Tawa dan Luka

69 33 48
                                        

Tawa dan Luka - Episode 27

*----------*

Pagi hari - Kediaman Victor.

Pagi itu terasa tenang. Terlalu tenang, sampai membuat Isabella lupa bahwa kedamaian di tempat ini hanyalah sementara.

Isabella masih belum bangun dari tidurnya, selimut masih menyelimuti seluruh tubuhnya. Di sampingnya, tempat tidur Victor sudah kosong namun bekas hangatnya masih terasa samar di bantal.

Aroma masakan yang lembut menyelinap masuk ke kamar, membangunkan kesadarannya perlahan. Mata biru Isabella mengerjap malas, tubuhnya menggeliat kecil sebelum akhirnya ia bangun dan duduk di tepi ranjang.

Tanpa suara, ia berjalan menuju cermin. Jemarinya menyisir rambut panjang keemasan miliknya. Rambut yang dulu sering dipuji karena kilau bangsawannya... tapi bagi Isabella, itu tak lebih dari simbol kutukan.

Tiba-tiba, kilasan masa lalu menghantam tanpa peringatan. Wajah ibunya yang penuh ketakutan, tangan kakaknya yang berdarah, tawa pria yang menghancurkan segalanya. Semuanya kabur.

Tangannya mulai gemetar.

Isabella memandangi pantulan dirinya di cermin dengan napas tak teratur. Tangan kirinya mencengkeram helai rambutnya, semakin lama semakin kuat, sampai ujung-ujungnya terasa perih.

Dan saat jeritan itu pecah dari tenggorokannya, Victor yang sedang menyiapkan sarapan langsung berlari ke atas.

"Isabel!"

Ia menemukan gadis itu terduduk di depan cermin, menarik rambutnya sendiri, air mata berjatuhan tanpa suara. Tubuhnya gemetar hebat, napasnya tak beraturan.

Victor tak berpikir dua kali. Ia berlari dan menarik kedua tangan Isabella, mencoba menghentikannya.

"Isabel, kumohon tenanglah! Ada apa denganmu? Dengarkan aku, tenangkan dirimu dulu dan ceritakan apa yang terjadi!" ucapnya panik namun lembut.

Namun Isabella justru meronta. "Aku benci rambut ini! Ini... ini yang membuat semuanya hancur! Aku muak melihat diriku! Victor, potong saja rambutku ini! POTONG!! Aku tidak pantas memiliki rambut seperti ini!"

Victor memeluknya erat, menahan tubuhnya yang gemetar.

"Tidak, Isabella. Rambut itu bukan kutukan. Itu bagian dari dirimu. Aku melihat perempuan yang kuat dan berani bukan gadis bangsawan manja."

"Tapi aku tidak pantas... aku bahkan bukan siapa-siapa. Tanpa harta, tanpa darah bangsawan, aku tidak punya apa-apa, Victor..."

Victor menarik wajahnya agar bisa menatap mata Isabella.

"Kau salah."

Isabella terdiam, terisak pelan.

"Apa kau akan terus berada di sisiku? Meskipun aku tidak memiliki darah bangsawan, harta, atau kekuasaan?" tanyanya pelan, nyaris seperti pengakuan.

Victor tak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya memeluknya lebih erat.

Namun akhirnya, ia berbisik di telinganya, "Apa kurang jelas bagimu? Mau apapun yang terjadi, aku akan terus bersamamu, Isabel. Meski aku tidak tahu bagaimana cara mu memandangku... tapi aku tahu bagaimana aku memandangmu. Dan itu tidak akan berubah."

Isabella menutup mata. Untuk pertama kalinya setelah lama, ia menangis... bukan karena luka, tapi karena ada seseorang yang benar-benar ingin tinggal meski seluruh dunia memutuskan untuk pergi.

*----------*

Menjelang Sore.

Langit mulai menggelap meski matahari belum sepenuhnya tenggelam. Awan tebal menggantung di atas langit, seolah menjadi pertanda bahwa badai tak hanya datang dari cuaca, tapi juga dari konflik yang akan segera pecah.

The Lady Whitmore (ON GOING)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang