9_Kecewa_

29.8K 3K 103
                                    


"Jangan pernah menjadi bintang di langit yang cerah"

"Jangan pernah menjadi bintang di langit yang cerah"

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"Mah! Arga berangkat dulu ya! Mau jemput An..na." Ucap Arga dengan nada yang lirih pada akhir kalimat.

"Ara? Kamu kok disini? Nggak berangkat?" Arga menatap sosok Ara yang tiba-tiba saja berada di ruang tamunya.

"Mau berangkat bareng Arga." Ujar Ara tanpa dosa.

Arga berjalan mendekati Ira di dapur.
"Mah! Kok dia ada disini?"

"Katanya dia ingin berangkat bareng kamu Ga." Ucap Ira yang fokus mengaduk susu putih untuk Arga.

"Dia kesini sama siapa?" Arga menerima susu yang telah Ira buat untuknya dan meminumnya hingga habis.

"Sama Papanya." Bisik Ira agar tidak terdengar oleh Ara, karena dia yang terus memperhatikan mereka dari ruang tamu.

"Kenapa nggak langsung ke sekolah aja? Tapi malah kesini? Bukannya kejauhan?" Ira mengangkat bahunya tidak tahu.

"Mah! Arga harus jemput Ana, Arga udah janji sama dia."
Arga takut Ana menunggunya dan takut akan terjadi kesalahpahaman lagi antar mereka.

"Ana kan punya Alan, siapa tau karena nunggu kamu kelamaan, dia berangkat bareng sama Alan."

"Tap--

"Udah sana ini udah jam berapa, kamu malah masih disini!" Arga melihat jam di HP-nya, ternyata sudah jam 06.15

"Ya udah Arga berangkat dulu Mah!" Pamit Arga yang diikuti Ara.

***

"Ana lo gak berangkat?" Alan menatap adiknya heran karena malah duduk santai di ruang tamu.

"Lagi nunggu Arga, bang."

"Ya udah gue berangkat duluan ya." Ana mengangguk.

20 menit Ana menunggu kedatangan Arga namun tak kunjung datang.

"Loh Ana? Belum berangkat?" Terlihat Ibu Nani muncul dari pintu masuk diikuti oleh Pak Latif.

Ana menggeleng, "belum Bu, lagi nungguin Arga."

"Ana tak mau bapak antar? Ini sudah siang, kamu akan telat nanti."

Ana terdiam, ia mengecek jam di HP-nya dan benar mungkin sebentar lagi bel masuk berbunyi.

"Kenapa Arga nggak ngehubungin gue kalo  nggak jadi jemput?"

"Ana? Kenapa melamun? Mau bapak antar?" Ana mengangguk.

***

Ana memanjat tembok belakang sekolah dengan mudah, sebelum turun ia memastikan dulu apakah situasinya aman.

BRUK!

Ana mengamati sekitarnya yang sepi.
"Oke sampai sini aman." Ana berjalan mengendap-endap menuju kelas.

Rintik HujanTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang