Di Balik Salib

17 11 14
                                        

Di Balik Salib - Episode 38.

*----------*

Malam hari – Toko Pengrajin Logam

Hujan masih turun rintik. Sebuah mobil berhenti di depan sebuah toko kecil di sudut jalan tua. Papan kayunya usang, catnya mengelupas, dan lampu kuning redup menggantung di atas pintu. Tulisan di atasnya hampir pudar.

"Harrington Metal Works"

Charles menatap ke arah dalam, sedikit ragu.

"Tempat ini masih buka?"

Alexander tidak menjawab. Ia sudah turun lebih dulu.

Pintu didorong.

kring...

Bel kecil berbunyi pelan.

Udara di dalam terasa pengap, bercampur bau logam dan minyak. Rak-rak tua dipenuhi perhiasan logam, kalung, cincin, dan beberapa liontin yang berdebu.

Seorang pria tua duduk di balik meja kayu. Kacamata kecilnya bertengger di ujung hidung, sedangkan tangannya sibuk menggosok sesuatu.

Ia mendongak perlahan.

"Ada yang bisa saya bantu, tuan?"

Alexander melangkah maju tanpa basa-basi. Tangannya membuka, lalu meletakkan liontin salib itu tepat di atas meja.

"Siapa yang membuatnya?"

Pria tua itu mengernyit, awalnya tampak biasa saja. Namun saat matanya fokus pada liontin itu, gerak tangannya berhenti.

Victor menyipitkan mata.

"Kau mengenalinya."

Pria itu menelan ludah. Tangannya yang keriput menyentuh liontin itu perlahan, seolah memastikan sesuatu.

"Ini..." suaranya pelan, ragu,

"aku yang membuatnya."

Luke langsung maju satu langkah.

"Siapa yang memesan?"

Pria itu tidak langsung menjawab. Ia menatap mereka satu per satu, lalu menunduk.

"Beberapa bulan lalu... ada seseorang datang ke sini," katanya akhirnya.

"Dia tidak banyak bicara."

Hector menyilangkan tangan.

"Seperti apa orangnya?"

Pria itu menggeleng pelan.

"Aku tidak melihat wajahnya dengan jelas. Dia memakai mantel panjang... dan topi"

Alexander tetap diam, tapi tatapannya makin tajam.

"Berapa banyak yang dia pesan?" tanyanya.

Pria itu menarik napas panjang.

"Lebih dari sepuluh, semua dengan desain yang sama" jawabnya pelan.

Ruangan itu seketika terasa lebih sempit.

Victor mengeraskan rahangnya.

"Untuk apa?"

Pria tua itu tersenyum tipis, tapi jelas tidak nyaman.

"Dia bilang... ini akan dipakai oleh orang-orang terpilih'."

Hening.

Luke mengepalkan tangan kuat.

"Sial... sekte gila apa lagi ini..."

Alexander mengangkat liontin itu kembali, menatap ukiran kecil di bagian belakangnya.

The Lady Whitmore (ON GOING)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang