1 : Prima Ballerina

2.3K 68 4
                                        


Cahaya mentari pagi memasuki kamarku melewati celah-celah kecil gordenku. Aku terduduk menatap dinding biru kamarku yang tampak begitu polos setelah aku mencabut semua foto-foto yang aku gantung di sana tadi malam. Aku melihat tumpukan rapi foto-foto yang terletak di sudut ruangan, lalu mendekatinya secara perlahan.

"Nana! Ayo makan!" teriak suara seorang perempuan dari bawah-Tante Mona.

Aku pun berbalik dari tumpukan foto-foto itu dan berjalan ke bawah. "Pagi Tante," ucapku dengan senyuman tipis. Aku masih dalam pakaian tidurku, sebuah celana training yang longgar dan kaos ketat yang nyaman.

"Itu ada mie yang tante buat, ayo makan," ujarnya seraya duduk tepat di depanku.

Dengan enggan, aku mengambil garpu dan mulai mengambil sedikit mie dari dalam mangkok yang sudah disediakan di hadapanku. Mie ini enak. Lalu aku mulai mengambilnya lagi dan memasukkannya ke dalam mulutku.

"Hei, penari itu makannya bukan kayak kuli bangunan, ingat ya," celoteh tante Mona sembari terkikik pelan. Aku pun tersenyum mendengarnya. Memang sebagai penari, aku harus menjaga bentuk badanku agar tidak menggangu aktivitas sehari-hariku.

"Nana, hari ini kamu latihan lagi? Mau tante antarin?" tanya tante Mona kepadaku. Aku pun meletakkan garpuku di mangkok yang tinggal seperempat penuh itu. Aku pun terdiam sejenak. Memang aku harus latihan untuk pertunjukan di akhir tahun ini, yang berarti tinggal 3 bulan lagi. Namun entah mengapa aku merasa malas untuk pergi.

"Nana perginya agak siangan aja Tan, soalnya ada janji sama temen mau jalan," ucapku dengan senyuman, lalu melanjutkan memakan mie-ku yang sempat terhenti.

"Oh, kalau gitu tante mau pergi sekarang ya, tante ada meeting sama klien," ucapnya lalu dengan cepat beranjak dari kursinya. Aku menatapnya berjalan ke kamarnya sampai dia menutup pintu kamarnya di belakangnya.

Tante Mona, adik dari ayahku, sudah mengurusku selama tiga tahun. Dia adalah seorang manajer di sebuah perusahaan multinasional yang terkenal. Dialah yang mengurus segala keperluanku ketika aku pindah ke Jakarta. Dialah yang menjadi penyemangatku sejak kepergian Ayah. Ayahku sudah meninggal 3 tahun yang lalu, oleh sebab kanker paru-paru yang mengerogoti tubuhnya yang sudah mulai menua. Lalu, setelah kepergian Ayah, aku tinggal bersama tante Mona. Ibuku sudah tiada sejak aku kecil, oleh sebab itu, aku adalah anak satu-satunya.

Aku terhenyak sedikit melihat tante Mona keluar dari kamarnya dengan pakaian kantornya seperti biasa. Aku pun tersenyum kepadanya. "Hati-hati ya Tan," ucapku.

"Iya, kamu juga, nanti kalau kamu pergi kuncinya diletakkan di tempat yang biasa ya," ucapnya, lalu mengambil tasnya. "Oh iya, juga nanti jangan lupa ambil foto yang dari studio foto kemarin ya," sambungnya lagi.

"Oke Tan," ucapku sambil tersenyum, lalu kuacungkan jempolku. Tante Mona pun keluar dari rumah secepat kilat.

Aku beranjak dari tempat dudukku lalu berjalan ke arah pemutar kaset yang terletak di ujung ruangan. Aku pun mengambil sebuah kaset dari rak disebelahnya, lalu memutarnya. Sebuah lagu klasik karya Johann Sebastian Bach, yang berjudul Air On The G String, pun mengalun lembut memenuhi lantai satu. Aku pun terbuai untuk menari, namun seketika itu juga aku tersadar bahwa aku belum mandi.

Dengan malas aku naik ke kamar dahulu setelah mematikan pemutar kaset dan mengecek ponselku. Sambil mandi, aku meletakkan ponselku diatas washtafel untuk berjaga-jaga apabila seseorang menelponku. Setelah selesai mandi, aku mengenakan sebuah sweater krem longgar dan celana panjang hitam. Kuikat rambutku menjadi sebuah sanggul asal-asalan dan menggunakan kacamataku.

Kumasukkan keping kaset yang kuambil dari pemutar kaset itu ke dalam tas kecil yang berisi botol minum dan sepatuku. Lalu aku mengambil ponselku dan mematikan semua lampu. Kukunci pintu depan lalu kusembunyikan kuncinya di dalam sebuah pot kaktus yang menggantung tepat di atas kepalaku.

Segera setelah menutup pagar, aku pun berjalan ke stasiun kereta. Jalan hari ini termasuk sepi, karena murid-murid sekolah sedang libur dan banyak dari mereka yang menghabiskan liburan mereka keluar kota atau keluar negeri.

Sesampainya di daerah kantorku, aku berjalan sekitar 15 menit dari stasiun dan melihat sebuah gedung bernuansa krem dan biru muda yang menjulang. Aku melihat papan namanya yang bertuliskan "Swan Dance Troupe" dan memasuki gedung itu dengan mantap.

Saat resepsionisnya melihatku, dengan sigap dia langsung berdiri dan menyapaku. "Selamat pagi, Nona," ucapnya. Aku pun tersenyum kecil.

"Sudah berapa kali kubilang agar kau tidak memanggilku nona lagi? Huft, terkadang aku bingung denganmu," ucapku seraya meletakkan tas kecilku di atas meja resepsionis.

"Ah baiklah, kau mau meminta kunci untuk ruangan di lantai 9 kan? Ini kuncinya, dan berlatihlah untuk pertunjukan kita, ingat, kami berharap banyak padamu kali ini," ucap sang resepsionis sambil menyerahkan sebuah kunci bermodel antik.

"Aku tau, aku tidak akan mengecewakan kalian." balasku sambil tersenyum lembut. Dengan cepat aku mengambil tasku dan menekan tombol lift. Lift di depanku berdenting halus dan pintu pun terbuka. Aku memasukinya dan menekan tombol 9. Lift pun berdenting kembali sebelum menutup pintunya.

***

Kumasukkan kunci antik yang kupegang ini ke dalam lubang kunci dan memutarnya sampai terdengar bunyi yang cukup keras. Aku menarik sebuah nafas panjang lalu memutar kenop pintu. Ruangan itu memiliki lantai yang terbuat dari kayu, kaca yang dipasang di dinding dan besi yang berbentuk seperti pipa yang dinamakan barre.

Aku pun duduk di sudut ruangan dan mengganti bajuku menjadi sebuah lowback leotard berwarna hijau kebiru-biruan dan sebuah rok chiffon transparan berwarna hitam. Kubuka tas kecil yang berisi 3 buah sepatu baletku, lalu mengenakan pointe shoes yang sudah sedikit usang. Setelah memastikan bahwa tali sepatuku sudah cukup ketat terikat di kakiku, aku pun berjalan menuju barre dan melakukan sedikit pemanasan agar kakiku tidak sakit nantinya.

Aku melakukan pemanasan seperti biasa selama 15 menit. Namun aku berhenti dan memperbaiki rambutku yang sudah sedikit berantakan. Lalu aku mengambil tasku dan mengeluarkan kaset yang tadi kubawa. Kaset itu memiliki lagu lengkap untuk pertunjukan Swan Lake yang akan dipertunjukkan akhir tahun ini.

Lagu pun mengalun, dan aku menekan tombol skip, memainkan lagu dari adegan kedua dari pertunjukan Swan Lake, dimana aku akan tampil. Aku mengambil posisi dan mulai menari dengan lembut, mengikuti alunan lagu yang dimainkan. Namun, tarianku terganggu dengan sebuah ketukan dari pintu.

"Siapa itu?" tanyaku. Lalu, seorang perempuan yang kukenal, memasuki ruangan latihanku.

"Halo, Nana. Aku ada berita untukmu." ujar perempuan tadi-Lisa, segera setelah menutup pintu ruangan.

"Berita? Berita apa?" tanyaku dengan curiga, karena dari nada Lisa yang berbicara kepadaku, tampaknya ada sesuatu yang tidak beres, atau mungkin itu hanya firasatku saja?

"Kamu akan dikursuskan ke Rusia, karena sekarang kamu adalah balerina utama disini, perusahaan akan mengirimmu ke sana." ucap Lisa.

"Oh.... Aku belum yakin, tapi aku akan usahakan untuk memberikan jawabanku secepatnya." balasku dengan sebuah senyuman tipis.

"Kami menunggu jawaban yang memuaskan darimu." ucap Lisa sebelum menutup pintu ruangan.

Aku terduduk lesu. Kutatap bayanganku di cermin dan muncul sebuah ingatan yang teringat jelas di benakku. Sebuah masa lalu yang tak pernah kulupakan, sebuah ingatan yang selalu diputar layaknya sebuah video di dalam kepalaku.

Ya, hari itu

TBC-

kaya biasa, votes+comments, please?
thank you 😊

Our Shadows |MAJOR EDITING SOON|Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang