3 : Kejutan

1.1K 64 5
                                        


"Huft." desahku pelan, setelah merapikan dapur yang agak berantakan karena kegiatan masak-memasakku tadi. Seluruh badanku penuh keringat, dan aku memutuskan untuk kembali ke kamar dan mandi setelah menata meja makan untuk makan malam nantinya.

Sesampainya aku di kamar, tasku yang kupakai tadi kubenarkan posisinya, yaitu di dalam lemari. Badanku terasa gerah sekali, dan tanpa mempedulikan apapun lagi, aku memasuki kamar mandi dan segera membersihkan badanku.

Tak butuh waktu lama untukku, dan dalam waktu 20 menit aku sudah selesai, rapi dan wangi kembali.

Tanpa kusadari mataku tertuju pada tumpukan foto-foto berbingkai yang tersusun rapi di sudut kamarku. Aku berjalan pelan ke arah foto itu dan duduk tepat di depannya.

Lalu aku mulai mengambil sebuah foto, menelitinya, lalu meletakkannya di sampingku. Aku meneliti beberapa foto dan melakukan hal yang sama sampai aku melihat foto itu.

Foto dimana mukaku yang merah setelah memasuki rumah hantu bersama orang itu. Dimana orang itu tertawa dengan polosnya melihat wajahku yang merah bagai tomat sangking takutnya.

Sambil memegang foto itu, aku menutup mataku pelan, kembali mengingat-ingat hari itu. Hari dimana aku menangis, bukan karena aku merasa sedih, namun karena perasaan takut dan bahagiaku yang bercampur aduk.

***

"Na, boleh ya kita ke sini?" tanya Alexandro sambil memelas dan menggoyang-goyangkan bahuku.

"Ihh nggak mauu ahh, serem," jawabku sambil menggelengkan kepalaku kuat-kuat, menandakan bahwa aku benar-benar tidak ingin ke situ.

"Kamu kan tau kalau aku itu nggak suka ke rumah hantu walaupun aku tau itu cuma boongan," ucapku lagi, lalu menatap Alexandro dengan tatapan kesal.

"Pleasee, sekali ajaa, kalau kamu takut kamu peluk aku aja--"

"Enak aja kamu, nanti kamu bilang aku modus," timpalku sambil mencubit pipinya yang tirus. Sebenarnya sih tidak bisa dibilang mencubit juga sih, soalnya hampir tidak ada lemak di pipinya.

"Nggak deh, aku nggak bilang kamu modus deh, please my baby my honey?" tanyanya lagi sambil meluncurkan segala gombal yang dapat dipikirkannya.

"Dasar Alexandro! Bisa banget dia gombalin aku gini," batinku kesal sambil menyembunyikan wajahku yang mulai merona merah.

"Yaudah gih, kamu beneran deh, suka banget gombalin aku kalau udah masalah gini," ucapku lalu mendorongnya menuju loket penjualan tiket rumah hantu itu.

Alexandro hanya tersenyum-senyum melihat mukaku yang sedang merona merah seperti tomat ini. Dasar.

Rumah hantu ini memang sedang terkenal di kalangan remaja seperti kami, namun aku tak pernah berniat untuk memasukinya, entah mengapa. Memang sih sejak kecil aku tidak begitu menyukai hal-hal yang berbau horor.

Mungkin dulu aku pernah kelepasan mengatakan bahwa aku ingin memasukinya, namun itu hanya bahan candaan. Tak kusangka Alexandro benar-benar membawaku ke sini.

"Nih, tiketnya udah aku beliin," ucap Alexandro sambil memberikan tiketnya padaku.

"Kamu aja yang simpan deh," ucapku malas.

"Jangan, kalau aku nggak pandai nyimpan barang, nanti hilang pula," balasnya lagi, membuatku tidak bisa menolak tiket yang sudah diletakkannya di atas telapak tanganku.

"Memang deh, kamu suka manfaatin aku," gerutuku.

"Heheheheheh, nggak kok, cuma kamu itu emang orangnya teratur banget," ucapnya sambil mencubit pipiku lembut.

Our Shadows |MAJOR EDITING SOON|Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang