Api dan Air Mata

120 53 84
                                        

Api dan Air Mata - Episode 10

*----------*

"Ke mana Alexander? Kenapa dia belum kembali? Aku merasa ada sesuatu yang salah," suara Isabella bergetar, penuh kecemasan.

"Sebaiknya kita berpencar mencari dia di luar," ujar Hector tegas, matanya menatap sekeliling dengan waspada.

Dari kejauhan, Antonio duduk di kursi tinggi dekat jendela, memperhatikan kepergian Isabella dan Hector. Tangannya yang memegang gelas wine bergerak perlahan, meneguk minuman itu dengan tenang. Senyum dingin nampak di bibirnya, seolah menikmati setiap detik kecemasan yang dirasakan orang lain.

Hugo, yang berdiri di sampingnya, menoleh sebentar dan menyeringai kecil. Ia melangkah menuju dapur, meninggalkan Antonio sendiri dengan tatapannya yang menembus gelap malam.

Antonio meneguk wine lagi, matanya tetap tertuju pada Isabella. Obsesi yang lama terpendam muncul kembali rasa ingin mengendalikan dan melihat orang-orang di sekitarnya terguncang karena ketakutan, itu memberinya kepuasan yang dingin. Ia membiarkan angin malam menerpa wajahnya, tapi tatapannya tetap membara, menandakan bahwa ia tidak akan pernah melepaskan apa yang menjadi miliknya.

*----------*

Isabella terus berkeliling mencari Alexander, tapi tidak berhasil menemukannya. Tanpa sengaja, dia menabrak seorang pria berbaju hitam.

"Maaf, aku tidak sengaja" ucap Isabella sambil menunduk.

Wajah pria itu membuat jantungnya berdegup cepat. Dia adalah pria yang pernah ia temui di taman, Victor. Pria itu sedang merokok, lalu menginjak puntung rokok ke tanah, sadar Isabella tak menyukai aroma itu.

"Kita bertemu lagi rupanya" kata Victor dengan senyum kecil.

"Siapa sebenarnya kau?" tanya Isabella, suara bergetar.

"Victor" jawabnya singkat.

Dalam keheningan, Isabella melangkah lebih dekat. Tangannya menyentuh lembut wajah Victor, tanpa sengaja menyentuh anting di telinganya. Tatapan mereka bertemu, penuh misteri dan sesuatu yang tak terucapkan.

Victor mencondongkan tubuh sedikit lebih dekat, suara rendahnya menggema di telinga Isabella. "Tetaplah di luar... dan jangan pernah kembali, mengerti?"

Dia lalu membalikkan badan dan menghilang di keramaian.

Isabella berdiri terpaku, menyadari dirinya sempat terpesona pada Victor hingga lupa akan tujuan utamanya mencari Alexander.

*----------*

Hector menghampiri Isabella. Wajahnya serius.

"Aku belum menemukan Alexander."

Tiba-tiba, suara teriakan keras menggema dari dalam rumah. Semua tamu berhamburan keluar, histeris.

Api membakar hampir separuh bangunan. Isabella semakin panik, khawatir akan Alexander. Dia mencoba masuk kembali, tapi tangan Antonio menahannya.

"Kenapa kau ingin masuk lagi?!" suaranya penuh amarah.

"Apa yang kau lakukan?! Di mana paman? Aku tak peduli dengan api ini, aku harus masuk!" teriak Isabella, napasnya tersengal.

Hugo muncul dan menenangkan.

"Kami tidak menyentuh pamanmu."

Seorang supir, napasnya tersengal.

"Aku menemukannya. Tuan Alexander terluka parah, ada tusukan di perutnya. Dia sekarang di dalam mobil."

Isabella ingin berlari, melarikan diri dari semua kekacauan yang menyesakkan dadanya. Namun, tangan Antonio mencengkeram lengannya dengan kasar, menghentikan langkahnya. Sebelum sempat berontak, ia menarik tubuh Isabella ke arahnya dan tanpa ampun, mengecup lehernya dengan paksa meninggalkan jejak merah menyala di kulitnya.

The Lady Whitmore (ON GOING)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang