11 : Tantangan

562 39 5
                                        

Aku memegangi bibirku yang baru saja dicium oleh Alexandro. Sialan anak itu! Suka-sukanya aja nyosor bibir anak orang! Amarahku kembali melesat naik ke ubun-ubun dan hampir saja meledak jika tidak terdengar suara yang turun dari surga itu menyelamatkanku—yang sebenarnya hanyalah suara perutku yang berbunyi.

Baru saja kuingat kalau aku belum makan malam. Apa di dalam koper ada roti ya?

Aku berjalan gontai ke arah koperku yang terletak di sudut kamar, lalu membukanya. Mencari sebungkus roti atau sejenis makanan lain yang setidaknya bisa kugunakan untuk mengganjal perutku.

Tidak ada apa-apa. Bahkan remah roti pun tak ada. Hah! Remah roti? Memangnya aku burung yang sanggup hanya memakan remah roti?

Akhirnya detik itu aku memutuskan untuk mengendap-endap keluar dan setidaknya mencari beberapa suap nasi. Tetapi, sebelum keluar, sebaiknya aku mengganti bajuku terlebih dahulu.

Aku mengambil sebuah tanktop putih dan celana training tiga perempat berwarna hitam dari koper. Dan tidak lupa sebuah jaket santai berwarna abu-abu.

Perlahan aku mengendap-endap ke arah pintu, lalu memutar kenopnya. Kepalaku celingak-celinguk, mencari sesosok Alexandro yang mungkin saja sedang berada di luar, namun untungnya tidak ada orang. Bagus.

Aku berjalan pelan menuju meja makan, dan menemukan hidangan yang masih terletak manis di situ. Meskipun sudah dingin dan sedikit mengeras, tapi lebih baik daripada tidak memakan apa-apa sama sekali.

Kusendokkan beberapa sendok nasi ke atas piringku perlahan tapi pasti, lalu mengambil lauk dari piring yang terletak di dekatnya. Setelah mengambil semuanya, aku pergi ke arah dispenser air sembari memegang sebuah gelas untuk mengambil air.

Apakah lelaki itu sudah makan?

Tanpa kusadari aku memikirkannya lagi. Tapi mau bagaimana lagi? Dia yang memasak ini semua.

Lagipula, setelah kulihat-lihat, semua makanan yang terhidang ini sama sekali tidak tersentuh. Hati nuraniku pun tergerak, dan aku mengambil sebuah piring lain dan mengisinya. Apa salahnya? Toh dia juga belum makan.

Aku membawa piring dan gelasku ke dalam kamar, lalu meletakkannya di atas sebuah meja kecil. Lalu aku kembali ke meja makan, membawa piring Alexandro, lalu menaruhnya tepat di depan pintu. Beserta secarik kertas.

Makan, nanti sakit. -N

Aku lalu mengetuk kamarnya sekuat tenaga, agar dia segera menemukan makanan itu, lalu melesat masuk ke kamarku sendiri dan menguncinya. Diriku pun berjalan ke arah meja dengan kursi kecil, dan memulai makan malamku.

Kuraih ponselku yang terletak di sebelah gelas, dan mengecek jam Indonesia. Aku berencana untuk menelpon Tante Mona sekedar untuk mengatakan bahwa aku baik-baik saja. Sekarang di Indonesia jam 11. Hm, mungkin lebih baik aku menelponnya.

Aku menekan nomor Tante Mona dari daftar kontakku. Setelah beberapa kali berdering, akhirnya telepon diangkat.

"Halo, Tante Mona? Ini Nana," sapaku ceria.

"Nanaaa!! Tante pikir kamu kenapa-kenapa! Kok kamu baru sekarang telpon?" tanyanya dengan sebuah lengkingan, membuatku menjauhkan teleponku saat dia berteriak dan mendekatkannya lagi saat aku ingin menjawab.

"Ehehehe, baru punya waktu sekarang sih Tan, tadi ziarah ke makam Papa, Kakek, sama Nenek dulu sih soalnya," jawabku dengan sebuah kekehan.

"Tadi kamu udah ziarah? Ih Tante udah agak lama ini belum kesana," celoteh Tante Mona dari seberang sana. Sebenarnya Tante Mona sudah hampir 3 kali pergi ke Rusia selama 3 tahun terakhir ini, namun setiap kali dia mengajak, aku menolak dengan alasan sibuk. Aku belum siap. Pergi ke Rusia berarti mengingat-ingat masa lalu.

Our Shadows |MAJOR EDITING SOON|Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang