32• Study Tour

7K 223 0
                                        


***

Jakarta, pukul 1 lewat 15 menit waktu siang hari.

Hiruk pikuk ramai jalanan kota beradu dengan terik panas matahari membuat perjalanan terasa lebih lama dari biasanya untuk dilalui, sudah setengah jam lamanya Ivory berada di dalam mobil. Tapi, perjalanannya menuju sekolah kali ini tak begitu terasa dan tak terlalu membosankan juga, karena ada dua sahabatnya yang sangat berisik sedari tadi.

"Baju-baju gue cukup, kan?" tanya Qiona entah pada siapa karena ia terlihat sibuk sendiri di belakang. Mengecek tasnya yang memang tersusun rapi di sebelahnya, ada tiga koper yang akan dibawa Qiona dalam keberangkatan study tour kali ini.

Wanda berdecak, "Tiga, tiga koper yang lo bawa, dan lo masih bilang baju-baju lo gak cukup?" sahutnya.

Menunjukkan tangannya yang telah mengacungkan tiga jari, tak mendapat respon dari Qiona, Wanda melirik Ivory yang sedang bertugas mengemudi.

Ivory turut melirik Wanda, tertawa pelan, kemudian menyahuti Qiona, "Cukup, Qio, gue yakin cukup kok." Ivory memberikan suaranya agar Qiona bisa berhenti berceloteh dan menganggu Wanda yang ingin menyanyi namun terus tertunda.

Wanda mengangguk, memasang wajah yang seolah berkata 'iya kan' pada Ivory.

"Tapi," Qiona lagi-lagi menyela, menghentikan aktivitasnya dan menatap Ivory dan Wanda bergantian, "Kita bakalan seminggu di sana, dan lo berdua cuma bawa satu koper."

"Kan ada, lo," sahut Wanda tertawa. Disusul anggukan setuju dari Ivory.

Qiona memasang ekspresi wajah tak terima, sedangkan penyebab kekesalannya malah asik bertukar tos.

"Atur lagi tuh," titah Wanda melirik kekacauan yang dibuat Qiona. Qiona dengan ragu kembali merapikan isi kopernya.

"Udah jam berapa?" tanya Qiona sambil terus beberes. Padahal tadi itu semua telah rapi, namun, karena tak bisa tenang Qiona kembali menggeledahnya.

"5 menit lagi pas setengah dua," sahut Wanda menjawab. Memainkan ponselnya, lebih tepatnya sedang memilih-milih lagu untuk diputar di perjalanan nanti.

"Sebenarnya kita mau ke mana sih?" tanya Ivory memecahkan keheningan yang sempat terjadi beberapa detik tadi.

Wanda mengangkat bahu, "Nggak tau juga, tapi, kayanya gak jauh banget deh."

Qiona mengangguk, "Iya, mungkin perjalanan kita cuma makan waktu dua jam. Soalnya kita bakalan berangkat jam 2, dan gak mungkinkan kita di jalan sampai malam."

Ivory memutar kemudi mobilnya ke arah kiri, kemudian bergabung lagi dalam pembicaraan, "Kira-kira kemana?" Masih belum tenang karena tak mendapatkan jawaban yang benar-benar jawaban.

"Bandung," tebak Wanda secara acak.

Qiona kontan menatap tertarik, "Bandung?" gumamnya sembari berpikir.

"Gue cuma tebak," sahut Wanda melihat Qiona yang mulai berpikir dari balik kaca spion. Melirik juga ke arah Ivory yang sepertinya percaya dengan tebakan asalnya tadi.

"Woi! Gue cuma nebak, bisa aja bukan ke Bandung."

Qiona menggeleng, "Lo itu cenayang, Wan," ujarnya yang langsung diangguki benar oleh Ivory. "Gue yakin kali ini kita ke Bandung."

Wanda menghembuskan napas, pantas saja Ivory terus menerus bertanya, ia hanya ingin mendengar jawaban darinya.

"Jangan kecewa ya, kalo bukan ke Bandung," ingatkan Wanda pada kebenaran yang mungkin saja akan berubah nanti.

"Kira-kira, Kastara ikut gak ya?" Qiona mengajukan pertanyaan lain sebagai topik baru perjalanan mereka menuju ke sekolah.

Ivory ikut mendengar, belum ada kepastian dari Kastara, apakah ia akan ikut atau tidak dalam tour tahun ini.

KASTARATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang