Garis Tipis - Episode 42
*----------*
Malam hari - Villa.
Gelap malam menyelimuti ruangan. Hanya cahaya lampu temaram dari lorong dan bulan yang menembus jendela yang menerangi kamar. Antonio membuka mata perlahan, tubuhnya terasa lemah, tapi ingatannya segera kembali, peluru, operasi, dan Isabel. Panik perlahan muncul saat ia menyadari ruang yang seharusnya ia tuju kosong.
"Isabel..." bisiknya serak, napasnya berat. Tubuhnya goyah, tapi tekadnya lebih kuat dari rasa sakit. Antonio mencoba bangkit, menahan nyeri di setiap gerakan, dan berusaha menuju pintu, berniat keluar mencari Isabel.
Namun sebelum ia sempat menuruni tangga, Giovanna dan beberapa pelayan muncul, menutup jalannya dengan wajah tegas di tengah gelap.
"Antonio, jangan!" seru Giovanna, nadanya penuh kekhawatiran. "Kau baru saja sadar dari pingsan, kau belum siap!"
Antonio menatap mereka, matanya menyala, napasnya memburu. "Aku tidak peduli! Aku harus menemukannya! Minggir!" suaranya tegas, tubuhnya gemetar karena rasa sakit dan kemarahan.
Salah satu pelayan mencoba menahan lengannya, tapi Antonio menggeleng, mendorong pelayan itu jatuh ke lantai.
Tiba-tiba, langkah cepat terdengar dari lorong gelap. Hugo muncul, wajahnya serius dan fokus, satu tangan menyingkirkan pelayan yang menghalangi, tangan lainnya menatap Antonio dengan tegas.
"Kau tidak bisa pergi sekarang, Antonio," kata Hugo, suaranya tegas tapi rendah, menahan kemarahan di matanya.
Antonio menepis Hugo, berusaha maju. "Aku harus menemukannya! Aku tidak peduli!"
Hugo menghela napas, menundukkan tubuhnya sedikit, lalu dengan satu gerakan cepat dan terkontrol, ia menepuk sisi kepala Antonio. Bunyi benturan terdengar samar, dan tubuh Antonio goyah.
"Antonio!" Giovanna berseru, mencoba menahan Hugo, tapi terlambat.
Tubuh Antonio ambruk ke lantai, napasnya tercekat, matanya menatap Hugo sejenak penuh kebingungan dan kemarahan, sebelum akhirnya kehilangan kesadaran.
Hugo menunduk, memeriksa Antonio sejenak, memastikan ia aman. "Maaf... ini satu-satunya cara," bisiknya pelan.
Giovanna mendekat, menatap Antonio yang kini tak sadarkan diri. "Dia akan baik-baik saja... kan?"
Hugo mengangkat alis, menatap tubuh Antonio yang jatuh. "Dia pasti akan bangun nanti dan marah. Lebih baik kita memikirkan cara menyelamatkan diri setelah dia sadar."
Gelap malam tetap menyelimuti villa, hanya terdengar napas Antonio yang berat dan sunyi lorong. Hugo dan Giovanna saling bertukar pandang, sadar bahwa malam itu adalah awal dari misi berbahaya untuk menemukan Isabel.
Giovanna menghela napas, menatap Antonio yang tak sadarkan diri. "Kalau dia sadar kembali... bagaimana?"
Hugo menatap serius sejenak, lalu tersenyum tipis. "Kalau dia bangun lagi... mungkin aku harus memukulnya lagi. Lebih aman begitu."
*----------*
Isabel menatap sekeliling kamar yang sempit, matanya mencari celah. Pintu selalu terkunci, tapi ada celah kecil di engsel yang bisa ia manfaatkan. Napasnya pelan, namun terukur. Setiap langkah harus hati-hati, setiap gerakan diam-diam.
Tiba-tiba, suara langkah terdengar dari koridor. Dua pengawal muncul, berdiri di depan pintu kamar. Isabel menelan ludah, tubuhnya menegang. Ia menahan napas, lalu pura-pura memegangi dadanya, mengerang pelan.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Lady Whitmore (ON GOING)
AcciónLondon, 1900 Keluarga Whitmore pernah menjadi simbol kehormatan dan kekuasaan. Namun setelah sebuah kecelakaan tragis merenggut kedua orang tua mereka, hanya Antonio dan Isabella yang tersisa. Di mata semua orang, Antonio adalah kakak yang sempurna...
