Teh Berdarah - Episode 1
*----------*
Pagi Hari - Kediaman Isabella
Kicauan burung menembus keheningan pagi, menusuk masuk ke jendela berbingkai emas milik seorang wanita bangsawan. Mata biru Isabella perlahan terbuka, dingin dan tajam. Tanpa sepatah kata pun, ia bangkit dari ranjangnya yang berhias kanopi renda, lalu melangkah menuju jendela.
Seekor burung kecil tergeletak di rerumputan, tampak lemah setelah jatuh dari sarangnya. Isabella menghela napas pelan, lalu menutup jendela rapat-rapat. Ia berjalan menuju sebuah meja antik tempat lonceng perak diletakkan. Dengan gerakan ringan namun penuh kuasa, ia menggoyangkan lonceng itu.
Tak lama kemudian, seorang pria paruh baya datang, tubuhnya membungkuk hormat. "Ada yang bisa saya bantu, Nona Isabella?" tanya Charles, pelayan setia keluarga bangsawan itu.
Isabella menunjuk ke jendela tanpa menoleh. Charles mengintip dan melihat burung yang terkapar.
"Singkirkan makhluk menjengkelkan itu. Aku tidak ingin mendengar satu pun suaranya lagi," ujarnya dengan suara datar namun menusuk.
Charles membungkuk lagi, lalu segera melaksanakan perintah. Dari jendela, Isabella melihatnya membawa burung itu menjauh. Dengan wajah tanpa ekspresi, ia berbalik dan menuang teh Darjeeling kesukaannya ke dalam cangkir porselen. Saat Charles kembali membawa koran pagi, aroma teh memenuhi ruangan.
Namun ketenangan itu tak berlangsung lama.
"Pesaing utama kita baru saja merilis produk teh terbaru mereka," ucap Charles sembari membentangkan koran.
Mata Isabella menyipit. Ia menyandarkan punggung, lalu mengangkat cangkir tehnya perlahan.
"Undangan pesta perayaan mereka juga telah tiba" lanjut Charles, menyerahkan sepucuk surat bersampul biru tua. "Tuan Doolitle sendiri yang mengundang."
Isabella tersenyum, tipis namun penuh makna. "Kalau begitu, aku akan datang. Lagipula, sudah waktunya mengambil kembali sesuatu yang menjadi milikku."
*----------*
Malam Hari - Kediaman Doolitle
Aula besar dipenuhi cahaya lilin dan aroma mawar yang menyebar di udara. Para bangsawan bersosialisasi dengan gelas anggur di tangan dan senyum penuh topeng.
Ketika Isabella melangkah masuk bersama Charles, seisi aula seolah membeku. Gaun hitam berbordir emas membalut tubuhnya, kontras dengan kulit seputih porselen dan rambut emasnya yang tersanggul rapi, dihiasi sisir perak warisan keluarga.
Tuan Doolitle yang berdiri di dekat tangga utama, membeku sesaat. Senyum di wajahnya perlahan pudar begitu matanya bertemu dengan tatapan Isabella tajam, tenang, dan penuh sejarah yang tak selesai.
"Isabella" sapa Doolitle akhirnya, suaranya terdengar manis namun penuh kewaspadaan.
"Senang bisa datang" jawab Isabella pelan, lalu mengambil segelas anggur dari nampan seorang pelayan. "Pestamu... cukup meriah. Seperti biasa, kau selalu pandai menarik perhatian orang banyak."
Doolitle tertawa kecil, lalu mendekat. "Dan kau, seperti biasa, selalu datang dengan kejutan."
Isabella mengangkat alisnya. "Mungkin kali ini, kejutan itu tak akan kau sukai."
Seketika, iringan musik berhenti. Seorang pelayan bergegas menghampiri Doolitle, lalu membisikkan sesuatu. Wajah pria itu berubah pucat.
"Ruangan penyimpanan teh... terbakar," bisik si pelayan, gemetar.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Lady Whitmore (ON GOING)
ActionLondon, 1900 Keluarga Whitmore pernah menjadi simbol kehormatan dan kekuasaan. Namun setelah sebuah kecelakaan tragis merenggut kedua orang tua mereka, hanya Antonio dan Isabella yang tersisa. Di mata semua orang, Antonio adalah kakak yang sempurna...
