chapter 21

77 7 0
                                    

Dua hari berlalu setelah kejadian kemarin Melody mencoba menghindar dari Sagara. Dia tidak mau Sagara tau jika ia mempunyai luka di tubuhnya.

"Mau sampai kapan kamu menghindar terus?" Ucap Sagara tiba-tiba. Tubuh Melody menegang, ditutupnya buku yang ia bawa. Melody menoleh ke samping melihat Sagara sudah duduk di sebelahnya.

"Kenapa?" Ucap Gara. Sagara mengelus rambut Melody lembut. Melody hanya menggeleng cepat. Mata Sagara tak sengaja melihat ada lebam di tangan Melody. Dengan segera Gara memegang tangan Melody.

"Ini apa?" Tegas Sagara. Melody langsung reflek menyembunyikan tangan itu dari jangkauan Gara.

Gara mengamati wajah Melody. Dilihatnya ada luka memar di bagian pipi Melody. Rahang Sagara langsung mengeras. Dipegangnya dagu Melody agar gadis didepannya menatap wajahnya.

"Ini apa?" Tekan Sagara sekali lagi. Melody hanya menunduk tidak berani menatap wajah laki-laki didepannya ini. Matanya sudah berkaca-kaca.

"Bukan hal serius kak." Jawab Melody lirih. Gara membuang nafas kasar. Bisa-bisanya gadisnya ini menjawab hal yang di luar dugaan. Bukan hal serius?

"Melody." Ucap Sagara frustasi.

Ting.. tung..

Suara bel berbunyi, pertanda waktu istirahat telah usai. Melody bernafas lega, dia terselamatkan. Dengan segera Melody beranjak dari tempat duduknya dan mengembalikan buku ke rak buku.

"Melody." Teriak Sagara. Melody tidak menggubris panggilan dari Gara. Melihat itu Gara menghampiri Melody dan menghempaskan tubuh Melody ke rak dengan pelan.

"Ahhh sa-sakit." Erang Melody. Sagara menyipitkan matanya saat Melody mengerang kesakitan. Padahal dia menghempaskan tubuh Melody dengan pelan. Posisi mereka sekarang sangat intim, bahkan deru nafas mereka bisa saling mereka rasakan. Pinggiran rak menjadi tumpuan Melody.

Melody takut ada orang yang memergoki mereka. Walaupun sebenarnya ruangan ini sepi. Melody menatap Gara dengan sayu. Ini kesempatan untuk Gara. Dengan segera Sagara membuka jaket yang di kenakan Melody. Jaket Melody sudah lepas dari tubuhnya.

Sagara kaget melihat banyak luka di lengan Melody. Luka yang sama seperti beberapa bulan yang lalu. Sagara mengelus luka itu. Melody masih diam, dia mau mengelak pun Sagara sudah tau semuanya.

"Apa ini sakit?" Tanya Gara konyol. Hati Gara sakit melihat luka di tubuh Melody. Di elusnya pinggiran luka yang ada di tubuh Melody.

"Jadi ini kenapa kamu menghindar dari Kakak terus." Ucap Gara lagi. Melody mendorong tubuh Sagara kemudian mengambil jaketnya yang sudah jatuh di lantai.

"Melody masuk kelas dulu." Ucap Melody takut-takut. Dengan segera Melody berjalan dari lorong perpustakaan. Untung di perpustakaan kali ini tidak ada pengunjung hanya ada Sagara dan Melody. Mungkin ada petugas itu pun di depan sana.

Sagara menatap dingin punggung Melody yang makin lama makin menghilang di balik lorong perpustakaan. Entah apa yang di pikiran oleh Sagara. Tapi yang ia rasakan hatinya sesak melihat goresan luka Melody barusan.

--------

"Baik anak-anak jam perjalanan sudah selesai, bapak akhiri di sini. Selamat sore." Ucap pak Harto.

"Selamat sore, terimakasih pak Harto." Ucap murid-murid serempak sambil berberes untuk pulang sekolah.

"Mel ayo, biar Nayla antar. Nayla di jemput kak..." Belum selesai ngomong ucap Nayla sudah dipotong Melody.

"Nayla duluan saja, Melody ada urusan." Tolak Melody dengan cepat.

"Beneran ada urusan?" Selidik Nayla. Dengan ragu Melody mengangguk.

MELODY RAINTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang