Si Tukang Bunga

26 14 5
                                        

Si Tukang Bunga - Episode 32.

*----------*

Bar – Malam hari.

Suasana bar dipenuhi aroma asap cerutu dan alkohol mahal. Musik jazz mengalun lembut dari sudut ruangan, menyatu dengan suara gelas beradu dan tawa para pengunjung. Di pojok ruangan, Victor dan Hugo duduk santai. Hugo menyender santai sambil menggulir gelas wiski di tangannya, sedangkan Victor hanya diam, matanya tajam mengamati sekitar.

Seorang wanita cantik dengan gaun merah menyala melangkah mendekati mereka. Wajahnya penuh percaya diri saat ia duduk tanpa izin di pangkuan Hugo, jemarinya menyentuh kening pria itu dengan lembut.

"Tuan" bisiknya menggoda. "Apakah Anda tidak bosan duduk di sini? Bagaimana kalau kita pindah ke kamarku saja?"

Tanpa menoleh, Hugo menjawab dingin "Enyahlah."

Wanita itu terkejut, namun belum menyerah. Matanya lalu beralih ke Victor yang dari tadi hanya duduk diam. Ia meletakkan tangannya di atas paha pria itu, mengusap perlahan, mencoba mencari celah. Namun, reaksi Victor jauh dari yang ia harapkan.

Klik.

Sebuah pistol dingin kini bersandar tepat di dahinya. Tatapan Victor tajam menusuk.

"Apa kau bosan hidup" ucapnya pelan namun mematikan. "Sebaiknya kau pergi... sebelum tanganku refleks mematahkan lenganmu."

Hugo hanya terkekeh kecil. "Kau dengar itu? Dia tak sedang bercanda."

Wanita itu langsung bangkit gemetar dan pergi terburu-buru.

Setelah hening sejenak, Hugo memutar badannya ke arah Victor dan mengangkat alis.

"Kau tidak pernah tertarik dengan wanita ya? Apa jangan-jangan... sudah tidak berfungsi?"

Victor menoleh tajam.

Hugo cepat-cepat menambahkan "Hei, jangan bunuh aku. Aku cuma bercanda"

Victor mulai membuka sarung pistolnya. Hugo langsung mengangkat tangan, menahan tawa.

"Baiklah, baiklah! Aku keluar sebentar. Udara di sini bau parfum murahan."

*----------*

Di luar bar.

Angin malam menyapu rambut Hugo saat ia melangkah ke trotoar. Matanya menangkap sosok seorang wanita di seberang jalan, berdiri sambil memeluk sekeranjang bunga. Wajah itu... ia kenal.

Hugo menyipitkan mata.

"Tidak mungkin..."

Ia pun berjalan mendekat.

"Ternyata benar kau" ucapnya dengan senyum kecil. "Kota ini ternyata lebih kecil dari dugaanku."

Wanita itu menoleh dengan ragu.

"S-siapa Anda?"

Hugo menyentuh dada, pura-pura tersinggung.

"Lho? Ksatria tampanmu yang dulu menolongmu dari para bajingan?"

"Para bajingan..." gumam wanita itu, akhirnya mengenali suara Hugo. "Maaf, saya tidak bisa melihat. Tapi... ya, saya ingat suara Anda. Terima kasih atas bantuan waktu itu. Tapi maaf, saya tidak bisa memberi Anda uang."

Hugo tertawa pelan. "Tenang saja, aku bukan pengemis."

Ia menunduk sedikit, menatap wajah Elena yang tenang namun rapuh.

"Aku ingin kau melakukan sesuatu untukku. Antar bunga ke villaku... setiap hari."

Elena menggenggam erat keranjang bunganya. "Anda... tidak akan menjual saya, kan?"

The Lady Whitmore (ON GOING)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang