Call me Mpiw!
Dua gadis nampak duduk di salah satu taman komplek. Keduanya sama sama membisu, tak tertarik untuk membuat percakapan, mereka lebih tertarik memandangi rumput yang sengaja di tanam di taman itu.
Hingga helaan nafas dari Jennita Anatasya mengikis kesunyian di sana.
"Mending kita pulang aja Lis, udah sore, jam pulang sekolah juga udah lewat." Ucap Jenni. Benar, saat ini jam telah menunjukan pukul 16.30 itu tandanya jam pulang sudah lewat 30 menit yang lalu.
"Lo duluan aja Jen, gue masih betah di sini." Jawab Lisa tanpa menoleh pada Jenni.
"Tapi lis--"
"Jen, gue butuh sendiri Lo gak usah khawatir gue akan baik baik aja, gue bisa jaga diri kok." Jawab Lisa diiringi senyuman yang menghiasi bibirnya, senyuman palsu tepatnya.
Jenni menghela nafasnya pasrah, benar, sahabatnya ini memang butuh waktu sendiri untuk sekedar melepas beban pikirannya, "Yaudah kalo itu mau Lo, gue tinggal ya? Jaga diri baik baik jangan pernah lakuin hal gila. Dan jangan pulang larut malam!" Ucap Jenni.
Lisa mengangguk, lalu tersenyum lagi.
"Gue duluan ya." Ucap Jenni kemudian melangkahkan kakinya meninggalkan taman dekat komplek area perumahannya.
Sebelum Jenni benar benar meninggalkan Lisa ia sempat bergumam, "Kenapa Lo bisa sekuat ini Lis?"
Kemudian Jenni meninggalkan area taman. Bertepatan dengan itu pertahanan Lisa runtuh. Lisa menangis sejadi jadinya seorang diri, tepat dibawah langit orange yang sebentar lagi berubah gelap.
"Kenapa kamu tega sih Jung? Apa kamu nyesel punya cewek kaya aku hiks...hiks...hiks...." Ujar Lisa kemudian kembali menumpahkan rasa sakit dalam hatinya lewat tangisan yang menggema di taman sepi itu.
Bukannya Lisa lebay, cengeng, atau lainnya Lisa hanya terlampau sakit dan kecewa, meski pemicu pertengkarannya bukanlah hal yang serius tapi, tetap saja ini pertengkaran terhebat yang pernah Lisa alami dalam hubungannya selama tiga tahun ini.
"Kenapa orang orang selalu ngelepas bebannya pake cara nangis sendirian? Padahal kalo berbagi beban yang dipikul lebih ringan kan?"
Isakan Lisa terhenti ketika mendengar suara seseorang, Lisa pun mendongak---dan alangkah terkejutnya ketika melihat siapa orang yang baru saja berbicara padanya.
"Eh lo ternyata?" Orang yang berdiri di hadapan Lisa tak kalah terkejut ketika lisalah yang ada di hadapannya.
"Haruto kan?" Tanya Lisa memastikan.
Orang itu---Haruto Al Ghifari menganggukan kepalanya, kemudian duduk di samping Lisa tanpa permisi.
"Ngapain kak nangis di sini sendirian? Gak takut apa, udah sore loh ini." Ucap Haruto, entah kenapa haruto bisa bicara banyak seperti ini padahal biasanya dia sangat malas untuk berbicara banyak.
Lisa diam, ia heran dengan pemuda yang memiliki usia di bawahnya ini, rumor mengatakan jika orang di hadapannya ini sangat pendiam, tak peduli terhadap sekitar kecuali pada orang terdekatnya, tapi kenapa ia merasa jika pemuda di hadapannya ini peduli terhadap dirinya padahal dirinya tak dekat dengannya, Lisa hanya tau nama serta orangnya saja tak lebih.
"Bentar, katanya Lo pendiem kok banyak omong gini?" Jangan heran dengan Lisa, dia memang to the poin orangnya, makannya ia langsung bertanya pada Haruto.
Haruto mengangkat bahunya, "gak tau juga, cuma lagi pengen ngomong aja."
Kok jawabannya gitu sih?, Kira kira itulah yang Lisa pikirkan.
KAMU SEDANG MEMBACA
YUPi[LK]✓
Fanfic[⚠️DILARANG KERAS UNTUK PLAGIAT⚠️] "Yupi is my life" Begitu selogan yang tercantum dalam jiwa serta raga gadis berwajah bak boneka Barbie itu. Tapi tunggu, jangan berpikir jika gadis berwajah bak boneka Barbie itu memiliki sifat yang lemah lembut...
![YUPi[LK]✓](https://img.wattpad.com/cover/255089380-64-k737505.jpg)