13.0 Ego and Jealousy : I Was Wrong

994 107 42
                                        

Chapter 13.0

Ego and Jealousy: I Was Wrong

.

.
.

The regret that I've been has become too much after I was realized if I've been going on aboard on her. To throwing hatred and blamed her for our child loss. The jealousy almost blinds me that made me doesn't want to forgive her so easily. But, a small body that looks so vulnerable and deep sorrowful crying that I've heard that night, made me realized it all. If all this time, I have been wrong.

.
.
.

Yoongi tidak tahu seberapa lama dia tidak lagi berbicara dengan Jieun. Sejak kejadian terakhir dimana ia menemukan berita tentang Jieun yang mengalami keguguran, dia lebih banyak menutup dirinya sepenuhnya. Membatasi jarak dengan Jieun dan mengabaikan intensitas Jieun sepenuhnya. Harinya terasa kelam oleh kepedihan yang mati-matian disembunyikannya dengan bekerja.

Dia enggan melihat Jieun ketika itu mengingatkannya akan kepergian anaknya dan membuatnya ingin menangis. Dia benci ketika dia diingatkan kembali alasan atas segala pertengkaran mereka dan lebih benci ketika menyadari dirinya juga turut andil dalam keegoisan hingga membawa masalah semakin runyam dan menyebabkan kejadian ini terjadi.

Melihat bagaimana sosok pria lain yang berada di sisi Jieun, memberi Jieun kenyamanan yang tidak dapat diberikannya secara langsung dan turut hadir menemani harinya, ia tidak menyukainya. Terutama saat dia mendapat telepon dari pria itu dan memberitahukannya tentang keadaan Jieun yang dilarikan di rumah sakit.

Ia mengakui, jika dirinya seperti lari dari kenyataan dengan menutup diri. Mengabaikan segalanya, termasuk Jieun, wanita yang seharusnya dijaganya. Dia terlalu larut akan kesedihan hingga mengabaikan Jieun. Hingga dia baru mengetahui akan luka yang tanpa sadar ditorehkannya itu melukai Jieun begitu dalam dan orang pertama yang menyadarkannya, ialah Joongi.

Kakaknya yang biasa akan menghubunginya terlebih dahulu, saat ini  datang ke kantornya begitu tiba-tiba. Mendobrak pintu begitu keras hingga menghasilkan bunyi yang keras dan mengejutkannya yang saat itu tengah bekerja di dalam ruangannya. Langkah itu begitu tergesa dan Yoongi tidak siap ketika kerahnya ditarik paksa dan sebuah pukulan itu terlayang di wajahnya hingga membuatnya jatuh terjerembap di lantai dan menghasilkan suara nyaring saat kursinya menabrak rak di sudut ruangan.

Sekretarisnya datang di depan pintu dengan wajah panik. Melihat segalanya namun tidak dapat berbuat apapun ketika melihat kemarahan yang ada pada mata Joongi. Seumur-umur Yoongi memang jarang menemukan Joongi begitu murka, terakhir kali ialah saat dia terlibat perkelahian pertamanya saat dia sekolah menengah dan hal itu disebabkan oleh seseorang yang menghinanya. Joongi mengajaknya berduel, bertaruh akan kebebasannya jika ia menang dan jika kalah, dia harus berhadapan kembali dengan Joongi saat ia terlibat perkelahian lagi. Tentu dia yang saat itu belum memiliki banyak pengalaman berkelahi kalah telak. Tubuhnya memar-memar akibat perkelahian itu dan selanjutnya, dia menjadi hati-hati untuk tidak terlibat segala macam perkelahian saat orang datang mencari masalah dengannya. Tapi berbeda dengan saat ini, tatapan penuh amarah itu kembali dan Yoongi tidak dapat melawan saat dia menyadari penyebab akan amukan yang terlayang padanya.

"Apa yang kau lakukan hah? Aku baru saja mendengar tentang Jieun yang mengalami keguguran dan kau malah menyalahkannya dan menyudutkannya? Apa kau gila?"

Mata Joongi menatapnya penuh amarah pada wajahnya yang telah memerah akibat emosi yang berusaha diredamnya. Tangannya terkepal begitu erat pada kerah Yoongi, berusaha menahan sisi buasnya untuk melampiaskan segala emosinya atas tindakan bodoh sang adik.

StayCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang