18

1 0 0
                                        

Aku hanya menundukkan kepala ke meja. Tidak berani melihat keadaan sekitar. Aku yakin sekali keadaan di sini lumayan tidak terkontrol. Apalagi banyak sekali penontonnya, aku juga berharap tidak terjadi masalah dengan dosen.

"Quel, lo mau minum gak?" tanya Devika.

"Gak usah makasih, Vik," ucapku sambil menghapus air mata.

Aku memang sangat cengeng dan sensitif, jadi hal ini bisa membuatku menangis.

"Quel, lo gak papa?" tanya Davyn yang tiba-tiba muncul.

"Haha gue gak papa," ucapku ngeles.

"Nih, makan ya jangan sedih lagi." Davyn memberikanku eskrim coklat.

"Aduhh cuit cuit cocwit anget si, Vyn," teriak Deon yang membuatku malu.

"Ekhmmmm," ledek Devika.

Aku dan Davyn sekarang malah menjadi pusat perhatian. Banyak sekali yang menatapku, ada yang sinis, ada juga yang baper.

"Berisik," kesal Davyn.

"Iyaaaa dah bebepnya jagain, ya," ucap Lauren si frontal.

Aku tersenyum di dalam hati, tidak ingin orang lain melihat betapa bahagianya aku sekarang. Ternyata Davyn manis juga.

"Gak usah dengerin mereka ya, lo keren kok," ucap Davyn tulus.

"Hei hei udah dong adegannya, gue masa jadi nyamuk sihhhhhhh," kesal Devika.

Aku hanya menatap Devika saja. Sepertinya Davyn sudah tidak peduli dengan Devika, atau jangan-jangan ia sudah move on?

"Lo mau balik aja?" tanya Davyn lembut.

"Gak usah, btw thanks es krimnya," ucapku sambil tersenyum.

"Santai aja, kejadian tadi gak usah dipikirin," ucap Davyn sambil menatapku dalam.

Aku hanya salting dan tidak berani menatap dirinya.

"Ekhmmmm aaaaaa cukup sudah kisah ini, aku tidak tahan menatapnya," ucap Deon sok dramatis.

"Muka lo jelek tau gak, gak usah digitu-gituin!" kesal Lauren.

"Bebep Lauren mau aku beliin es krim gak, biar kayak mereka," ucap Deon sambil mengedipkan matanya.

"Dih ngapa lo, cacingan!" geli Lauren.

"Gak kok, cuma terpesona melihat omelanmuuu." Gombal Deon sambil loncat-loncat kegirangan.

TAK

Lauren melemparkan sepatunya ke kepala Deon dan mereka pun saling berlarian seperti film India.

"HAHAHAHHA." Kami sekelas hanya tertawa melihat mereka seperti pasangan kucing dan anjing.

"Gitu dong senyum," ucap Davyn yang membuatku langsung terpaku seketika.

"Gue gak kuat melihat ke sweetan ini," ucap Devika.

Aku sedikit awwkard sebenarnya, tapi aku harus bersikap biasa-biasa saja.

"Udah-udah lo balik aja, Vyn," ucapku sedikit mengusir.

"Yaudah, gue ke kelas, ya."

Aku hanya tersenyum mengangguk.

Aku dan Davyn sekarang memang beda kelas. Kelas Davyn akan dimulai setengah jam lagi, sedangkan kelasku dimulai sebentar lagi.

"Oh iya lupain Davyn, gue kepo banget sama sikap si Jaxon, kok dia kayak agak gimana gitu sama lo kayak perhatian, tapi ngegas," bingung Devika.

Another Side (End)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang