Aku sedang asyik berselancar di dunia maya sambil duduk di dalam sebuah restoran berkelas yang terletak di lantai paling atas salah satu gedung pencakar langit di Jakarta. Aku sedang menunggu seseorang, tepatnya kekasihku yang tercinta, Matvei.
Matvei Baby Boo : Darling, kamu dimana?
Nana V. : Aku udah nunggu kamu dari tadi, sayang. Kamu dimana?
Aku memutar mataku sebal.
Sudah setahun berlalu sejak kami berlibur ke Bali, dan hubungan kami sejauh ini lancar dan tak begitu runyam jika ada masalah. Matvei sangat perhatian padaku, dan aku juga begitu padanya.
Namun, aku merasa bingung. Semuanya memang berjalan lancar, tapi aku tidak tahu hubungan ini akan berujung kemana. Aku tidak memaksanya menikahiku atau apa, tapi aku benar-benar butuh kepastian.
Dering ponsel menginterupsi lamunanku, dan aku segera membuka pesan yang baru saja dikirim Matvei.
Matvei Baby Boo : Aku sedang di perjalanan. Maaf, jalan macet banget nih.
Nana V. : Nggak apa-apa kok. Hati-hati ya, jangan ngebut.
Matvei Baby Boo : Gimana mau ngebut kalau jalannya padat gini?
Nana V. : Manatau aja, kan kamu pembalap liar, hahaha
Matvei Baby Boo : Ya sudah ya, see you at the restaurant, darling.
Nana V. : See you!
Aku tersenyum geli melihat percakapan antara Matvei dan aku. Padahal aku cukup kesal karena sudah agak lama aku menunggunya. Tapi aku tak bisa menyalahkannya, apalagi karena macet, sudahlah.
Aku menghela nafas, lalu mengesap tehku yang sudah mulai mendingin sambil melirik sekelilingku, menemukan beberapa pasang mata lelaki yang menatapku dengan tatapan yang ehm... begitulah.
Aku menatap mereka satu persatu dengan tatapan tajam lalu melanjutkan kegiatanku yang tadinya sempat terhenti, yaitu berselancar di dunia maya.
"Nana?" Aku menengadah karena ada seseorang dengan suara familiar memanggilku. Ternyata seorang lelaki bertubuh tegap, dengan wajah yang lumayan tampan. Rasanya familiar melihat wajahnya.
Aku terdiam menatapnya sambil menaikkan sebelah alis seakan mengisyaratkan ya-siapa-ya? kepadanya.
Dia menggaruk tengkuknya gugup. "Ehm, aku Rangga. Lupa sama aku?"
Aku berpikir. Siapa ya dia? Apa aku kenal dengan yang bernama Rangga? Hm...
Ah! Mungkin dia.
"Oh iya, iya.. Rangga, kan? Putranya Bapak Christofan, seingatku. Apa aku salah?"
Dia tersenyum. "Nggak salah kok. Senang bertemu lagi, ya. Nunggu seseorang ya?"
Aku mengangguk kecil. "Iya nih, nunggu pacar aku, hehe.."
Wajahnya tampak tegang untuk sementara, lalu dia berusaha menutupinya. Walau begitu, bagiku, tetap saja tampak bahwa dia terkejut dengan fakta itu.
Aku lalu menjelajahkan mataku melewati bahu Rangga, dan menemukan Matvei yang sepertinya baru saja sampai, dan menatap kami dengan tatapan tajam.
Aku tersenyum kecil pada Rangga. "Eh, itu pacar aku udah datang.."
Rangga berbalik, dan menemukan Matvei yang sudah berdiri tegap tepat di belakangnya. Matvei tersenyum formal, lalu melirikku yang sedang tersenyum dengan sedikit paksaan.
"Halo. Siapanya Nana ya?" tanya Matvei dengan suara datar. Tapi aku tahu, dibalik suara datarnya itu, dia sedang berusaha menyembunyikan rasa cemburunya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Our Shadows |MAJOR EDITING SOON|
RomanceRusia dan Alexandro. Dua kata yang selalu berputar di benaknya, setiap hari. Namun kemudian, datanglah lagi seseorang yang berhasil menginvasi pikirannya dan menghapus jejak Alexandro di dalam hatinya. Takdirkah? Ataukah dia harus melawan orang itu...
