30

2 0 0
                                        

Saat sampai, tidak kusangka Syifa sudah berada di apartemenku.

"Kaaaakkkk," teriak Syifa sambil memelukku.

"Aaaaa kangen banget," balasku.

Sudah dua Minggu Syifa berada di rumah orang tuaku. Jadi, ia tidak main ke apartemen.

"Maaf ya Kak, soalnya aku banyak tugas Campus, jadi gak sempet."

"Kamu alasan ah, kesel banget," rengekku.

"Ihh maaf, gimana kalau kita jalan-jalan?  Kan waktu itu udah janji mau jalan ke luar kota."

Aku baru teringat sekarang. Saking sibuknya, kami tidak sempat untuk jalan-jalan.

"Serius? Ayok! Kakak baru inget dong," ucapku antusias.

"Yuk, aku juga libur kuliah seminggu lagi, nanti kita naik pesawat aja, Kak?" tanyanya.

"Gampang lah, naik apa aja jadi, Kakak juga pengen ketemu sama Devika, kangen bangeeeetttt." Aku berkata sambil melompat saking semangatnya.

Kalau dengan adikku, entah mengapa aku berubah menjadi pribadi yang childish dan sedikit manja. Jika aku nyaman dengan seseorang, sifatku akan seperti itu.

"Biasa aja dong Kak, kayak mau kemana aja, oh ya Kak, nanti malem Mama sama Papa ngajakin kita makan bareng di rumah, kayaknya ada 'tamu' lagi."

Aku mengerti maksud 'tamu' yang dibicarakan oleh Syifa. Tamu tersebut adalah orang-orang yang dijodohkan kepadaku. Aku kesal sekali, masih jaman kah jodohin orang?

Padahal aku sudah bilang kepada orang tuaku bahwa aku tidak ingin. Lagipula tidak ada yang cocok denganku. Bukan sombong, namun kalau kalian gak srek sama orang apakah kalian akan tetap menerimanya? Apalagi ini pernikahan, bukan mainan. Aku kurang suka cara seperti ini. Mungkin memang belum saatnya aku menikah sekarang.

Lagian emangnya kalau umur 24 tahun itu harus banget nikah, ya? Masa nikah karena umur sih, gajelas banget.

"Kakak males Dek, bilang aja kalau Kakak lagi sakit," lesuku.

"Aku juga males Kak, mana cowoknya genit-genit, tau gak cowok yang kemarin masa minta nomor aku, kan gak banget," curhat Syifa.

Memang sebulan yang lalu, aku sempat dijodohkan dengan pria yang menurutku biasa saja. Katanya sih anak pemilik tambang emas. Intinya kalau permasalahannya adalah uang, aku langsung malas. Aku tahu ia hanya main-main, sangat jelas dari raut wajahnya. Belum apa-apa aku sudah muak duluan. Paling langsung aku jutekin begitu saja.

"Kali ini 'anak' siapa lagi, Dek?" Kesalku sambil menekan kata 'anak'

"Gak tau deh Kak, tapi kemarin Mama nelepon, katanya sih pemilik Kebun Strawberry di Bandung."

"Ck, males banget, udah ya gak usah."

"Yaudah Kak, jangan dipaksa, lagipula Kakak gak mau."

"Aku sih berharapnya begitu, tapi kamu tau sendiri gimana sifat pemaksanya Mama dan Papa."

"Yaudah gak usah dipikirin dulu, mending kita makan snack ini." Syifa membawakanku sekantong plastik aneka jenis jajanan. Ia sangat tahu kesukaanku, ia juga membelikanku topokki dan mie instant Korea.

"Makasih loh, banyak banget makanannya."

"Aku juga mau lah, masa Kakak doang," senyum Syifa.

"Yaudah yuk, masak dulu."

Aneh sekali, padahal setelah ini aku ingin ke rumah orang tuaku yang katanya dinner dengan 'tamu' lagi. Tapi karena kutahu di sana aku gak akan makan karena pasti moodku anjlok, sebaiknya aku mempersiapkan perutku dulu sebelum ke sana. Biar moodnya masih bisa dikontrol.

Another Side (End)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang