Malam Penculikan - Episode 34
*----------*
Villa – Siang Hari.
Hujan tipis turun di luar jendela. Di ruang kerja Isabella, lampu meja menyala redup menerangi beberapa dokumen yang berserakan.
Isabella berdiri di dekat jendela, memandang keluar dengan pikiran penuh.
Antonio duduk di kursi sambil membaca ulang surat dari distrik yang tadi mereka temukan.
"Jika tanda tangan itu benar-benar dipalsukan" ujar Antonio pelan, "berarti seseorang ingin memastikan tanah itu jatuh ke tangan Evelyn."
Isabella terdiam sejenak, lalu berkata pelan, "Padahal menurut Tuan Albert... di sana hanya ada rumah tua."
Antonio mengangkat kepalanya.
Isabella menoleh menatapnya.
"Kau ingat apa yang dia katakan waktu kita menemuinya?" lanjut Isabella.
"Rumah itu kosong. Tidak pernah benar-benar ditempati."
Antonio menyandarkan tubuhnya ke kursi, memikirkan hal itu.
"Lalu kenapa seseorang sampai membunuhnya hanya untuk tanah yang berisi rumah kosong?"
Isabella mengepalkan tangannya perlahan.
"Itu berarti... rumah itu bukan sekadar rumah tua."
Keheningan jatuh di ruangan itu.
Antonio akhirnya berdiri.
"Kita harus melihatnya sendiri."
Isabella menatap kakaknya.
"Rumah itu?"
Antonio mengangguk pelan.
"Semakin lama kita menunggu, semakin besar kemungkinan seseorang datang ke sana lebih dulu."
Isabella mengambil mantel yang tergantung di kursi.
Matanya tajam, penuh tekad.
"Kalau begitu hari ini juga kita pergi kesana."
Ia menatap Antonio serius.
"Aku ingin tahu... apa yang sebenarnya membuat Evelyn begitu tertarik untuk memiliki tanah itu."
*----------*
Rumah kosong– Malam hari.
Sebuah mobil berhenti di depan gerbang kayu tua yang sudah miring. Rumput liar tumbuh tinggi di sepanjang jalan masuk, seolah tempat itu sudah lama tidak benar-benar dihuni.
Isabella turun lebih dulu.
Angin sore berhembus dingin, membuat daun-daun tua bergesekan pelan. Di kejauhan berdiri sebuah rumah kayu tua. Catnya sudah memudar, dan sebagian jendelanya tertutup tirai lusuh.
Antonio berdiri di samping Isabella, menatap bangunan itu.
"Jadi ini rumah yang diperebutkan Evelyn" gumamnya.
Isabella berjalan mendekat perlahan. Langkahnya berhenti di depan pintu utama.
Ia menyentuh gagang pintu kayu yang dingin.
"Menurut Albert... rumah ini hampir tidak pernah dihuni."
Antonio mengamati sekeliling halaman.
"Aneh" katanya pelan.
Isabella menoleh. "Apa?"
Antonio menunjuk ke arah pintu.
"Kalau benar jarang didatangi orang... kenapa bekas tanah di depan pintu masih terlihat baru?"
KAMU SEDANG MEMBACA
The Lady Whitmore (ON GOING)
Misterio / SuspensoInggris, 1990. Keluarga Whitmore dikenal sebagai salah satu keluarga bangsawan paling terpandang. Namun sebuah kecelakaan tragis menghancurkan semuanya, menyisakan dua anak yang harus bertahan sendiri: Antonio dan Isabella. Di balik sikap lembut Ant...
