9 : Rusia

586 40 7
                                        

12.05 waktu Moscow

Bandara Internasional Domodedovo

Nana POV

Halo, Rusia.

Sudah berapa lama aku tidak kesini? Haha, mungkin sudah beberapa tahun, sejak Ayah meninggal. Ya, ayahku adalah lelaki keturunan Rusia. Sebenarnya nama asliku bukanlah Nana Sophia Claren, melainkan Nana Viktorovna Volkova.

Nana Sophia Claren hanyalah nama panggung semata. Tapi sepertinya sekarang hampir semua orang sudah tahu nama asliku, hahaha.

Namun, tanah Rusia yang lembab ini menyimpan banyak kenangan yang cukup suram untukku.

"Udah siap lepas rindunya sama kampung halaman?" goda Alexandro.

"Lepas rindu gigimu! Siapa yang mau lepas rindu, huh." gerutuku kesal melihat laki-laki satu ini menggodaku.

"Kalo memang lepas rindu ya bilang aja, gak usah lagak-lagak gitu," balasnya.

"Apaan sih lo. Biseng." tukasku sebal.

Dia hanya meringis membalas gerutuanku yang terkadang memang sangat pedas. Hahahahaha.

Kami berjalan menuju tempat pengambilan bagasi yang berupa konveyor yang berputar. Aku melihat koperku dan langsung menurunkannya dengan bantuan Alexandro. Tentu saja jika dia hanya berdiri disana tanpa membantuku, aku akan benar-benar mengulitinya hidup-hidup dan kumutilasi menjadi beberapa potongan.

"Udah kan? Barang lo cuma itu kan?" tanyaku sembari menunjuk kearah koper hitamnya.

"Yep."

Aku mengacungkan jempolku, lalu mengancingkan jaketku. Udara dingin semakin terasa, membuatku joget-joget terkejut sendiri. Kueratkan simpulan selendang dileherku, agar udara dingin tidak begitu menusuk disitu.

"Ayo, kita cari taksi dulu," ajakku pada Alexandro. Dia hanya mengangguk sebagai jawaban dan aku berjalan cepat keluar untuk mencari taksi yang tak berpenumpang.

Banyak taksi yang dapat kami naiki disini, tapi sangat sedikit orang Rusia yang bisa berbahasa Inggris. Tidak, bukan aku tidak bisa berbahasa Rusia. Aku lumayan fasih dalam berbahasa Rusia namun aku juga ingin agar Alexandro dapat juga dengan leluasa berbicara di dalam taksi, bukan hanya aku yang notabene bisa berbahasa Rusia.

"Miss, you need taxi?"tanya seorang pengemudi taksi didekatku.

"Ah yes," jawabku ketika mendengarnya berbahasa Inggris. Kenapa bisa cepat gini? Padahal kan menurut survei, jarang sih orang Rusia bisa bahasa Inggris. Tapi ya jarang bukan tidak ada.

"Please, your baggage." jawabnya seraya mengambil koperku dan Alexandro yang dengan cepat kami berikan.

Aku dan Alexandro memasuki bangku belakang taksi dan menunggu sang pengemudi tadi siap memasukkan barang kami ke bagasi. Segera setelah dia menutup kap bagasi, dia memasuki taksi dan tentunya duduk di bangku pengemudi.

"Where are we going, miss?" tanyanya, sembari menurunkan kecepatan kipas AC dan menaikkan suhunya. Tampaknya dia mengerti dengan kondisi badanku yang memang sudah berjoget sendiri dari tadi.

"Klevinsky Apartment in Smolenskaya," jawabku sembari membaca itinerary yang diberikan oleh Pak Rendra.

"Yes, miss." balasnya cepat lalu menghidupkan mobil dan meninggalkan terminal.

***

"So miss, where do you come from?" tanya supir taksi yang membawa kami ini.

"Ah, we're from Indonesia," jawabku.

Our Shadows |MAJOR EDITING SOON|Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang