Chapter 16.0
3rd Anniversary : Make Love
.
.
.
It can be called the most precious moment between us. The time when I tried to open myself up and learn more about you. Show you how I have been fall in love with you and how I want to build a family with you.
.
.
.
Warn❗ I don't think it's necessary for me to put a warning, but if you're not comfortable with any mature scene you can just read first few and last paragraphs.
.
.
.
Ruangan itu begitu hening, suasana menenangkan melingkupi dengan udara sejuk yang berasal dari angin malam musim semi yang masuk dari jendela kamar yang dibiarkannya terbuka. Aroma lembut bunga lavender menguar dari lilin aromaterapi yang dibelinya siang tadi. Seharusnya segalanya membuat Jieun tenang mengingat situasi menenangkan menjadi salah satu hal yang selalu berhasil memberikan kenyamanan bagi dirinya sendiri. Namun tidak untuk saat ini. Tidak dengan jarum yang terus bergerak mendekati pukul sepuluh dan pengingat atas pesan dari suaminya yang menyebutkan waktu kepulangannya membuatnya gelisah.
Dentuman keras yang ada di dadanya tidak juga mereda bahkan ketika dirinya telah berulang kali menghela napasnya dalam usaha menenangkan dirinya, justru tangan yang kini merapikan ikatan kimono yang membungkus tubuh berlapis gaun tidur tipis yang dikenakannya itu bergetar.
'Tenanglah Jieun-ah. Ini bukan apa-apa dan ini bukan pertama kalinya buatmu.' ujarnya dalam hati dalam usahanya memenangkan diri sekalipun batinnya mengelak jika malam pertamanya memang telah berlalu namun tidak dengan percobaan mengenakan lingerie yang begitu menampilkan lekukan tubuhnya dan segala tetek bengek yang disiapkannya dalam membangun suasana yang pas untuk kejutannya malam ini.
Dia ingin merutuk kakak iparnya, Hanna yang telah membujuknya mengenakan pakaian ini. Namun di lain sisi kakak iparnya tidak bersalah karena sejujurnya Jieunlah orang yang pertama meminta saran untuk perayaan pernikahannya yang ketiga. Hanna telah cukup berbaik hati membantunya dengan menemaninya membeli segala persiapan untuk perayaannya.
Suara mesin mobil yang terdengar dari luar semakin membuatnya gelisah. Jieun memejamkan mata dalam usahanya menenangkan dirinya sementara ia menghitung detik yang membawa Yoongi semakin dekat pada kamar mereka.
Ketika suara debuman ringan dari pintu kamarnya terdengar, Jieun berbalik dan berjalan masuk ke dalam kamarnya setelah ia menutup pintu balkon.
"Kau belum tidur?" tanya Yoongi sesaat ia menyadari sosok Jieun yang hadir di ruangan saat ia baru saja menutup pintu.
"Aku menunggumu."
Yoongi tidak menjawab dan hanya menatap Jieun untuk beberapa detik sebelum ia berjalan ke arah kursi kecil yang ada di kaki ranjang dan kemudian melangkah menuju ruangan lain yang menjadi tempat seluruh pakaian mereka, tanpa menyadari pandangan Jieun yang mengikuti setiap langkahnya.
Ia baru akan menarik baju piama tidurnya ketika sebuah tangan melingkar di perutnya dan hangat yang menjalar diikuti dentuman keras yang menempel pada punggungnya dapat dirasakan dengan jelas.
"Yoongi-ya," suara Jieun terdengar mengalun lembut berlainan akan dentuman keras pada jantungnya dan ia sengaja mengambil jeda dalam usahanya mempersiapkan diri untuk mengutarakan kalimatnya pada Yoongi.
"Terkait permintaan Ibu...bisakah kita mencobanya?"
Ada beberapa detik keheningan itu mengisi sementara Jieun menunggu dengan antisipasi.
KAMU SEDANG MEMBACA
Stay
FanfictionJieun yang tengah meregang nyawa di malam kelulusannya, menemukan dirinya terbangun sebagai wanita dewasa berusia 27 tahun yang telah menikah dengan Min Yoongi, seorang pria berandal berwajah rupawan yang terkenal akan sifat dinginnya saat masa seko...
