Luka yang Dikubur

83 45 54
                                        

Luka yang Dikubur - Episode 16

*----------*

Pagi hari - Kediaman Finder.

Langkah kaki Lisa menggema pelan di koridor panjang yang redup. Ketika ia membuka pintu ruangan di ujung lorong, aroma lembap dan udara dingin menyambutnya. Tirai-tirai tebal menghalangi cahaya matahari, membuat ruangan itu tampak seperti penjara.

Dengan satu sentakan, Lisa membuka tirai jendela. Sinar mentari langsung menerobos masuk, menerangi tubuh kurus seorang wanita yang tertidur di lantai, salah satu kakinya terantai ke dinding. Rambutnya kusut, kulitnya pucat. Itu Celia, adiknya sendiri.

Celia terbangun perlahan, matanya merah dan penuh kebencian. Ia memandangi Lisa seolah hendak membunuhnya dengan tatapan itu saja.

Cornelia meletakkan nampan berisi makanan dan air di dekatnya. "Makanlah sebelum aku berubah pikiran" ujarnya dingin.

Celia tidak menjawab. Dengan satu gerakan cepat, ia menyiramkan air itu ke wajah Lisa.

Lisa tersentak, matanya membelalak marah. "Dasar tidak tahu diri!" raungnya sambil menarik rambut Celia dengan brutal.

"Aku seharusnya membiarkanmu mati kelaparan di sini!" teriak Lisa.

Dengan sekuat tenaga, Celia menggigit lengan kakaknya hingga darah menetes deras. Napasnya terengah. "Haruskah aku berterima kasih pada wanita jalang yang menghancurkan hidupku?! Kau dan suamimu telah mencuri segalanya dariku, harta suamiku, anakku... dan kini hidupku?!"

Lisa yang tersulut emosi mengambil vas bunga di meja, menghantamkan ke kepala Celia dengan keras. Darah memercik. Tubuh Celia jatuh lunglai, namun belum pingsan. Dalam kebengisan yang memuncak, Lisa mengambil pecahan vas dan menikam perut adiknya berulang kali, penuh amarah dan histeria.

Ketika akhirnya tangannya berhenti bergerak, darah mengalir membasahi lantai. Lisa berdiri terdiam, tubuhnya gemetar. Matanya menatap kosong ke arah tangannya yang berlumuran darah.

"Apa yang telah aku lakukan...?" bisiknya panik.

Ia segera memanggil pelayan-pelayan setia dan memerintahkan mereka secara rahasia "Bawa dia ke ruang bawah tanah. Jangan biarkan siapa pun tahu. Aku akan menyusul setelah mengganti pakaian."

Sambil terburu-buru, ia membersihkan darah dari tangannya dan mengganti gaun. Gaun yang ternoda darah itu ia masukkan ke dalam keranjang.

Di ruang bawah tanah, ia menyulut obor untuk menerangi jalan. Lantai penuh noda darah, bau anyir menyengat hidung. Saat ia hampir terpeleset karena menginjak sesuatu ternyata itu rambut seorang wanita. Ia tersentak, menahan muntah.

Akhirnya mereka mencapai sebuah pintu rahasia yang tembus ke hutan kecil di belakang kediaman.

"Galilah!" perintah Lisa dengan suara bergetar.

Jasad Celia dan gaun berdarah itu dikubur diam-diam. Lisa berdiri menjauh, menggigit bibirnya, enggan menatap tanah basah itu. Setelah semua selesai, ia menyuruh pelayan pergi.

Ia menatap kuburan itu lalu berkata lirih, "Sekarang tak akan ada yang tahu... bahkan Alice pun tak akan pernah tahu bagaimana ibunya mati."

Suara tepuk tangan terdengar di udara yang hening.

Dari atas pohon, turun seorang pria mengenakan topeng putih polos. Lisa menoleh kaget.

"Siapa kau?!" teriaknya.

"Aku hanya penonton yang menikmati pertunjukan," ucap pria itu Luke. Ia menurunkan topengnya sesaat, membuat Lisa membeku.

"Aku tahu wajah itu... tidak mungkin..."

The Lady Whitmore (ON GOING)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang