48• Sebuah Kebenaran?

4.7K 176 1
                                        

"Serius, nggak usah kita anterin ke dalam?"

"Iya, makasih dan maaf udah ngerepotin."

Ivory pun bergegas turun setelah memberikan jawaban kepada tiga orang penolong.

"Tunggu."

Seseorang terdengar menahan. Ivory berhenti melangkah, menoleh untuk melihat kepada si pemanggil.

"Nama lo siapa?"

Itu laki-laki yang belum pernah bersuara. Kini menanyakan nama membuat dahi Ivory spontan terlipat.

"Ivory," jawab Ivory bertatapan sekilas kemudian berbalik tanpa ada keinginan menoleh lagi.

Bahu kanannya masih terasa nyeri, sepertinya terkilir. Tapi rasa sakitnya harus ditahan dahulu. Menemui Sang papa lebih utama saat ini.

Memasuki lorong putih, Ivory menemukan beberapa pria ber jas hitam rapi lengkap dengan kacamata hitamnya.

Entah siapa mereka.

Saat Ivory telah lewat, mereka mulai bersikap mencurigakan.

"Lapor Tuan, seorang gadis muda baru saja tiba di ruangan Tuan Ragestu."

Ivory melangkah panjang, melihat keberadaan Kakaknya di sebuah kursi panjang di depan ruangan tertutup.

"Kak Mora," panggil Ivory dengan rasa puas. Seharian penuh ia tersesat.

Mora menoleh terkejut, matanya seketika was-was memperhatikan ke bagian ujung lorong tempat Ivory melihat beberapa pria aneh sebelumnya.

"Masuk ke dalam," ajak Mora langsung tanpa basa-basi.

"Ma," panggil Ivory pada mamanya.

"Astaga!" terkejut Mama Rhea. "Kamu kabur kemana? Bikin Mama khawatir Ivory."

"Papa gimana?" Bukannya menjawab.

Ivory memilih menanyakan keadaan papanya.

"Papa udah lewatin masa kritisnya." Mora yang menjawab.

"Vo, duduk sini sama Mama."

Ivory menurut. Berjalan mendekati sofa yang tersedia di ruangan VVIP itu. Mora pun ikut bergabung di sofa tunggal.

"Ivory masih marah ya," ujar Ivory memberi lirikan tajam pada Mora.

Mora paham dirinya tengah disindir. Menerima saja karena dia memang salah. Tidak menjelaskan terlebih dahulu dan langsung bertindak sesuka hati.

Mama Rhea menarik tangan Ivory lembut. Mengelusnya memberi ketenangan.

"Sayang, Kak Mora lakuin itu semua karena perintah Mama."

"Tapi, kenapa Ma?" sanggah Ivory dengan raut wajah tak terima. "Kenapa Ivory harus pergi? Pake segala diculik orang lagi."

"Tujuan Ivory ke sini kan, buat jenguk Papa. Tapi, baru sampai di resepsionis udah di usir pergi."

Mora hanya diam, membiarkan mamanya mengambil alih seluruh cerita untuk Ivory.

"Gak ada yang mau usir kamu, cuma keadaannya terlalu mendesak tadi. Jadi Mama gak sempat pikirin cara lain biar kamu gak ke sini dulu."

Mama Rhea menoleh pada Mora. "Mora juga salah tadi, gak jelasin sebelum kamu dibawa pergi."

Mora mengangguk. Mengakui bahwa ia salah.

"Memangnya kenapa, Ivory gak boleh ke sini pada jam itu?"

Mama Rhea dan Mora saling pandang.

"Setelah Papa sadar, kamu akan tahu alasannya." Mama Rhea memutuskan cerita agar Ivory tak semakin mengungkit.

Ivory menatap punggung mamanya yang berjalan menjauh. Menoleh pada Mora.

Mora hanya berkedik bahu, ia sendiri tak tahu alasannya.

"Kakak keluar dulu, mau telfon." Mora pamit keluar menghindari tuntutan Ivory.

Mora mengotak-atik ponselnya seraya melangkah keluar dari ruangan.

Beberapa detik berdering, panggilan telfon terhubung.

"Halo, Sam?"

Mora berkali-kali memanggil, namun tak ada sahutan.

"Samuel, lo jangan main-main ya." Mora terlampau kesal.

"Astaga, sorry Mor," ujar Samuel di seberang sana. "Tadi itu Sean yang jawab."

Mora mengerjapkan mata. Sepertinya terkejut dengan nama yang diucapkan Samuel.

"Sean?" Mora membeo pelan. Masih dalam keterkejutannya.

Samuel berdeham. "Ck. Lo berdua emang bego. Mau-maunya dikalahin gengsi."

"Kalo masih suka ya, balikan."

Mora berdecak. "Gak usah ngomong sembarangan."

Melanjutkan, "Gue cuma mau kasi tau. Adik gue udah balik, makasih bantuannya."

"Imbalannya, Mor."

"Iya, iya, bentar gue kirimin nomornya."

"Sip, thanks."

"Gue tutup." cetus Mora ingin cepat menyudahi.

"Tunggu, Mor. Lo gak mau titip salam gitu buat mantan."

Mora tampak berpikir, "Jangan menghindar dari gue."

Panggilan pun diputuskan oleh Mora.

"Dasar bodoh!" Mora merunduk dalam rutukannya.

***

"Vo."

Ivory duduk di dekat tempat papanya berbaring. Menoleh ketika namanya disebutkan Sang mama.

"Iya, Ma?"

"Kamu udah ketemu kan, sama keluarga Ganendra?"

Ivory terdiam sesaat, mengangguk kemudian tanpa ragu. "Udah."

"Berarti tinggal tunggu Papa sadar dan kita adain pesta pertunangan resmi kalian."

Ivory tak lagi menanggapi.

"Oh iya, Kastara gimana kabarnya. Mama gak sabar pengen ketemu langsung sama dia."

Ivory tertarik topik lain. "Mama seriusan belum pernah lihat," ujarnya seraya menunjuk muka.

"Calon Ivory."

Mama Rhea menggeleng. "Cuma Papa kamu yang pernah ketemu, Mama sih denger cerita aja."

"Tapi." Mama terlihat menerawang. "Dari gimana Papa kamu cerita tentang Kastara ini, kelihatannya anak itu punya pendiriannya sendiri."

Mama Rhea yang sedang mengupas buah lantas terkejut mendengar Ivory memekik.

"Aw! Sakit, Kak."

Mora memandang Ivory aneh, hanya menyenggol sedikit. Kenapa harus selebay itu reaksinya.

Ivory mendengus. "Bahu Ivory sakit, abis jatuh tadi karena gak sengaja nabrak orang."

"Bahu kamu terkilir?" Mama Rhea panik mendekati keduanya.

"Ayo, biar diperiksa," ajak Mora menarik lengan Ivory yang lain.

"Jagain adik kamu, Mor."

"Ivory udah gede."

"Tapi kamu adik aku, tetep aja masih kecil."

Membiarkan Mora menarik dirinya pergi. Lantas kepala Ivory memikirkan hal lain.

"Kastara Ganendra, entah kayak gimana reaksi lo pas tau kebenarannya nanti."

***

KASTARACerita yang bikin terobses. Temukan sekarang