Aku mengecek koperku yang sedang tergeletak di atas tempat tidur dalam posisi terbuka. Dalam dua hari, aku akan berangkat ke Rusia. Jadi, aku ingin benar-benar memeriksa barangku malam ini agar besok aku tidak perlu sibuk-sibuk memasukkan begitu banyak barang. Hanya peralatan mandilah yang perlu kutambahkan besok.
Aku menoleh ke atas pintu, melihat jarum jam yang sudah menunjukkan pukul 11 malam. Besok jam 11.30 siang aku akan pergi bersama Hana, sekedar melepas rindu dan bergosip seperti biasa.
Aku melihat tumpukan leotard yang terletak di samping guling, lalu mengambil dan menghitung jumlahnya. Ada lima leotard yang akan kubawa. Sepertinya akan cukuplah untuk latihan yang akan kujalani disana. Lagipula hanya sebulan, dan lagi kami akan tinggal di apartemen yang disewa oleh perusahaan. Pastinya aku bisa mencuci leotard-leotard ku ini. Lagipula siapa yang mau membawa koper ini jika dia terlalu berat?
Aku lalu memasukkan leotard yang berada di tanganku ini ke dalam koper. Kususun letaknya dengan rapi di ujung kanan atas koper. Lalu aku pun memasukkan beberapa barang-barang penting lainnya. Setelah berberes, kulihat jam yang terletak diatas pintu. Jam sudah menunjukkan pukul 11.45, tapi anehnya kantuk sama sekali belum menyergapku.
Kupindahkan koper biru tua itu ke atas lantai, lalu melempar badanku sembarangan keatas tempat tidur dan memejamkan mata perlahan, berusaha merasa ngantuk. Namun, lagi-lagi, rasa kantuk sepertinya tidak berpihak padaku hari ini. Sudahlah, lebih baik menyerah untuk tidur. Aku kembali berdiri dan berjalan ke arah rak buku yang bersandar dengan manis pada dinding.
Kusapu perlahan buku yang berjejer dengan rapi disana dengan jariku, membaca setiap judulnya satu persatu untuk menemukan buku yang kucari. Tanganku lalu terhenti pada sebuah buku yang sedikit lebih besar daripada buku-buku lainnya. Buku ini terlihat sedikit lebih usang, dan lebih berdebu karena dia terletak di rak paling atas dan di bagian paling ujung. Aku pun mengambilnya secara perlahan. Lalu, kubaca judul yang tercetak jelas disana.
Buku Tahunan SMA Bintang Jaya
Angkatan Tahun 2011/2012
Kutatap buku itu dengan sorotan mata sendu. Betapa kumerindukan segalanya yang telah terjadi di masa-masa saat aku masih berpakaian putih abu-abu. Teman-teman seangkatan yang serasa solid karena katanya sudah mau lulus. Guru-guru yang kini sudah jarang kami lihat. Gedung sekolah yang sesekali kulewati ketika aku hendak berangkat ke gedung perusahaan atau ketika aku akan ke mall.
Aku pun merindukan perasaanku yang terperangkap dalam ketidakpastian.
Walaupun sakit, tetap saja, aku merindukannya. Padahal pada saat itu kami bertemu. Walaupun sekilas, aku bisa merasakan kupu-kupu kembali beterbangan didalam perutku, membawa sensasi aneh yang membuatku tidak pernah nyaman. Padahal aku sudah berjanji pada diriku sendiri untuk tidak mengingatnya lagi, dalam kata lain, melupakannya.
Namun, tubuhku masih mengingat sentuhannya. Aku masih mengingat dengan jelas bagaimana dia biasanya mengacak rambutku, mengusap kepalaku sangking gemasnya, mencubit pipiku dengan usil yang berhasil membuat pipiku sedikit melar, dan tentu aku masih mengingat kehangatan pelukan yang selalu dia berikan ketika aku merasa gundah atau sedih. Sejujurnya, aku masih bisa merasakannya sampai saat ini, walaupun samar-samar.
Aku tidak ingin berbohong kepada diriku sendiri tentang perasaanku padanya. Setelah 3 tahun berlalu, mengapa aku masih menyayangi dan peduli padamu, Alexandro?
***
Alexandro POV
Sebulan sebelum keberangkatan ke Rusia
Dengan gugup, gue mengamit erat-erat kartu nama orang terpenting di perusahaan tempat Nana bekerja. Aku menelan ludahku dengan susah payah, lalu melangkahkan kakiku menaiki tangga memasuki gedung itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Our Shadows |MAJOR EDITING SOON|
RomanceRusia dan Alexandro. Dua kata yang selalu berputar di benaknya, setiap hari. Namun kemudian, datanglah lagi seseorang yang berhasil menginvasi pikirannya dan menghapus jejak Alexandro di dalam hatinya. Takdirkah? Ataukah dia harus melawan orang itu...
