Bayangan Patah - Episode 25.
*----------*
Pagi Hari – Kediaman Alexander.
Isabella masih terkunci dalam diam. Sudah semalaman ia tidak keluar kamar. Ketukan demi ketukan, bujukan dari para pelayan bahkan Charles sendiri tak mampu mengusik dinding sunyi yang ia bangun di sekelilingnya.
Ia hanya terbaring, mata terbuka namun kosong. Tak menangis, tak bergerak. Seolah jiwanya telah tertinggal di suatu tempat semalam.
Tiba-tiba, suara ketukan di jendela membuatnya menoleh. Di luar, Victor berdiri dengan membawa setangkai bunga lili putih. Isabella membuka jendela tanpa berkata apa-apa. Victor masuk dengan ringan, lalu menyodorkan bunga itu.
Namun, tak ada senyum dari Isabella. Hanya mata redup dan wajah yang tak menunjukkan emosi.
"Kenapa kau datang? Kenapa kau masih peduli padaku?" suaranya serak, nyaris berbisik.
Victor menatapnya dengan tenang. "Tak ada alasan, aku hanya ingin berada di sisimu."
"Pergilah... Aku bahkan tidak yakin siapa diriku sekarang..." gumamnya, memalingkan wajah.
Victor hanya tersenyum kecil, lalu kembali pergi lewat jendela.
Isabella kini duduk di dekat jendela, memandangi dunia luar dengan pandangan sayu. Tangannya mencengkeram ujung gaunnya begitu erat, seolah ingin mencabik sesuatu yang tak terlihat rasa sesak yang mengendap dan tak pernah benar-benar pergi.
*----------*
Bar Oliver.
Bar masih lengang di pagi hari. Luke dan Hugo duduk berseberangan. Gelas-gelas alkohol menghiasi meja mereka, namun hanya Luke yang tampak menikmati.
Hugo terus menatap pria di hadapannya seorang yang tak lagi ia kenali.
"Kau tahu Victor mencarimu? Dan Antonio... dia akan membakarmu hidup-hidup setelah tau kau menyentuh Isabella."
Luke menyeringai.
"Bagus. Suruh mereka datang. Hidup terlalu membosankan kalau tak ada yang ingin membunuhku."
"Apa Isabella bagian dari permainan gilamu ini juga?"
"Si manis Isabella?" Luke meneguk minumannya. "Dia hanya pion yang sedang belajar menjadi ratu."
Hugo mendekat. Suaranya berubah dingin.
"Kalau kau berani melukai dia, aku sendiri yang akan menguburmu hidup-hidup, Luke."
Luke tak menjawab. Ia hanya bangkit, mengambil topengnya, dan berjalan pergi meninggalkan aroma bahaya yang mengendap di udara.
*----------*
Mansion Antonio.
Derap langkah cepat bergema di lorong rumah. Pintu depan terbuka dengan keras, menghantam dinding hingga suaranya menggema di seluruh ruangan.
Antonio baru tiba.
Mantelnya masih berdebu perjalanan, napasnya berat, dan wajahnya dipenuhi amarah bercampur kecemasan.
Emma yang berada di ruang depan segera berdiri menyambutnya.
“Tuan Antonio.."
Namun Antonio hanya memberinya anggukan singkat dan dingin, bahkan hampir tidak menatapnya.
Matanya menyapu seluruh ruangan.
Kosong.
Tak ada siapa pun.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Lady Whitmore (ON GOING)
Gizem / GerilimInggris, 1990. Keluarga Whitmore dikenal sebagai salah satu keluarga bangsawan paling terpandang. Namun sebuah kecelakaan tragis menghancurkan semuanya, menyisakan dua anak yang harus bertahan sendiri: Antonio dan Isabella. Di balik sikap lembut Ant...
