"Kau pikir dua orang yang tinggal seatap selama lima bulan lamanya dan mereka pernah memiliki hubungan spesial, apa yang akan mereka lakukan? Terlebih Taehyung sudah terbiasa dengan penis didalam lubangnya."
"Kau bajingan sialan!"
Bugh
Jimin menduduki perut Jungkook yang terjatuh akibat pukulannya yang tak main-main.
"Jika saja bukan karena kau. Taehyung tak akan menjadi sepeti itu. Kau merusaknya." Ucap Jimin menatap Jungkook penuh amarah dan kecewa lalu kembali memukuli wajah Jungkook.
Jungkook yang tak terima karena selalu disalahkan Jimin pun dengan mudah membalik posisi sehingga Jimin berada dikungkungannya.
"Kau tak berhak menghakimiku. Kau tidak mengerti kenyataannya, Park. Lagipula kau tidak mengenal Taehyung dengan baik." Ucap Jungkook lalu berdiri tergopoh.
"Ku akui aku salah soal Jieun Noona tapi soal hamilnya Taehyung adalah kesalahannya sendiri. Jika dia setia tentu dia tidak akan melakukannya dengan orang lain." Lanjut Jungkook lalu pergi meninggalkan ruangan kerjanya.
"Hash! Dasar idiot!" Umpat Jimin penuh amarah.
💜💜💜
Taehyung mengelus-elus perutnya. Airmata tak pernah seakan tak pernah absen untuk menemaninya. Badannya sakit, hatinya sakit tapi dia harus bertahan untuk anaknya. Sudah sekitar seminggu Namjoon mengurungnya di kamar entah kamar siapa karena begitu asing untuk Taehyung. Namjoon bahkan tak menemuinya lagi setelah hari dimana Namjoon menamparnya itu.
Taehyung menatap tak selera pada nampan berisi sup kimchi, semangkuk nasi dan segelas air putih itu. Bukannya tidak lapar dan tidak mau makan tetapi makanan yang disajikan tidak bisa dimakan olehnya. Sup itu sangat pedas dan asam. Itu tidak baik untuknya dan bayinya. Bahkan tak ada lauk lain selain sup kimchi.
"Maafkan Papa sayang. Papa tidak bisa memberimu makanan yang layak lagi." Ucap Taehyung lalu mengambil semangkuk nasi. Ya, hanya nasi yang dimakan setiap hari oleh Taehyung karena entah sengaja atau tidak tapi orang suruhan Namjoon selalu memberinya makanan pedas padahal Namjoon tau betul jika Taehyung tak bisa makan pedas.
"Semua akan baik-baik saja kan?" Gumam Taehyung lalu menyendokkan nasi ke mulutnya.
Jika saja Taehyung tak sedang mengandung, Taehyung akan mencoba kabur dan minta tolong pada Yoongi. Namun kabur hanya akan membahayakan kandungannya.
"Yoongi Hyung apa kau baik-baik saja? Seharusnya aku tak merepotkanmu. Seharusnya aku kabur ke luar negeri dan memulai hidup baru berdua dengan anakku. Aku punya banyak uang, A-aku--------hiks."
Kini Taehyung hanya bisa meratapi nasibnya. Meratapi tak bisa membahagiakan anaknya walau dia nyatanya dia punya banyak harta. Bahkan memberikan makanan layak pun tidak bisa.
Satu fakta yang tidak diketahui Taehyung. Bahwa kandungannya lemah dan beresiko. Saat pemeriksaan, Dokter mengatakannya pada Yoongi namun Yoongi memilih tak mengatakannya pada Taehyung namun dia lebih memperhatikan kegiatan dan asupan makanan Taehyung tak lupa memberinya beberapa vitamin. Yoongi tak ingin membuat Taehyung terlalu terbebani.
Taehyung mengangkat kaos kebesarannya hingga nampaklah perut buncitnya lalu tersenyum sendu. Bayinya tak pernah meminta macam-macam, Taehyung bersyukur atas itu terlebih disaat seperti ini.
"Kelak tumbuhlah jadi anak yang berguna untuk siapapun. Jadilah pribadi yang baik entah bagaimanapun orang memperlakukanmu. Papa bangga memilikimu meskipun dunia bahkan tak menginginginkanmu. Termasuk Appamu."
Jeon Jungkook. Pria yang telah merubah hidup Taehyung menjadi seperti ini. Namun Taehyung tak pernah menyesal karena dirinya sendiri yang dengan sadar memilih Jungkook dan membiarkan Jungkook menanamkan benih di rahimnya.
"Maafkan Papa yang seperti jalang ini." Taehyung kembali terisak. Hatinya berdenyut. Itu tetap sangat menyakitkan meskipun Taehyung selalu mencoba untuk memaafkan setiap perlakukan orang yang meyakitinya.
Tbc
