Duri dalam Dada - Episode 18
*----------*
Malam hari – Mansion Antonio
Di kamar gelap yang dipenuhi bayangan, Antonio berdiri diam di depan cermin. Luka kecil di dahinya memantul samar. Tangannya terangkat, menyentuh bekas luka itu bekas malam yang tak bisa ia lupakan.
Pintu terbuka perlahan.
Luke masuk mengenakan topeng barunya. Ia membawa sebotol wine tua dan dua gelas kristal. Meletakkan gelas di meja, ia menuang minuman dengan tenang, lalu menyerahkannya pada Antonio.
"Wine tahun 1842. Salah satu favoritku," kata Luke santai.
"Hentikan ocehanmu, Luke." Suara Antonio rendah, tapi tajam.
Luke tak gentar. "Kenapa? Hanya bicara soal anggur. Atau... luka lama itu mulai berdarah lagi?"
Tatapan Antonio berubah dingin. Luke tertawa pelan lalu keluar, meninggalkan atmosfer tegang yang menggumpal.
Tanpa berkata lagi, Antonio mengangkat tangannya dan memukul cermin. Berkali-kali. Kaca pecah berserakan. Darah mulai menetes dari jarinya, tapi wajahnya tetap dingin, nyaris kosong.
Tak lama kemudian, Emma masuk dengan langkah panik. Tapi sebelum ia bisa menyentuh pecahan kaca, Antonio menarik tangannya.
"Jangan sentuh, kau akan terluka."
Emma melihat luka berdarah itu. Ia meraih tangan Antonio, melepas syalnya, dan membalut luka itu hati-hati.
"Ini bisa infeksi. Aku akan ambil kotak obat"
"Tidak usah. Suruh Victor siapkan mobil. Kita ke dokter."
Luke tiba-tiba menyahut, "Aku mau ikut, nanti turunkan aku di suatu tempat"
*----------*
Kediaman Alexander.
Isabella membuka pintu. Seketika, wajahnya berubah. Ia mundur dua langkah.
"Kalian?!" desisnya, matanya langsung tertuju pada Antonio.
Antonio hanya menunjukkan tangannya yang dibalut kain.
"Aku butuh dokter."
Dengan tanpa izin, Antonio langsung masuk. Isabella hanya menatap punggungnya tajam, tapi tetap tak bisa berkata-kata.
Di dalam, Alexander muncul sambil tertawa wajahnya dipenuhi coretan lipstik, bukti ulah Giovanna.
"Aku tidak tahan lihat wajahmu, hapus dulu itu dan obati aku" ujar Antonio tanpa basa-basi.
Alexander mengangkat bahu. "Isabel saja. Aku sedang sibuk."
Isabella mendesah keras. "Serius? Luka seperti itu saja ke sini? Kau pikir aku punya waktu untuk itu?"
Meski menggerutu, Isabella tetap mengambil kotak obat. Ia mulai membersihkan luka Antonio dengan gerakan cepat dan dingin, tanpa memandang matanya.
Setelah selesai, Antonio menyentuh pundaknya dan langsung menariknya ke dalam pelukan.
Isabella kaku. Seluruh tubuhnya tegang.
"Aku tetap menyayangimu, Isabel... meski kau membenciku."
Isabel tidak membalas pelukan itu. Ia hanya menoleh pelan, menatap Antonio dengan mata dingin.
"Cinta macam apa yang menyisakan luka-luka seperti ini? Kalau itu caramu menyayangi, aku bersyukur membencimu."
Antonio menarik diri perlahan. Wajahnya tetap tenang. Tanpa kata lagi, ia keluar meninggalkan kediaman itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Lady Whitmore (ON GOING)
ActionLondon, 1900 Keluarga Whitmore pernah menjadi simbol kehormatan dan kekuasaan. Namun setelah sebuah kecelakaan tragis merenggut kedua orang tua mereka, hanya Antonio dan Isabella yang tersisa. Di mata semua orang, Antonio adalah kakak yang sempurna...
