Dalam Bayangan - Episode 41.
*----------*
Kabut masih menyelimuti desa kecil di tepi hutan ketika mereka melangkah keluar dari pepohonan. Debu dan tanah basah menempel di pakaian mereka, napas berat dan waspada. Di kejauhan, beberapa rumah kayu sederhana terlihat, dikelilingi ladang dan pagar bambu tua.
Pria paruh baya itu menatap mereka sejenak, wajahnya menegang. "Aku... sudah menunjukkan jalannya," ucapnya pelan, suaranya berat. "Selebihnya... aku tidak mau ikut campur. Aku punya hidupku sendiri, dan ini... terlalu berbahaya bagiku."
Alexander menatapnya, sedikit kecewa tapi mengerti. "Kau yakin ini aman bagimu?"
Pria itu mengangguk singkat. "Aku akan baik-baik saja. Tapi kalian... hati-hati. Sekte itu tidak main-main. Jangan sampai mereka tahu kalian datang."
Dengan langkah mantap namun hati-hati, pria itu mulai menjauh, meninggalkan mereka di pinggir desa. Suara kakinya yang menapak di tanah berdebu perlahan hilang di balik pepohonan.
Victor menatap ke arah perginya pria itu "Baiklah... sekarang, kita harus lakukan ini sendiri. Tidak ada lagi yang bisa membantu."
Tiba-tiba, seorang wanita paruh baya muncul dari balik pohon, mendorong gerobak penuh sayuran. Matanya tajam, namun sorotannya menyimpan kesedihan mendalam. Ia berhenti, menatap mereka, luka-luka mereka masih terlihat jelas, darah menodai baju dan tangan mereka. Wajahnya menegang, waspada.
"Siapa kalian? Apa yang kalian lakukan di sini?" tanyanya, suaranya serak tapi tegas.
Luke menatap wanita itu, matanya menyipit. "Kami... mencari seseorang" ucapnya tegas, tangan sudah bergerak ke pinggang, berusaha menggapai senjatanya.
"Tunggu!" Alexander menepuk bahu Luke dengan cepat, matanya serius. "Tidak sekarang. Jika kau menembakkan senjata, semua orang di desa ini akan tahu kita di sini."
Luke menarik tangannya perlahan, napasnya berat, tapi matanya masih menatap wanita paruh baya itu dengan waspada.
Wanita itu mengerutkan dahi, kemudian menunduk sebentar, menatap tanah. "Sekali kalian masuk ke wilayah mereka... jalan keluar tidaklah mudah. Tapi... saya tahu jalan rahasia yang bisa melewati patroli mereka. Mereka sudah... mengambil terlalu banyak dari orang-orang desa. Keluarga saya... termasuk korban dari kekejaman sekte ini."
Alexander mengangguk pelan. "Kalau begitu, tunjukkan jalannya. Kami tidak punya banyak waktu."
Wanita itu menatap mereka sejenak, lalu menghela napas panjang. "Sebelum itu... masuklah ke rumah saya. Kalian kotor, berdarah, dan pasti kelelahan. Aku bisa membersihkan luka-luka kalian dan memberi kalian makan. Setelah itu, aku akan tunjukkan jalur rahasia itu."
Tanpa menunggu jawaban, ia membimbing mereka ke sebuah rumah kayu kecil di pinggir desa. Di dalam, suasana hangat dan sederhana.
*----------*
Siang hari - Rumah Kayu.
Di dalam rumah kayu, suasananya hangat namun sederhana. Wanita paruh baya itu mengambil ember berisi air hangat dan beberapa kain bersih. Suara air berdesir di ember bergabung dengan aroma rebusan sayuran di dapur, menciptakan suasana yang tenang.
"Duduk di sini," katanya sambil menunjuk kursi kayu dekat perapian. "Aku akan membersihkan luka-luka kalian."
Luke menatapnya waspada, tapi perlahan duduk, sementara Alexander, Hector, Charles dan Victor mengikuti arahan itu. Tangan dan baju mereka yang kotor serta berlumuran darah dibersihkan dengan hati-hati. Wanita itu bekerja cepat tapi teliti, matanya sesekali menyapu ruangan, seolah memastikan tidak ada yang mengintai dari luar.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Lady Whitmore (ON GOING)
AcciónLondon, 1900 Keluarga Whitmore pernah menjadi simbol kehormatan dan kekuasaan. Namun setelah sebuah kecelakaan tragis merenggut kedua orang tua mereka, hanya Antonio dan Isabella yang tersisa. Di mata semua orang, Antonio adalah kakak yang sempurna...
