Gara dan Melody kini sama-sama diam. Mereka berada di apartemen Gara. Melody menunduk sambil memilin rok sekolahnya. Sedangkan Gara masih menatap Melody dengan dingin. Sudah cukup lama mereka berdiam.
"Gue mau Lo jujur" Gara membuka pembicaraan. Melody tetap dengan posisinya semula. Jujur Melody takut sekarang, ia harus apa.
"Dek tatap kakak!" Ucap Gara tegas tapi lembut. Posisi Gara sekarang serba salah, stay atau bertahan. Dengan pelan Melody menatap wajah laki-laki di sampingnya. Melody menatap mata Gara dengan mata sayunya.
"Kita selesaikan sekarang!"
"Emm... Me-melody..." Suara Melody bergetar hebat. Ia benar-benar takut. Tatapan Gara menuntut Melody untuk berkata secepatnya.
"Apapun itu gue akan terima nantinya" pasrah Gara.
"Melody enggak ada hubungan apa-apa sama kak Rafa" bohong Melody sambil menatap Gara dengan takut-takut.
"Dan kita sampai sini saja kak" lirih Melody. Jantung Gara seperti dilempar ribuan belati. Maksud gadis yang berada disampingnya ini apa?
"Why?" Lirih Gara.
"Melody bukan yang terbaik buat kakak. Sebelum terlalu dalam kita sudahi sampai sini saja" Melody berusaha agar air matanya tidak jatuh. Menghela nafas sebentar sambil memejamkan matanya.
"Anggap saja kita tidak saling kenal" lirih Melody.
"Enggak, itu enggak adil buat gue" tekan Gara.
"Benar kata kak Rafa, kakak akan menyesal sudah mengenal siapa Melody sebenarnya"
"Bodo amat perkataan orang yang penting kita tetap sama-sama. Gue yakin Lo yang terbaik buat gue. Lo jawaban dari doa-doa gue selama ini. Tuhan menghadirkan Lo buat gue" ucap Gara yakin. Tubuhnya dihadapan di Melody.
"Gue sayang sama Lo, cinta sama Lo dan gue tau Lo juga sayang dan cinta ke gue" ujar Gara sambil menggenggam erat tangan Melody.
"Banyak yang enggak suka kakak dekat dengan Melody"lirih Melody di akhir kalimat.
"Persetan dengan itu semua, kita yang menjalani kenapa harus memikirkan orang lain" ucap Gara dengan frustasi.
"Kakak akan menyesal nantinya pernah kenal Melody" kata Melody dengan jelas.
"Apapun yang sudah gue ambil enggak akan gue sesali" tekan Gara. Tangan Gara mengusap air mata yang mengalir di pipi gadis didepannya ini.
"Kak, Melody mohon. Demi kebaikan kita" pinta Melody. Gara menggeleng keras.
"Ayo kita sama-sama membuktikan ke semua orang yang menentang kita bahkan seluruh dunia pun bahwa kita bisa bersama-sama" ucap Gara yakin.
"Kak" parau Melody. Gara tidak mengerti apa yang di maksudnya. Bukan itu yang dipikirkan Melody. Yang menjadi masalah adalah keluarga Melody.
"Mau kan? Kita mulai dari sekarang. Apapun itu kita selesaikan bersama-sama jika ada suatu hal kedepannya" ucap Gara meyakini Melody.
Melody menatap Gara dengan intens. Apa laki-laki didepannya ini benar-benar tulus mencintainya. Atau hanya omong kosong. Tapi dilihat dari keseriusannya Gara benar serius dengan Melody.
"Kita masih belum terlalu mengenal satu sama lain. Apalagi kakak laki-laki pertama yang masuk di kehidupan Melody. Melody masih takut untuk mencintai seseorang terlalu dalam"
"Cinta akan datang dengan sendirinya. Percaya sama kakak" entah kenapa omongan Gara terlalu menjerumus terlalu menuntut ke Melody.
"Melody belum bisa. Kasih Melody waktu kak" Melody masih takut membuka hati ke orang lain. Dia takut orang itu juga akan menyakitinya.

KAMU SEDANG MEMBACA
MELODY RAIN
Teen FictionGadis dengan sejuta misteri. Gadis penyuka hujan. Menurutnya hujan adalah teman paling setia. Hujan akan menutupi semua kesedihan yang gadis itu rasakan. Keluarga yang harusnya menjadi tempat berkeluh kesah paling nyaman. Rumah yang harusnya menjadi...