29 : It's a Good Thing

296 20 0
                                        

"Hei, Mat."

"Yes, baby?"

"Boleh aku datang ke kantormu hari ini? Aku merindukanmu." tanyaku agak ragu.

"Tentu saja, datanglah. Kamu tahu alamatnya, kan?" ucapnya dengan riang dan gembira.

"Yeey! Tentu saja aku tahu! Baiklah, see you later baby!" balasku girang.

"Okay, see you later." ucapnya.

Aku pun tersenyum sumringah sambil memutuskan sambungan telepon. Karena aku masih dalam masa cuti yang diminta Tante Mona-dia menginginkanku untuk pensiun saja sebenarnya, namun aku tak suka dengan keputusan itu dan akhirnya memilih untuk cuti selama 2 tahun-itu menyebabkan aku semacam tak memiliki kerjaan.

Semua yang bisa kulakukan adalah pelan-pelan mengurus rencana pernikahanku, melihat-lihat gedung sana-sini, mencoba makanan dari catering ini dan itu, melihat-lihat contoh dekorasi bunga, memilih pemandu nyanyian dan band yang akan mengiringi, dan lain-lain. Sebenarnya sangat repot, tapi Tante Mona sudah hampir mengurus segalanya, apalagi dengan tema yang sudah ditentukan, dan waktuku hampir terlihat benar-benar senggang.

Aku menyiapkan tas tangan hitamku dan mengisinya dengan berbagai barang yang biasa kubawa. Aku mematut diriku di depan cermin dengan make-up yang tipis-tipis, lalu setelah mengecek penampilanku sekali lagi, aku melenggang keluar dari rumah dan pergi menuju kantor Matvei.

***

Kantor Matvei sangatlah menakjubkan. Aku tak tahu bagaimana dia bisa menyelesaikan pembangunan yang bisa dibilang megah ini dalam waktu yang cukup singkat, namun aku sangat terkesan. Dinding berwarna putih bersih yang menenangkan, lantai marmer yang bercorak sederhana, dengan dekorasi bergaya British yang kental. Wow.

High-heels ku beradu dengan lantai marmer itu, menghasilkan suara yang selalu kudengar dari sepatu orang kantoran. Seumur-umur, aku tak pernah pergi ke gedung perusahaan dengan menggunakan pakaian seperti orang kantoran begini.

Aku mendatangi resepsionis yang duduk dengan serius menatap komputer. Aku berdiri di hadapannya, namun dia sama sekali tak menyadari kehadiranku. Aku berdeham cukup keras dan akhirnya dia mendongak lalu tergesa-gesa berdiri.

"Maaf, saya tak menyadari bahwa anda sudah menunggu. Ada yang bisa saya bantu, nona?" tanyanya sopan setelah meminta maaf.

Aku tersenyum simpul. "Tak apa-apa. Saya mencari Bapak Matvei Nikolaiovich. Bisakah saya bertemu dengannya?" tanyaku sopan. Tak mungkin aku langsung berkata 'Saya calon istrinya Bapak Matvei, bisa antar saya ke ruangannya?', bukan? Terkesan aneh dan menyombongkan diri.

"Apakah nona sudah membuat janji dengan Bapak Matvei? Beliau memang sedang di ruangannya, namun saya tak yakin apakah dia bisa ditemui sekarang."

"Saya sudah membuat janji dengan Bapak Matvei tadi, silahkan tanyakan saja padanya, bilang saja Nana sudah datang." ucapku.

Dia mengangguk kecil, lalu berbalik sambil menekan nomor ekstensi yang akan terhubung dengan Matvei. Dia berbicara dengan suara rendah sambil mengangguk dan meminta maaf dengan gugup.

"Bu, mari saya yang antar ke atas." tawarnya saat dia menutup telepon.

Aku mengangguk kecil, dan mengikutinya berjalan menuju lift. Kami memasuki lift yang kosong, lalu dia menekan tombol nomor 35, kemungkinan besar lantai ruangan Matvei.

"Bu, maaf, saya tak tahu anda..."

"Tidak apa, saya juga tidak menyombongkan status saya sebagai calon istri bos kamu. Tapi, lebih baik tidak usah memanggil saya dengan bu, panggil nona saja." ucapku dengan senyuman simpul.

Our Shadows |MAJOR EDITING SOON|Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang