Dibawah Hujan

76 34 64
                                        

Dibawah Hujan - Episode 26.

*----------*

Isabella berdiri beberapa langkah dari Antonio. Rambut emasnya yang panjang kini menempel basah di wajahnya, berkilau samar di bawah kilat yang sesekali menyambar langit.

Namun yang paling terasa bukan dinginnya hujan, melainkan panasnya air mata yang terus mengalir di pipinya.

Matanya menatap Antonio dengan tajam.
Penuh luka.

“Jadi maksudmu…” suaranya bergetar, nyaris pecah, “aku hanya… dibuang?”
Antonio tidak bergerak.

Hujan mengalir di wajahnya, tapi ia tetap diam.

Isabella tertawa kecil, tawa yang lebih terdengar seperti sesuatu yang patah di dalam dirinya.

“Aku seharusnya tahu sejak awal."

Ia menatap tanah sesaat sebelum kembali menatap Antonio.

“Kalian menemukanku di jalanan seperti anjing liar.”

Kata-katanya keluar pelan, tapi tajam.
“Kotor, kelaparan… dan tak punya siapa-siapa.”

Antonio menegang.

Isabella melanjutkan dengan suara yang semakin bergetar.

“Dan sejak hari itu… orangtuamu selalu memandangku seperti kesalahan.”

Ia menyentuh rambutnya sendiri yang basah. Rambut emas itu jatuh di bahunya.

“Mereka bilang rambut seperti ini hanya pantas dimiliki bangsawan.”

Ia tertawa getir.

“Bukan oleh gadis jalanan yang bahkan tidak tahu siapa keluarganya.”

Angin berembus keras, mengibaskan gaunnya yang basah.

Isabella menatap Antonio dengan mata yang kini benar-benar penuh luka.

“Jadi katakan padaku…” Suaranya hampir pecah.

“Apakah aku hanya kesalahan yang kalian pungut dari jalanan?”

Antonio menunduk. Tangannya mengepal.

“Aku tidak pernah membencimu, Isabel.”
Suaranya rendah.

Namun bagi Isabella, itu terdengar terlalu terlambat. Isabella menggeleng pelan.

Air matanya jatuh tanpa bisa ia hentikan.
“Lalu kenapa…” bisiknya lirih, hampir tenggelam oleh suara hujan, “aku selalu merasa seperti duri di antara kalian?”
Sunyi.

Hanya suara hujan yang memukul tanah.

Tak ada jawaban.

Beberapa detik berlalu.

Isabella menatap Antonio untuk terakhir kalinya. Di matanya tidak ada lagi harapan. Hanya luka yang terlalu lama ia pendam.

Tanpa berkata apa-apa lagi, ia berbalik. Lalu berlari menembus hujan.

Antonio tetap berdiri di tempatnya.

Membeku. Ia hanya bisa melihat Isabella semakin jauh di jalan berlumpur.

Seolah gadis itu sedang berlari menjauh dari seluruh hidup yang pernah diberikan padanya, dan dari rumah yang seharusnya menjadi tempatnya pulang.

*----------*

Senja – Di Tengah Hujan

Isabella berjalan sendirian, langkahnya gontai, gaunnya sudah lusuh dan berat karena air hujan. Langit begitu muram, mencerminkan hatinya. Ia tak tahu ke mana harus pergi. Ia tak ingin pulang. Ia bahkan tak yakin punya tempat untuk pulang.

The Lady Whitmore (ON GOING)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang