Diam yang Berbicara - Episode 31
*----------*
Pagi Hari - Pasar.
Isabella berjalan pelan di antara hiruk-pikuk pasar, ditemani Giovanna yang setia di sampingnya. Aroma rempah, teriakan para pedagang, dan tawa anak-anak kecil memenuhi udara pagi itu. Tiba-tiba, matanya tertuju pada sebuah kerumunan yang mengerumuni seseorang.
Seorang pria kasar sedang menggeledah tas seorang anak kecil yang tampak ketakutan. Tanpa ragu, Isabella melangkah cepat mendekati kerumunan, namun dari arah lain muncul wanita berambut hitam panjang yang membela anak itu dengan suara tegas.
"Jangan menghakimi anak kecil seperti itu! Lihatlah dompet ini, bukannya ini milikmu? Tadi terjatuh, bukan anak ini yang mencurinya!" suara Rosella bergetar, penuh kemarahan.
Pria itu tertunduk malu, dan kerumunan mulai bubar.
Isabella tersenyum kecil "Rosella."
Wanita itu berbalik, menatap mereka dengan hangat. "Senang bertemu kalian lagi."
*----------*
Restoran di Tengah Kota.
Di sebuah restoran kecil yang hangat, ketiganya duduk sambil menunggu pesanan. Pelayan datang membawa buku menu.
Giovanni memecah keheningan "Aku tak menyangka bertemu denganmu di sini, Rosella. Bagaimana sekolahmu? Apakah semuanya berjalan lancar?"
Rosella menunduk, suara pelan namun penuh kepedihan "Akhir-akhir ini ada masalah di asrama. Dua hari lalu, ditemukan mayat wanita yang mati gantung diri..."
Wajah Giovanni berubah pucat, nyaris kehilangan nafas. "M... Mayat?"
Isabella menatap Rosella dengan serius, mencoba menyembunyikan kegelisahan.
Pelayan datang membawa makanan, dan Rosella mencoba mengganti suasana, "Lupakan itu dulu. Apa yang membawa kalian ke kota ini?"
Isabella menghela napas "Ada sedikit masalah dengan tanah yang ingin aku beli di sini. Ku harap itu bukan masalah besar."
Rosella mengangguk pelan "Semoga tidak."
Setelah makan, mereka pun berpisah dengan perasaan berat di dada masing-masing.
*----------*
Di Villa.
Isabella dan Giovanni baru saja tiba di halaman villa, kerikil berderak pelan di bawah langkah mereka. Namun langkah Isabella tiba-tiba melambat, pandangan matanya tertumbuk pada sosok yang sudah sangat ia kenal.
Luke.
Ia duduk di bangku taman dengan tubuh sedikit membungkuk, dikelilingi beberapa merpati yang sedang mematuk remahan roti di tanah. Burung-burung itu bergerak tenang di sekelilingnya, seolah tidak takut pada kehadirannya.
Luke mengangkat kepala.
Tatapan mereka langsung bertemu.
Perlahan ia berdiri.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Lady Whitmore (ON GOING)
AzioneLondon, 1900 Keluarga Whitmore pernah menjadi simbol kehormatan dan kekuasaan. Namun setelah sebuah kecelakaan tragis merenggut kedua orang tua mereka, hanya Antonio dan Isabella yang tersisa. Di mata semua orang, Antonio adalah kakak yang sempurna...
