tiga puluh satu : names, colors and meanings

39.5K 3.7K 151
                                        

31. names, colors, and meanings

[]

Kadang, sesuatu dalam hidup itu berlalu begitu saja, seperti tiba-tiba sudah begini, tiba-tiba sudah begitu. Seperti bayi yang tadinya merangkak, kemudian berjalan, lalu tiba-tiba sudah bisa berlari. Ghea rasa, masih baru kemarin dia lulus sekolah menengah atas dan melakukan ritual coret-coret seragam bersama teman-temannya.

Seperti baru kemarin juga rasanya Ghea dan para sahabatnya disibukkan dengan tetek bengek ospek, sampai ribut dengan kakak tingkat perkara make up. Tahu-tahu, mereka sudah sibuk dengan pekerjaan masing-masing, tahu-tahu sekarang satu persatu dari mereka menuju jenjang dari komitmen yang lebih serius.

Dulu, sewaktu masih kuliah, Ratna pernah berceletuk, tentang siapa nanti di antara mereka yang akan menikah lebih dulu. Lalu dengan percaya diri, Ghea menjawab yang pasti itu bukan dia, Ghea yakin di antara mereka berempat yang akan menikah paling terakhir adalah dirinya, kemudian dengan optimis Devi menunjuk dirinya sendiri yang saat itu memang sudah berpacaran dengan Haikal, dia akan menjadi yang pertama kali melemparkan bunga, dan salah satu dari tiga temannya akan menangkap bunga itu.

Namun, nyatanya di antara mereka berempat, justru Ghealah yang lebih dulu menikah, lalu baru Devi yang menyusul. Di pesta resepsi pernikahan Devi, banyak teman-teman sekolah sampai kampus yang diundang, dan kebanyakan dikenali oleh Ghea. Ia mendapati respons yang sangat beragam ketika mereka yang mengenalnya melihat Ghea sudah berbadan dua.

Bahkan, para mantan Ghea yang datang juga ikut speechless, apalagi setelah melihat bagaimana bentuk dari suami Ghea, yang dilihat dari jauh saja bau duitnya sudah semerbak.

"Santai aja, Ka, mereka nggak akan nikung kamu," tegur Ghea setengah bergurau ketika sedari tadi tatapan Raka terlihat sangat tidak bersahabat, bahkan secara terang-terangan memberi side eye dan pelototan setiap kali ada laki-laki yang menyapa Ghea.

"Siapa kira-kira dari mereka yang kemungkinan nulis confess di question box instagram kamu?" Raka masih dengan tatapan mautnya memelototi satu persatu tamu undangan laki-laki.

Ghea mengendik dan menggeleng. "Nggak tau. Nggak mau nebak-nebak juga sih, nanti salah orang. Biarin aja, orang iseng kali."

"Udah jelas-jelas kamu ini istri orang, lagi hamil anakku juga, masih aja ada yang pura-pura buta," sungut Raka.

Ghea tertawa pelan. "Udah ah, sensian mulu. Sama tamu cowok yang lain sana gih, aku mau ikut Ratna sama Sekar."

Raka menggeleng. "Aku di sini aja, in case ada yang coba genit ke kamu," ucapnya.

Ghea tak menanggapi, ia hanya mengulum senyum dan berlalu saja menghampiri Ratna dan Sekar yang sepertinya sedang asik bergosip sambil menatap Devi yang kelihatan bahagia dan full senyum hari ini.

"Gosipin apaan sih? Asik banget kayaknya?" interupsi Ghea, ikut duduk bergabung dengan Ratna dan Sekar.

Sekar langsung menunjuk Devi dengan dagunya. "Lihat tuh temen lo, udah nggak khawatir lagi dia kalau mau ngewong kapan pun," julidnya, seperti biasa.

"Hari ini full senyum dulu, soalnya momen bahagia, besok-besok stres kalau udah mulai banyak cicilan," sahut Ratna, tertawa.

Ghea tersenyum, ia ikut memperhatikan Devi yang sudah resmi mengganti statusnya sebagai istri, perempuan yang biasanya suka petakilan kalau lagi bareng temannya itu terlihat anggun hari ini dengan balutan dress pengantin dan polesan make up dari MUA. "Tapi, bahagia banget ya keliatannya? Emang nikah sama orang yang kita mau tuh rasanya menyenangkan."

It Called LoveCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang