Luka Yang Kita Bagi

79 29 56
                                        

Luka Yang Kita Bagi - Episode 29


*----------*

Isabella menatap hidangan di hadapannya dengan pandangan kosong. Suasana makan malam bersama keluarga Whitmore seharusnya terasa hangat... tapi hatinya sesak, terlalu penuh dengan perasaan yang tak tertata.

"Aku sedang tidak berselera makan. Aku akan beristirahat dulu" ucap Isabella tanpa menoleh. Suaranya dingin, namun rapuh.

Ia berdiri dan meninggalkan meja makan. Victor yang sedari tadi memperhatikannya dengan cemas, langsung meletakkan anak anjing kecil di pangkuannya dan menyusul Isabella.

"Isabel, tunggu!" serunya pelan namun tegas.

Tapi pintu kamar lebih dulu tertutup di hadapannya. Victor menghela napas panjang, berdiri di depan pintu dengan ragu. Ia mengangkat tangannya, mengetuk pelan.

"Isabel, apa ada yang membuatmu tidak nyaman?" tanyanya, suaranya lembut, penuh harap.

Hening.

Ia nyaris berbalik pergi ketika akhirnya terdengar suara dari balik pintu.

"Semua ingatanku tentangnya tidak bisa hilang... Aku benci diriku yang terus saja merindukannya!" teriak Isabel dari dalam.

Victor menelan ludah. "Lupakan semua kenangan kalian... Aku akan selalu berada di sisimu. Aku janji akan membantumu."

Hening kembali. Tapi kali ini, pintu terbuka perlahan. Isabella berdiri di ambang pintu, air mata menggenang di matanya. Ia langsung memeluk Victor.

"Apa aku... sangat menyedihkan?" tanyanya nyaris berbisik.

Victor membalas pelukan itu, membelai lembut rambut Isabel. "Kau tidak sendiri. Aku akan bantu kau keluar dari semuanya."

*----------*

Mansion Antonio.

Luke menembakkan peluru demi peluru ke langit.

Dor!

Dor!

Dor!

Burung-burung yang dilepaskan beterbangan bebas di udara senja.

Tak satu pun jatuh.

Luke menurunkan pistolnya dengan rahang mengeras. Tangannya bergetar.

Ia seorang penembak jitu yang tak pernah meleset, kini bahkan tak mampu menjatuhkan satu burung pun. Bukan karena tangannya lemah, melainkan karena pikirannya kacau.

"Luke! Kau kenapa?"

Hugo muncul dari balik pepohonan, napasnya sedikit terengah.

Luke tidak menjawab.

Ia hanya menatap langit beberapa detik, lalu tiba-tiba melempar pistol itu ke tanah dengan kasar.

"Persetan..."

Tanpa menoleh lagi, ia berjalan pergi. Langkahnya berat, bahunya tegang, matanya menyala oleh emosi yang tak terucapkan.

Di koridor, ia hampir menabrak seseorang.

Antonio.

"Kau lihat Victor?" tanya Antonio santai. "Dia belum kembali."

Kalimat itu seperti menyulut bara di dada Luke.

The Lady Whitmore (ON GOING)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang