18. what we feel is called love
(mature: kiss scene)
[]
Gara-gara melihat unggahan cerita instagram adik tingkatnya, Ghea tiba-tiba jadi kangen makan mi ayam abang-abang yang ada di lingkungan dekat kampusnya. Jadi sebelum Raka terlanjur masak makan malam, Ghea ingin mengajaknya untuk makan mi ayam.
Ketika tak mendapati Raka di dapur ataupun ruang tamu, Ghea pun membuka pintu kamar Raka yang tak terkunci seraya memanggil, "Ka."
"Hm?" Sahut Raka spontan seraya menoleh ke arah pintu. Pria itu sedang menghadap meja tempatnya kerja dengan laptop yang terbuka.
"Nggak usah masak makan malem bisa nggak?" tanya Ghea.
"Kenapa?"
Ghea mengulum bibirnya. "Gue ... lagi pengen makan mi ayam abang-abang, ayo makan malem pake itu aja."
Raka terdiam sesaat, kemudian mengangguk menyetujui. "Mau sekarang apa nanti?"
"Sekarang aja gimana? Biasanya sering antri sih kalau malem."
"Mau siap-siap dulu?"
Ghea mengangguk. "Tunggu bentar."
Dan ternyata benar sesuai dugaan Ghea, setibanya di sana, warung mi ayam—yang sering menjadi langganan Ghea dulu selama menjadi mahasiswi—dipenuhi oleh orang-orang yang sedang antri.
"Tuh 'kan bener kata gue, di sini tuh selalu antri, soalnya enak. Kayaknya kita juga nggak kebagian tempat makan deh, makan di mobil aja ya, Ka?" ucap Ghea, memperhatikan warung mi ayam yang dia maksud dari balik kaca mobil.
"Boleh," jawab Raka seraya memarkirkan mobil.
Lalu Ghea memesan dua porsi mi ayam dengan satu es jeruk dan satu air mineral. Antriannya cukup panjang, semua meja yang ada di dalam warung pun juga penuh, setiap orang yang selesai makan langsung bergantian dengan yang lain. Kebetulan juga Raka dan Ghea kebagian kursi duduk untuk menunggu pesanan mereka dibuatkan, jadi sembari menunggu mereka berdua mengobrol ringan.
"Abangnya kenal sama kamu?" tanya Raka ketika si abang penjual mi ayam terlihat akrab dengan Ghea seolah sudah kenal dan hafal.
"Iya, gue 'kan sering ke sini dulu, jadi udah langganan. Dulu pas gue masih maba, yang jual masih bapak-bapak terus dilanjutin sama anaknya ini."
Raka baru ingin bertanya lagi, namun terurungkan sebab tiba-tiba Ghea berdiri dan mengangkat kursi atom yang dia duduki sedikit lebih maju.
"Bu, duduk sini aja nggak pa-pa," ujar Ghea pada pembeli lain yang tampak bingung sebab kehabisan kursi untuk duduk menunggu, yang mana pembeli itu adalah seorang ibu hamil.
Menoleh dengan senyum terulas, ibu hamil itu mengangguk. "Oh, makasih ya."
Ghea membalas itu dengan senyum dan anggukan, kemudian geser berdiri di samping Raka duduk. Raka sempat termangu sesaat ketika menyaksikan pemandangan itu, saat Ghea bergeser barulah Raka berdiri dan meminta perempuan itu untuk menduduki kursinya.
"Duduk sini." Raka berujar pada Ghea.
"Lo tunggu di mobil aja, Ka, ini biar gue yang antri," ujar Ghea sembari bertukar posisi dengan Raka.
KAMU SEDANG MEMBACA
It Called Love
RomanceJudul awal; What? Married?! REMAKE VERSION - FOLLOW SEBELUM MEMBACA. *** Nggak pernah sekalipun terlintas di benak Ghea, jika dia akan menikah di usia muda. Namun perjodohan menyeretnya pada sebuah pernikahan tak diinginkan bersama seorang pria be...
