Chapter 012
Another Fact: Doubting
.
.
.
You might not know the reason why I keep everything from you. Refused to explain yet didn't do anything when I know you had realized it. Just let you remember it by yourself so you can make choises whether you go or stay by my side.
.
.
.
Jarak itu perlahan muncul dalam hubungan keduanya, memisah dengan sebuah dinding yang membatasi dengan kesibukan sebagai alasan. Ingatannya yang perlahan pulih tidak dapat dielaknya atas keadaan yang juga perlahan merubah sikap. Memang tidak sepenuhnya mengingat, namun beberapa, termasuk kilasan menyakitkan itu hadir diantara mimpinya yang membuatnya terbangun di tengah malam untuk menemukan dirinya menangis tanpa sebab.
Sebuah pertanyaan muncul di benak, terkait kejadian lampau yang pernah dialaminya. Sebab dan akibat yang mungkin saja berhubungan dengan kenangan lampau yang enggan dibagi oleh sang suami. Rasa penasaran itu begitu menggerogotinya, mengambil alih pikirannya hingga membuatnya tanpa sadar membangun sebuah dinding keras diantara hubungannya bersama Yoongi.
Ia mungkin masih bisa bersikap seolah keadaan tidaklah berubah sama sekali, kendati kenyataan berbanding terbalik. Senyum itu tersungging pada sorot mata yang nihil akan ketulusan. Genggaman itu masih erat kendati rasa telah berbeda oleh rahasia yang mulai perlahan diketahuinya.
Ada sebuah rasa yang menahannya pada setiap keinginan untuk berada di samping Yoongi. Perasaan ragu yang terus muncul hingga menolak pada kedekatan terhadap sang terkasih, kendati hati masih berpegang teguh pada getaran yang masih hadir disetiap ingatan akan sosoknya.
Jieun tidak dapat mengendalikan perasaannya. Rasa bertolak belakang yang membuatnya tidak dapat memahami dirinya sendiri. Perasaan itu begitu mencekiknya, seolah tidak mengindahkan akan perasaan terdalamnya dan hanya memerintah tubuh untuk bergerak berlainan akan keinginan hati.
Hingga saat perasaan itu telah meluap pada satu pemandangan akan sorot sang suami yang dilihatnya begitu suram di malam itu. Terlalu banyak beban yang dipikirkannya, entah Jieun dapat menghitung dirinya sebagai salah satunya. Namun satu hal yang penting, jika Jieun ingin melupakan segalanya sejenak, demi kenyamanan yang ingin diberikannya pada sosok terkasih. Banyak kata yang tidak dapat diucapnya selain rindu yang terucap mewakili seluruh perasaannya. Tindakan penuh kasih yang ditujukannya untuk mewakili akan perasaan terdalam yang tidak dapat diungkap. Tentang kebenaran akan perasaan juga masa lalu mereka yang masih kabur bagi Jieun.
Jieun tidak tahu apakah ada sesuatu hal buruk yang terjadi dimasa lalu hingga Yoongi memutuskan untuk bungkam. Tapi saat ini, Jieun memilih untuk bersikap buta akan segalanya kendati perilakunya berbanding terbalik. Merenungi setiap ingatan lampau yang berputar dibenaknya, mencari tahu potongan yang dilupakannya tanpa mengindahkan akan peringatan sang suami pada seseorang yang seharusnya dihindarinya.
"Jieun Noona!" seruan itu terdengar dan Jieun yang baru saja keluar dari studio, menoleh untuk menemukan Jungkook dengan langkah lebar berjalan ke arahnya.
"Pemotretan?" tebak Jungkook setelah menilik sekilas pada ruangan yang masih terdapat beberapa orang.
Jieun mengangguk, lantas membalas, "Pemotretan juga interview."
"Ada pekerjaan juga disini?" ucap Jieun balik bertanya.
"Aku memiliki janji dengan Ra PD." balas Jungkook.
"Pekerjaanmu sudah selesai?" tanya Jungkook kemudian.
"Sedikit lagi. Aku berniat makan siang."
KAMU SEDANG MEMBACA
Stay
FanfictionJieun yang tengah meregang nyawa di malam kelulusannya, menemukan dirinya terbangun sebagai wanita dewasa berusia 27 tahun yang telah menikah dengan Min Yoongi, seorang pria berandal berwajah rupawan yang terkenal akan sifat dinginnya saat masa seko...
