8

3 0 0
                                        

Aku disuruh Kak Jaxon untuk memasuki rumahnya. Jujur aku sangat takut, akan diapakan aku di rumah Kak Jaxon ini?

Rumah Kak Jaxon lumayan besar dengan gaya minimalis berwarna abu-abu dan di temboknya terdapat lukisan abstrak yang sangat menawan.

"Masuk dulu, lo gak akan gue apa-apain," ucap Kak Jaxon sambil mengibas rambutnya yang basah.

Aku masih tetap terdiam di pintu luar Kak Jaxon.

"Heh lo ngapain diem di situ, cepetan masuk," suruh Kak Jaxon tegas.

"Di sini ada siapa aja?" ucapku sambil menunduk.

Aku tidak mau jika hanya berduaan dengan Kak Jaxon di rumah ini.

"Lo takut gue macem-macem, ya?" sarkas Kak Jaxon.

"Ng-gak." Aku menggelengkan kepala dengan rasa takut.

"Santai ada Kakak sama Adik gue mereka perempuan, jadi lo gak usah takut," ucap Kak Jaxon sedikit menenangkan.

Aku menarik nafas lega dan sedikit tenang sekarang.

"Pak, nanti tolong ambil motor warna biru yang di dekat masjid ya, itu motor teman saya," perintah Kak Jaxon kepada sang supir.

Aku berniat untuk menolaknya karena tidak enak dengan bapak tersebut.

"Tidak usah Pak, biar nanti saya saja," ucapku sopan.

"Gak papa Nak, biar saya saja," ucap Pak Yanto, nama supir tersebut ramah.

"Yaudah si ribet lo, udah gc masuk," tegas Kak Jaxon.

Jujur aku kesal sekali dengannya, namun Kak Jaxon sudah membantuku, jadi aku harus tau diri sekarang.

"Assalamualaikum," ucapku memasuki rumah Kak Jaxon yang megah ini.

"Waalaikumussalam," ucap seorang perempuan dari dalam dengan ceria.

Aku hanya tersenyum kaku, bingung ingin berbuat apa.

"Bang, lo bawa siapa nih? Cantik banget," ucap gadis yang sepertinya masih SMA.

"Temen gue, udah deh gak usah banyak tanya, lo ambilin baju gih buat dia," suruh Kak Jaxon.

Ternyata Kak Jaxon memang kasar dengan siapa saja.

"Ih Bang gue mau tanya dulu, Kakak cantik ini siapa?" tanya gadis tersebut.

"Ntar aja ngobrolnya, lo ambilin baju dulu buat dia, bajunya basah," ucap Kak Jaxon.

"Eh gak usah Kak, cuma basah dikit doang," ucapku tidak enak. Bagaimanapun aku sudah bersyukur telah mendapatkan tempat berteduh sekarang.

"Gak usah bawel deh, lo tinggal nerima aja susah banget," tegas Kak Jaxon dan langsung meninggalkanku entah ke mana.

Aku sudah kesal sekali sebenarnya, namun aku harus bersikap sopan sekarang.

"Kak, ayo ikut aku ke kamar sekalian ganti baju, btw nama Kakak siapa? Nama aku Hanny," ucapnya dengan ceria.

"Namaku Aquela," ucapku ramah.

"Cantik banget namanya.."

"Dee langsung bawa ke kamar lo! Gak usah banyak tanya!" teriak Kak Jaxon dari lantai atas.

"Iya ABANG BAWEL," kesal Hanny.

"Abangku emang bawel Kak diemin aja, pasti setiap hari Kakak stres ya, sorry ya Kak," ucap Hanny meminta maaf.

"Berisikkk," kesal Kak Jaxon.

"Yaudah yuk Kak, kita langsung ke kamar aku aja," ajak Hanny yang membuatku tidak enak.

Another Side (End)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang