Akhir-akhir ini Zenovia lebih banyak menghabiskan waktunya bersama dengan Kai.
Dia merasa lebih bahagia saat bersama Kai, Zenovia bisa merasakan rasanya tersenyum dan tertawa dengan tulus saat ia dekat dengan Kai. Hari-hari Zenovia terasa lebih berwarna dari sebelumnya.
Ia akhirnya merasakan bagaimana rasanya dihargai menjadi seorang wanit. Tanpa teriakan, tanpa pukulan, dan tanpa amukan. Hidupnya menjadi sedikit lebih tenang.
Banyak hal yang berubah dalam hidupnya. Seperti ia jadi menyukai perpustakaan. Zenovia sering menemani Kai belajar untuk NEWT nya.
Kai tidak pendiam seperti yang orang katakan. Ia bisa sangat jahil jika sudah dekat dengannya. Kai sering membantu Zenovia dalam beberapa tugasnya.
Sesaat Zenovia bisa melupakan masalahnya dengan Draco. Bahkan Zenovia tidak tau lagi bagaimana keadaan Draco saat ini. Karena ia sudah jarang bertemu dengan Draco dan lebih sering bersama Kai.
Draco sangat merasa kesepian. Ia kehilangan dua orang yang ia cintai sekaligus. Kehilangan Astoria tidak sesakit saat ia kehilangan Zenovia.
Draco benar-benar menyesal atas apa pun yang ia perbuat pada Zenovia dulu. Menyakitinya, memiliki kekasih, saat mereka sudah memiliki hubungan pernikahan, bercumbu bahkan bercinta dihadapan Zenovia.
Saat ini Draco benar-benar membutuhkan pundak untuk sandarannya. Ia benar-benar lelah atas tugas yang ia bawa saat ini. Draco hanyalah seorang anak berusia enam belas tahun yang seharusnya masih menikmati masa mudanya dengan kenakalan yang ia lakukan. Bukan melakukan tugas pembunuhan seperti ini.
Perginya Zenovia dari sisi Draco semakin memperburuk keadaan Draco. Ditambah terkadang ia melihat Zenovia tersenyum atau pun tertawa secara tulus bersama pria yang tempo hari dicium oleh Zenovia membuatnya iri. Senyuman dan tawa itu tidak pernah Zenovia tunjukan pada Draco.
Draco hanya ingin Zenovia kembali padanya saat ini dan ia akan berjanji memperbaiki segalanya dengan Zenovia.
"Jika kau mencari Katie Bell, maka dia tidak ada. Dia dipindahkan ke ST. Mungos."
Draco terkejut mendengar suara Zenovia. Draco langsung pergi meninggalkan Zenovia begitu saja.
"Ternyata begini rasanya menjadi dirimu, Draco." Zenovia menginterupsi sehingga Draco berhenti berjalan.
"Ternyata begini rasanya menjadi dirimu, Zee." Ucap Draco tanpa membalikkan badannya.
Zenovia terkekeh sebentar. "Kau tidak akan pernah merasakan menjadi diriku. Setidaknya aku tidak pernah bercinta dengan orang lain selain dirimu, Draco."
"Hurts to see you with someone else, Zee."
"Kau tidak akan pernah merasakan menjadi diriku, Draco."
Mereka berdua terus berbicara tapi tidak menjawab pekataan satu sama lain, melainkan saling mengungkapkan perasaan satu sama lain.
"Saat Astoria pergi aku sama sekali tidak merasakan sakit, namun saat kau pergi seperti ada yang hilang dalam diriku."
"Saat aku bersama mu yang aku rasakan hanyalah kepedihan. Aku merasakan kebahagiaan saat bersama dengan orang lain." Zenovia menarik nafasnya sebentar, kemudian melirik Draco. "Aku harus menjauh darimu demi kebahagiaanku sendiri, Draco."
Mendengar ucapan Zenovia itu membuat hati Draco rasanya berpindah tempat. Dadanya sesak, tubuhnya bergetar dan lemas.
Zenovia menarik napasnya dalam sebelum ia melanjutkan kata-katanya. "Sekarang kau harus memilih antara aku atau Astoria."
Mendengar Zenovia memintanya untuk memilih, hal itu semakin membuat Draco bingung. Draco tidak akan bisa memilih diantara keduanya, karena Zenovia dan Astoria mampu membuat hidupnya sempurna.
KAMU SEDANG MEMBACA
UNBREAKABLE VOW ll D.M [END]
Fanfiction"aku mencintai mu" "siapa yang peduli dengan cinta, yang aku inginkan hanyalah kepuasan" Bagaimana jadinya jika keturunan terakhir keluarga Malfoy berpasangan dengan keturunan terakhir keluarga Gaunt? __________________________________ Cerita Harr...
![UNBREAKABLE VOW ll D.M [END]](https://img.wattpad.com/cover/272414931-64-k833943.jpg)