Semuanya gelap. Tidak ada apa pun di sini. Aku terasa hampa seperti kehilangan arah. Tidak ada yang bisa mendengar ketika ku berteriak. Tidak ada yang bisa menolongku, nafasku mulai melemah, terasa sakit. Sesak nafas mulai menerjang paru-paruku dan semuanya terasa mati.
"Aquela, please bangun." Davyn meneteskan air matanya. Ia sangat takut terjadi apa-apa denganku.
Aku dibawanya menggunakan taxi yang sudah ia pesan. Membawaku ke salah satu rumah sakit yang ada di Jakarta.
"Aku minta maaf, hiks, hiks, hiks, kamu harus bangun, Quel."
Tangisan Davyn mulai membesar. Rasanya ia ingin memukul dirinya sendiri karena telah membuat kesalahan.
Setelah itu, aku langsung dibawanya ke ruang UGD.
"Anda tunggu di sini, kami akan menyelamatkan pasien ini," ucap dokter tersebut.
"Dok, saya mohon berikan Quel kesembuhan." Davyn masih menangis deras. Air matanya sudah tidak bisa dibendung lagi. Takut jika aku kenapa-napa.
"Ini semua salah gue." Davyn menyenderkan kepalanya ke tembok sambil menarik rambutnya kasar.
Davyn berusaha menelepon Devika untuk memberitahu orang tuaku, karena Davyn tidak memiliki nomor orang tuaku.
"Vik, lo ke Rumah Sakit Teratai sekarang, Aquela ping.."
Devika yang sudah mengerti penyakitku langsung memutuskan sambungan telepon, dan langsung memberitahu kedua orang tuaku. Ia cepat-cepat ke Rumah Sakit Teratai sekarang.
"Kenapa? Kok lo panik," tanya Kak Jaxon yang sedang bersama Devika.
"Aquela, hiks, hiks." Devika mulai meneteskan air matanya deras.
"Aquela kenapa!" Tanya Kak Jaxon.
"Di rumah sakit."
Kak Jaxon yang panik dan takut aku kenapa-napa, langsung pergi ke rumah sakit bersama Devika.
Semuanya telah berkumpul di rumah sakit. Ada orang tuaku, Devika, dan Kak Jaxon. Davyn yang masih menundukkan wajahnya, tidak menyadari keberadaan mereka.
"Hai kamu, kamu apain Anak saya lagi, hiks, hiks!" kesal ibuku yang langsung menuduh Davyn.
Kak Jaxon yang kesal dengan Davyn pun langsung menarik kerah baju Davyn dan menonjoknya.
Bug
Davyn tidak bereaksi apa pun, pasrah saja dengan perlakuan Kak Jaxon kepadanya.
"UDAH! KAYA GINI GAK AKAN NYELESAIN MASALAH!" teriak Devika.
Kak Jaxon yang tidak peduli masih menonjok wajah Davyn sekali lagi.
Bug
"SUDAH DIAM!" geram ayahku.
Para security tiba-tiba menghampiri mereka dan menyuruh mereka diam.
Setelah sekian lama menunggu, dokter yang merawatku pun keluar.
"Keluarga Aquela?" tanya dokter tersebut.
"Iya saya lbunya, bagaimana keadaan Anak saya, Dok?" Ibuku bertanya sambil mengelap air matanya.
"Jantung Aquela melemah, hampir saja Adik itu tidak telat membawa Aquela karena kalau tidak, akan terjadi kematian." Dokter tersebut berbicara dengan sedikit sadis.
"Lalu sekarang bagaimana, Dok?" tanya Devika.
"Sekarang kondisi Aquela masih kritis dan masih proses pemulihan."
KAMU SEDANG MEMBACA
Another Side (End)
Roman d'amourAir mataku satu per satu mulai menetes deras, aku berusaha untuk menghapusnya agar tidak jatuh terlalu banyak. "Gak usah salahin diri lo, lo gak salah, yang salah gue, gue yang salah mencintai seseorang." Aku pun langsung pergi menuju kamar mandi da...
