Pertemuan

51 22 4
                                        

Pertemuan - Episode 30.

*----------*

Pagi Hari - Kediaman Alexander.

Cahaya matahari pagi menyusup masuk lewat celah tirai kamar Isabella. Suara ketukan pintu yang keras membangunkannya dari tidur.

Isabella membuka pintu dengan wajah kusut, mata masih setengah terbuka.

"Ada apa, Charles? Jangan ganggu aku kalau bukan hal penting" gumamnya tajam.

Charles menunduk sedikit, menyodorkan surat. "Surat dari kota Lerilla, Nona. Terkait tanah yang akan anda beli... sepertinya ada masalah serius."

Isabella menatap surat itu sekilas. Rahangnya mengeras.

"Tentu saja... selalu saja ada masalah. Bersiaplah, kita akan ke Lerilla hari ini."

"Saya akan kemasi koper Anda. Tapi... bagaimana dengan yang lainnya?" tanya Charles pelan.

Isabella memalingkan wajahnya.

"Aku tidak ingin mereka tahu. Ini urusanku."

Namun langkah Alexander terdengar dari ujung lorong. Ia menyipitkan mata curiga.

"Kenapa harus sendiri, Isabel? Lerilla itu kota yang indah. Anggap saja ini... liburan kecil keluarga" ucap Alexander sambil tersenyum tipis.

"Terserah kalian." Isabella menghela napas. "Victor?"

"Sudah pergi pagi-pagi sekali" jawab Hector dari balik tangga.

Isabella menatap kosong. Seolah hatinya tertinggal di balik langkah Victor.

*----------*

Siang Hari - Dermaga.

Empat pria berpakaian serba hitam menaiki kapal yang bergoyang diterpa angin laut. Antonio berdiri di depan, memandangi cakrawala dengan ekspresi gelap.

"Kita ini... berangkat misi atau benar-benar liburan, Bos?" tanya Luke sambil tersenyum sinis.

"Kau pikir aku ingin jalan-jalan dengan kalian?" balas Antonio dingin. "Anggap saja kita sedang menyamar."

Hugo tampak pucat, berkeringat. "Kau yakin... ini satu-satunya cara bos?"

"Kau mau muntah?" cibir Victor sambil menyodorkan kantong kertas.

Beberapa detik kemudian, Hugo muntah tanpa ampun. Luke hanya menyandarkan tubuhnya pada pagar kapal, menyalakan rokok.

"Teruskan saja itu, Luke," gumam Hugo, "sampai paru-parumu menghitam seperti hatimu."

Luke hanya tersenyum miring, lalu membuang puntung rokok ke laut.

*----------*

Malam Hari - Stasiun Lerilla.

Kereta api berhenti dengan decitan besi. Isabella turun lebih dulu, diikuti Alexander, Charles, dan Giovanna. Dua mobil listrik menanti.

"Kita akan menginap di villa malam ini" ujar Isabella.

*----------*

Villa.

Lampu-lampu taman menyala redup di sepanjang jalan batu yang mengarah ke bangunan villa tua itu. Cahaya keemasan memantul di dinding batu yang ditumbuhi sulur tanaman rambat, membuat bangunan itu terlihat seperti sesuatu yang keluar dari lukisan klasik.

The Lady Whitmore (ON GOING)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang