Zenovia mengajak seluruh keluarganya termasuk Simba untuk ber-apparate ke Malfoy Manor. Sebenarnya ia tidak setuju untuk kembali ke Malfoy Manor karena disana masih menjadi tempat perkumpulan death eater.
Namun karena permintaan Lucius dengan alasan agar tidak merepotkan Zenovia yang harus mengantarkan bolak balik, dengan terpaksa Zenovia menyetujuinya.
Mereka sampai di titik apparate dan segera memasuki Manor. Tidak ada yang berubah sejak terakhir kali mereka pergi darisan, hanya saja saat ini tidak banyak death eater disana. Sepertinya mereka sedang memburu para muggle.
Mereka disambut oleh pelukan Bellatrix saudari Narcissa. Setelahnya semuanya kembali kekamar masing-masing.
Draco yang melihat gadisnya tengah sibuk membereskan pakaiannya itu pun memeluknya dari belakang. Berniat menganggu Zenovia namun ia urungkan. Setelah merasakan tubuh Zenovia yang sedingin es, walau nyatanya tubuh Zenovia selalu dingin namun kali ini tidak seperti biasanya ini lebih dingin.
Draco segera membalikkan tubuh Zenovia agar bisa menatap Zenovia. Dilihatnya wajah Zenovia yang pucat.
"Zee, are you oke? Apa ada yang sakit?" Tanya Draco panik.
"It's okey, Draco. I'm fine."
"Tubuhmu?"
"Aku lupa, aku harus segera keluar untuk berjemur. Kau disini saja aku akan bersama Simba."
Draco hanya diam menuruti perkataan Zenovia. Lagi pula ia tidak kuat terkena panas matahari yang menyengat saat tengah hari. Sejak dulu ia bertanya-tanya siapa sebenarnya Zenovia, gadis yang menjadi istrinya itu.
Banyak hal yang tidak Draco tau. Zenovia penuh rahasia dan dia harus membuka rahasia Zenovia. Pikir Draco.
Draco menatap Zenovia yang saat ini tengah merebahkan tubuhnya dengan badan simba sebagai bantalnya. Ia menutup matanya menikmati cahaya matahari yang mengenai langsung tubuhnya. Draco berpikir, bagaimana bisa tubuh Zenovia baik-baik saja terkena sinar matahari yang menusuk kulit.
"Siapa sebenarnya kau, Zee?" Tanya Draco pada dirinya sendiri.
Entah sudah berapa kali Draco bertanya, namun ia tidak pernah mendapatkan jawabannya. Zenovia menutup dengan rapi identitas dirinya.
Lamunan Draco terhenti saat mendengar pintu kamarnya terbuka. Ternyata ibunya. Narcissa masuk namun tidak melihat keberadaan Zenovia.
"Dimana Zee?" Tanya Narcissa pada Draco.
Draco menjawab dengan mengarahkan pandangannya keluar jendela. Narcissa mengikuti arah pandangan Draco dan mengangguk paham.
"Bella ingin kau turun." Ucap Narcissa.
Draco turun memenuhi panggilan bibinya itu. Betapa terkejutnya dia saat melihat Harry Potter dan temannya yang dipegangi oleh beberapa death eater. Namun ada yang aneh dengan wajah Harry.
Draco diminta untuk mengenali Harry. Tentu saja ia mengenali Harry, karena siapa lagi dia yang selalu pergi dengan teman mudblood dan blood-traitor yang selalu memakai kacamata bulat dan memiliki tanda petir didahinya.
Draco sangat ingin mengungkapkan apa yang ia tau, tapi jika ia melakukan itu maka Harry akan dibawa pada Voldemort dan dihabisi olehnya. Masa depan dunia sihir ada pada Harry, pikir Draco. Maka ia terpaksa berbohong dan mengatakan bahwa ia tidak mengenali Harry.
Ia berharap dengan itu, Harry dapat bebas dan segera membunuh Voldemort maka nanti seluruh keluarganya dapat hidup kembali tanpa bayang-bayang Voldemort yang menakuti mereka.
KAMU SEDANG MEMBACA
UNBREAKABLE VOW ll D.M [END]
Fanfiction"aku mencintai mu" "siapa yang peduli dengan cinta, yang aku inginkan hanyalah kepuasan" Bagaimana jadinya jika keturunan terakhir keluarga Malfoy berpasangan dengan keturunan terakhir keluarga Gaunt? __________________________________ Cerita Harr...
![UNBREAKABLE VOW ll D.M [END]](https://img.wattpad.com/cover/272414931-64-k833943.jpg)