-laki itu mengernyit, ia belum memahami maksud Irene sepenuhnya.
"Alasan kenapa aku masih gelisah, karena yang bisa aku pikirkan selama pembicaraanku sama mas Juna hanya mas Akbar. Aku penasaran, mas Akbar lagi apa ya sekarang? kok dia gak telpon? atau kok dia gak massage aku sama sekali. Apa dia sudah memutuskan untuk menyerah sama aku ya? apa dia sesibuk itu sampai kabarku saja tidak membuatnya penasaran. Pikiran-pikiran seperti itu berseliweran di kepalaku tanpa bisa aku kontrol, setiap saat aku memikirkan tentang mas Akbar, karena itu aku jadi gelisah dan terburu-buru kembali kemari untuk mejelaskan semuanya ke mas" Irene menjelaskan dengan hati-hati agar Akbar mengerti setiap kata yang ia ucapkan.
"Jadi sebenarnya hati kamu sekarang dimana Ra, aku masih gak ngerti yang kamu bicarain sekarang. Kepalaku buntu, aku merasa jadi orang tolol sekarang karena gak paham apa yang sedang berusaha kamu sampaikan Ra. So Please explain it Ra!" Akbar menyibak rambutnya yang mulai gondrong karena belum sempat ke tukang cukur.
"Aha...Oke. Jadi singkatnya, it's always been you mas. Aku sadar kalau ternyata ya memang kamu yang hatiku mau. Not him, but you mas! " untuk pertama kalinya Irene memberanikan diri untuk meraih tangan laki-laki itu. Perasaannya yang mendorongnya untuk bersikap lebih tegas tentang apa yang ia inginkan, termasuk tentang laki-laki itu.
Akbar terdiam. Ia kehilangan kata-kata, mulutnya jadi membisu karena masih berusaha mencerna setiap kata yang baru saja Irene katakan.
"Oke, sampai disini aku paham maksud kamu. Tapi yang kamu maksud dengan kesempatan tidak datang dua kali itu apa? aku kira kamu memilih untuk kembali bersamanya dan menetap di Sidney" Akbar mengingat kembali perkataan Awal Irene sebelumnya.
"Nah, kesempatan itu yang jadi masalahnya sekarang." Irene terlihat ragu untuk mengatakan pendapatnya pada Akbar.
Alis Akbar menukit.
"Aku ingin mencoba mengambil kesempatan itu mas. Mas tahu kan kalau tawaran itu bagus untuk karirku di masa depan?" Irene mencoba membicarakan tentang tawaran kontrak dari rumah sakit universitasnya dengan hati-hati.
"I know verry well. Aku gak mau menghalangi semua jalan kamu, Yang aku mau itu, aku ada disisi kamu, jadi orang terdekat yang bisa kamu andalkan walaupun kita berada ditempat yang berjauhan. Kalau kamu mau, kita gak harus nikah sekarang, atau mungkin kamu mau mencoba untuk Long distace marriage? kamu bebas memilih Ra, karena tujuanku itu bukan sekedar memiliki kamu secara fisik, tapi lebih besar dari itu. Aku gak mau sekedar jadi pasangan, yang aku mau itu jadi suporter terbesar kamu, teman kamu, partner yang mendukung apapun yang ingin kamu lakukan. Tujuanku itu untuk tumbuh sama-sama, bukan sekedar kepemilikan fisik aja. Jadi aku akan bilang iya untuk semua keputusan kamu Ra, aku akan menemani setiap kali kamu melangkah untuk jadi lebih baik." Jelas Akbar yang membuat Irene tercengang.
Irene tidak pernah menduga akan mendapatkan jawaban sepengertian itu dari Akbar. Jawaban yang Akbar berikan benar-benar meyakinkan padangan Irene bahwa definisi cinta yang ada dikepala Irene itu sejatinya seperti ucapan yang Akbar deklarasikan. Bukan hanya sekedar kepemilikan fisik, namun perasaan untuk saling mendukung dan keinginnan untuk tumbuh bersama juga merupakan bentuk cinta yang selama ini Irene cari.
"Kalau mas minta ke KUA sekarang pun, aku gak akan menolak" ucap Irene yang membuat Akbar salah tingkah.
***
To be continued
KAMU SEDANG MEMBACA
Stuck On You (END)
Fiction généraleBerawal dari sebuah perjodohan yang tak pernah diinginkan, Irene Divyascara, dokter muda yang baru saja menyandang gelar Sarjana kedokteran itu dipaksa menikahi pria kaya yang usianya terpaut jauh dengannya, yang pada akhirnya hubungan mereka kandas...
