Luka yang Terlupakan - Episode 22.
*----------*
Kediaman Alexander – Ruang Rahasia.
Ruangan itu sunyi, hanya diterangi cahaya temaram dari lampu gantung tua yang bergoyang perlahan, memantulkan bayangan yang menari di dinding. Alexander duduk bersandar pada kursi kayu, satu tangan memegang segelas anggur, tatapannya tajam menembus kegelapan. Hector berdiri di dekat dinding, matanya menelusuri peta kekuasaan Antonio yang terpajang lebar, jari-jarinya menapak tegang di atas meja.
"Antonio meninggalkan rumahnya pagi ini. Salah satu orangku melihatnya pergi sendirian. Ini akan jadi waktu yang tepat untuk menggulingkan salah satu markasnya," ucap Alexander, nada suaranya datar tapi setiap kata dipenuhi perhitungan. "Tapi jangan sampai Isabel tahu. Aku tak ingin dia bertindak gegabah dan mengacaukan rencana kita."
Hector mencondongkan tubuh, menunjuk lingkaran merah di peta. "Dan jangan remehkan pengikut Antonio. Terutama lelaki bertopeng itu... dia licik, selalu satu langkah di depan kita."
Alexander mengangkat segelas anggurnya, menatap Hector dengan senyum tipis penuh keyakinan. "Luke? Tenang saja. Biarkan aku yang mengurusnya. Semua akan berjalan sesuai rencana."
Ruangan itu kembali sunyi, hanya suara detak jam tua yang terdengar, seolah menghitung mundur ketegangan yang akan segera meletus.
*----------*
Kamar Alexander.
Setelah pertemuan itu, Alexander kembali ke kamarnya. Ia menutup pintu perlahan, menarik napas panjang, lalu membuka kemejanya dengan hati-hati. Perban di bahu kirinya terlihat kusut.
Dengan gerakan tenang, ia membuka perban itu, memperlihatkan luka tembak yang belum sepenuhnya sembuh. Darah kering membekas di kulitnya, dan setiap gerakan membuatnya menahan napas. Ia membersihkan lukanya dengan perlahan, menutupi rasa sakit yang masih membakar. Setelah itu, ia membalut kembali luka itu dengan kain bersih, rapi namun tegang.
"Aku lelah dengan permainan ini," bisiknya lirih, suara penuh kepenatan tapi berlapis ketegasan.
"Sudah waktunya mengakhirinya."
*----------*
Flashback.
Isabel menarik pelatuk pistolnya. Peluru menembus bahu lelaki bertopeng itu, dan pria itu tersungkur sejenak. Namun sebelum ia sempat menyadari, sosok itu meloncat keluar jendela dan menghilang ditelan kegelapan malam.
Di balik bayangan, tersingkap kenyataan yang menegangkan itu bukan Luke, tapi Alexander yang menyamar. Dengan napas terengah-engah, ia menuruni tali dari jendela lain, menyelinap masuk kembali ke rumah. Lorong gelap membungkusnya, satu tangan menekan luka yang berdarah, wajahnya menegang tapi matanya tetap waspada.
Tiba-tiba, suara asing memecah kesunyian. Dari ujung lorong, Luke yang asli muncul, topeng setengah wajah menutupi ekspresinya. "Bagaimana jika Isabel tahu pamannya sendiri menyamar jadi musuhnya?" Suara itu berat, menimbulkan getaran di udara.
Alexander berhenti, tubuhnya tegang, jantungnya berdetak kencang. "Senang bertemu dengan mu lagi" jawabnya, suaranya datar tapi setiap kata mengandung ketegangan yang mencekam.
Luke melangkah maju, mata menembus kegelapan. "Apa yang kau inginkan sebenarnya?"
Alexander menatap Luke, matanya menilai gerakan lawannya di lorong gelap. Napas mereka bergema di antara bayangan, setiap detik terasa menekan.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Lady Whitmore (ON GOING)
Mistério / SuspenseInggris, 1990. Keluarga Whitmore dikenal sebagai salah satu keluarga bangsawan paling terpandang. Namun sebuah kecelakaan tragis menghancurkan semuanya, menyisakan dua anak yang harus bertahan sendiri: Antonio dan Isabella. Di balik sikap lembut Ant...
