6 : Menuju Rusia

817 44 9
                                        


"Para penumpang yang terhormat, sebentar lagi kita akan mendarat di Bandara Internasional Kuala Lumpur. Mohon tegakkan sandaran kursi, melipat meja dan membuka penutup jendela yang ada disamping anda. Terima kasih."

Aku membuka headphone biru-ku untuk mendengarkan pengumuman yang diputar, pertama berbahasa Indonesia, kemudian dalam bahasa Inggris. Aku kembali memasang headphone-ku acuh tak acuh dan tenggelam kembali ke novel yang terletak ditanganku.

Novel berjudul 1Q84 karya Haruki Murakami. Karya-karyanya lumayan menarik untukku dan dia mungkin sudah menjadi salah satu dari beberapa penulis yang aku suka.

"Na, asik banget sih bacanya," celoteh Alexandro sembari mengintip halaman buku yang kubuka.

"Daripada lo, kerjaannya tidur doang daritadi," cibirku balik kepadanya sembari menjulurkan lidahku.

"Gue sering mikir, kenapa kutu buku kaya lo gak pake kacamata," ucapnya sambil berpangku tangan. Sok berpikir ini orang.

"Gue ada, cuma males pakenya," jawabku pendek, lalu aku tersenyum jahil. "Hayo ketahuan sering mikirin gue nih ya kan, hayoo hayooo," godaku padanya. Di pipinya dapat kulihat semburat berwarna merah bermunculan walaupun tidak begitu kentara. Tunggu, semburat merah? Apa aku tidak salah lihat?

"Emangnya kenapa? Gak boleh ya?" tanyanya dengan mulut yang dikerucutkan.

"Hati-hati nanti jadi suka," ucapku sambil terkikik. Dapat kurasakan pesawat yang kunaiki menurun, membuat perutku terasa sedikit mual dan ngilu.

"Lah kan gue emang-" kata-katanya terhenti ketika roda-roda pesawat dengan sedikit kasar menyentuh tanah, membuatku sedikit melompat diatas kursiku. Aku mencengkram pegangan kursi dengan kuat ketika pesawat berlari cepat diatas landasan. Lalu kecepatan pesawat yang sangat kencang itu perlahan melambat. Pesawat pun berjalan perlahan berjalan diatas landasan pacu yang cukup mulus itu dan memutari Bandara Internasional Kuala Lumpur, lalu berhenti dengan sempurna.

"Para penumpang yang terhormat, kita telah sampai di Bandara Internasional Kuala Lumpur....."

Aku kemudian mengacak tasku, mencari tiket yang kuperlukan untuk transit nantinya.

"Bagi penumpang yang akan mengikuti penerbangan transit, diharapkan segera menuju transfer counter, terima kasih sudah menggunakan maskapai kami."

Para penumpang lainnya sudah bersiap-siap keluar sembari mengeluarkan barang-barang dari cabin pesawat yang terletak diatas kepala.

Aku kemudian teringat pada kalimat Alexandro yang tiba-tiba terputus ketika pesawat mendarat. Aku pun menoleh padanya yang tampak sibuk menghidupkan smartphone-nya.

"Al, tadi lo bilang apa?" tanyaku. Dia lalu mengalihkan pandangannya dari layar ponselnya dan menatapku serius. Dapat kurasakan kerongkonganku perlahan mengering, membuatku harus menelan ludahku beberapa kali.

Tiba-tiba dia tersenyum. "Gak ada apa-apa kok, serius banget lo," ucapnya sembari terkekeh geli.

"Hah?" tanyaku tidak percaya.

"Gak ada lo, muka serius lo itu lucu banget sumpah HAHAHAHAH" ucapnya sambil tertawa terbahak-bahak. Membuat beberapa penumpang pesawat lainnya yang sedang berdiri menatap kearah kami dengan berbagai ekspresi. Sebagian tersenyum penuh arti, sebagian menatapku bingung, dan menatap Alexandro seperti menatap orang gila. Memang dia sedikit gila.

"ALEXANDRO!" teriakku tepat di telinganya. Semoga dia menjadi sedikit jera dengan itu. Aku kemudian menjewer telinganya, yang kemudian memerah sempurna setelah aku melakukannya.

"Wadaww!! Lo ballerina apa pekerja tambang sih?! Tenaganya kaya tukang batu!" sungutnya sembari mengusap telinganya yang memerah itu. Aku pun memberikan tatapan maut kepadanya ketika dia mengatakan kalimat itu.

Our Shadows |MAJOR EDITING SOON|Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang