Iblis yang Tertidur - Episode 15.
*----------*
Seorang wanita muda bergaun putih yang dihiasi mutiara berkilauan melangkah dengan anggun menuju taman. Rambut hitam bergelombangnya tertata rapi, dihiasi pita kecil yang memperindah penampilannya. Dalam pelukannya, ia menggenggam sebuah boneka kesayangan yang tampak usang.
Namun, suasana tenang itu seketika pecah saat Calvin memanggil para pelayannya. "Bawa wanita itu kembali ke dalam!" perintahnya dengan suara dingin.
Wanita itu berontak, menimbulkan keributan di tengah taman. Dengan marah, Calvin membuang boneka yang dipegangnya hingga terjatuh di tanah. Amarah wanita itu meledak, dan ia mencengkeram kerah baju Calvin dengan kuat.
"Hentikan, Celia! Kau membuat keributan di sini!" bentak Calvin. "Pelayan! Cepat bawa dia ke kamarnya dan kunci pintunya!"
"Apa yang kau lakukan pada anakku? Di mana dia? Mana anakku?!" teriak Celia dengan putus asa.
Charles, yang berdiri tak jauh, mengambil boneka yang tergeletak lalu memberikannya kembali kepada Celia. Perlahan, tatapan wanita itu melembut saat melihat bonekanya. Beberapa pelayan mendekat, membujuknya untuk kembali ke dalam. Dengan berat hati, Celia menuruti mereka dan menghilang di balik pintu.
Isabella menatap kejadian itu dengan penuh tanda tanya. "Siapa dia?" tanyanya pada Calvin.
Calvin menyingkirkan pandangan, menjawab singkat, "Hanya wanita gila, nona. Jangan hiraukan dia. Mari kita lanjutkan teh kita."
Tak lama, Alexander dan Lisa tiba, melengkapi suasana ruang tamu yang tegang.
Isabel berdiri hendak meninggalkan rumah itu, namun Lisa dengan senyum licik menahannya. "Tunggu dulu, kita di sini bersama-sama, bukan?" ujar Lisa sambil mengedipkan mata pada Alexander.
Alexander mengedipkan matanya pada isabella, dan isabellaakhirnya mengalah, duduk kembali.
*----------*
Malam Hari - Rumah Bordil.
Udara pengap memenuhi ruangan gelap yang dipenuhi dengan wanita-wanita muda yang berkerumun di sudut, wajah mereka penuh luka, ketakutan mengikat langkah mereka untuk bergerak. Beberapa di antara mereka menangis tanpa suara, berharap malam segera berakhir.
Victor berjalan perlahan ke tengah ruangan, suaranya berat dan dingin.
"Dengarkan baik-baik. Siapa di antara kalian yang berasal dari Camden?"
Tak satu pun menjawab. Semua kepala tertunduk.
"Aku bilang-angkat tangan kalian!" bentaknya, lebih keras.
Keheningan menggantung sesaat.
Lalu, satu tangan perlahan terangkat. Tangan mungil itu milik seorang gadis muda bernama Alice. Ia berdiri dengan tenang, bahkan ketika semua mata tertuju padanya.
Hugo mendekat, matanya menyipit, seolah tak percaya. "Cuma kau?"
Alice mengangguk sekali, matanya menatap lurus tanpa gentar.
Victor menoleh tajam ke arah wanita muda pemilik rumah bordil, yang tubuhnya terikat di kursi.
"Kau bilang mereka dari Camden. Tapi yang angkat tangan cuma satu. Jelaskan!"
Wanita itu terisak.
"Saya... saya tidak berbohong, Tuan... hanya dia yang dari Camden. Yang lain dari kota ini... saya hanya menuruti perintah bangsawan itu!"
"Bangsawan?" tanya Antonio, kini berjalan mendekat. Langkahnya tenang, tapi menakutkan.
"I-iya... bangsawan dari Camden. Mereka menyuruh saya membawa gadis-gadis itu, memalsukan asal mereka... dan soal artikel di koran itu, saya tidak tahu, saya tidak tahu siapa yang menulisnya! Mungkin mereka!"
KAMU SEDANG MEMBACA
The Lady Whitmore (ON GOING)
Mystery / ThrillerInggris, 1990. Keluarga Whitmore dikenal sebagai salah satu keluarga bangsawan paling terpandang. Namun sebuah kecelakaan tragis menghancurkan semuanya, menyisakan dua anak yang harus bertahan sendiri: Antonio dan Isabella. Di balik sikap lembut Ant...
