Ritual Dimulai

14 11 9
                                        


Ritual Dimulai- Episode 40.

*----------*

Victor menatap sekeliling, napasnya tenang namun matanya bergerak cepat mengikuti bayangan-bayangan di antara pepohonan. Luke di belakangnya, tangannya masih memegang pisau, siap menghadapi ancaman. Alexander melangkah di depan, napasnya teratur, namun rahang menegang.

Tanpa peringatan, dari balik semak dan pepohonan, bayangan-bayangan muncul. Anak buah Evelyn, berpakaian gelap, wajah tertutup, muncul seolah meluncur dari tanah itu sendiri. Mereka mengelilingi kelompok itu dengan kecepatan yang mengejutkan, gerakan mereka terkoordinasi.

Hector menoleh cepat ke arah pria tua yang memandu mereka, matanya menatap tajam. "Sembunyi!" serunya tegas.

Luke mencabut pisaunya lebih erat, langkahnya ringan namun pasti. "Ini pasti akan menyenangkan, sudah lama aku tidak membunuh," gumamnya dingin, matanya menyapu setiap bayangan gelap di antara pepohonan.

Anak buah Evelyn menyerang sekaligus. Seorang pria melompat ke arah Alexander, pisau terangkat tinggi. Alexander menangkis dengan tangan kosong, suara logam bergesekan terdengar tajam. Luka robek di lengannya, darah menetes ke tanah lembap, tapi ia tetap maju. Dengan tendangan kuat, ia membanting lawannya ke semak, ranting patah bersuara nyaring.

Victor bergerak seperti bayangan, setiap langkah presisi. Ia menendang seorang penyerang ke batang pohon. Tubuh itu terpental keras, ranting menusuk punggungnya. Bayangan lain menyerang dari samping, tapi Victor memutar tubuhnya, mengunci lawan dengan pergelangan tangan, menekannya ke tanah, suara tulang retak terdengar jelas.

Luke melesat ke depan, pisau di tangan. Setiap gerakannya presisi dan cepat, menusuk, menebas, menahan lawan sebelum mereka sempat menyerang. Seorang pria jatuh, tangan Luke masih menahan, pisau menancap di bahunya, darah memercik ke tanah basah.

Hector dan Charles tak tinggal diam. Hector menebas seorang lawan dengan kayu panjang yang diambil dari tanah; suara tulang patah menahan jeritan. Charles, walau gugup, menembakkan revolver dari pinggangnya. Tembakan bergema, beberapa anak buah Evelyn tersungkur, darah menodai dedaunan.

Tetapi bayangan terus muncul dari setiap sudut hutan, menyerang dari atas dan bawah. Setiap serangan memaksa kelompok itu bertahan mati-matian.

Luke mengangguk. Dengan satu gerakan cepat, ia menusuk pisau ke arah lawan lain, melompat mundur sambil menyeretnya ke tanah dan mengamankannya. Victor menendang ranting kering ke arah bayangan lain, menciptakan jeda beberapa detik. Hector memanfaatkan celah itu, menyerang lawan tersisa dengan kekuatan penuh.

Pertarungan itu brutal. Darah menetes, tubuh-tubuh terjatuh, ranting patah, dan jeritan bergema di antara pepohonan. Kabut pagi berubah menjadi pekat karena debu, tanah basah, dan percikan darah.

Ketika anak buah Evelyn akhirnya mundur, tidak ada yang tahu berapa lama pertarungan itu berlangsung. Charles, Luke, Victor, Alexander, dan Hector berdiri terengah-engah, tubuh kotor dan penuh luka, pakaian sobek, berlumuran darah lawan. Napas mereka tersengal, tapi tatapan tetap tajam dan dingin, hutan itu kini sunyi, hanya menyisakan jejak kekacauan yang baru saja terjadi.

*----------*

Isabel dibawa melangkah perlahan ke ruang makan yang luas. Cahaya lampu gantung kuning memantul di lantai kayu, membentuk bayangan panjang yang ikut bergerak seiring langkahnya. Tangan Isabel masih terikat rantai di pergelangan, suara logam berderak setiap kali ia melangkah, menambah rasa terperangkap yang menekan dada.

Orang-orang yang mengawal di belakangnya berjalan dengan hati-hati, menahan Isabel agar tidak melawan. Namun ia tidak takut. Bahkan rantai itu, yang seharusnya mengekangnya, justru menyalakan api kemarahannya lebih besar.

The Lady Whitmore (ON GOING)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang